SEMINAR DAN WORKSHOP IGI DI SELAYAR DITINGGAL PESERTA

0
764

Sharing and growing together merupakan soft skill yang sangat sakral bagi TIM pelatih IGI, tanpanya perjalanan IGI akan seperti organisasi yang hanya sekedar “nimbrung keren atas nama guru”.
Ketentuan mutlak bergabung TIM pelatih di IGI harus punya “jiwa IGI”, bukan hanya sekedar punya kompetensi yang mumpuni, menguasai berbagai metode, bahkan punya IQ yang lebih tinggi (hard skill), tetapi lebih diutamakan harus punya soft skill, seperti konsep diri, ikhlas dan tentunya spirit sharing and growing together tersebut.
Dikala para PNS menikmati “hari merdeka” selama 3 hari, TIM IGI bergerak menuju kabupaten paling selatan di Sulawesi. Kepulauan Selayar merupakan jadwal selanjutnya membagi-bagi ilmu, dihadiri kurang lebih 150 orang guru dari berbagai sekolah mulai hari Sabtu tanggal 22 April 2017 sampai 24 April 2017.


TIM yang bergerak ini menggunakan biaya swadaya (sendiri), dikordinir H. Anshar Syukur, Sekretaris IGI Sul Sel sekaligus ketua program, beserta bpk/ibu Basman Tompo (Ketua pusat IGMP Fisika), Arfiany Babay (Finalis Inobel beberapa tahun berturut-turut), Zaenal Lanto (The winner My Teacher My Hero tahun 2016), Imran Rosyadi (kordinator TIM pelatih Nasional IGI wil SulSel), Idha Haryani (narasumber e-training Seamolec).
Ternyata disela kegiatan pada hari pertama, ada guru yang memilih memutuskan meninggalkan kegiatan, alasannya cukup simple tapi unik.
Saat guru tersebut mendengarkan arahan dari Ketua Program “10.000 Inovasi Guru” sekaligus Sekretaris Wilayah IGI SulSel, perihal ketentuan seminar dan workshop. 

Guru tersebut berucap “barusan saya ikut kegiatan ini, harus ada hasil kerjanya baru dapat sertifikat, biasanya hanya duduk 2 – 3 jam sudah bisa langsung dapat sertifikat seminar atau workshop”, kemudian sang guru langsung mengambil helmnya, mengajak teman lainnya dan meninggalkan lokasi kegiatan. 
Apa gerangan arahan ketua program, sehingga kegiatan ditinggal oleh sang guru ?
Ternyata… ketua program dan TIM yang baru saja sandar di dermaga Pammatata dan langsung menuju aula Kementerian Agama Kepulauan Selayar, memberikan arahan ketentuan workshop, bahwa setiap peserta akan mendapatkan sertifikat setelah menyetorkan hasil karyanya sesuai kanal workshop yang diikutinya, yang dimana beberapa inovasi tersebut akan di masukkan ke dalam konten e-learning aplikasi e-panrita. 
Sikap sang guru tersebut, menjadi suatu “problem serius” saat ini dan IGI.  

Zona kenyamanan guru dan mungkin organisasi lainnya memang terusik eleh eksistensi IGI dalam kiprahnya meningkatkan kompetensi Guru. 
Namun itu bukanlah suatu halangan, namun merupakan sebuah tantangan untuk meraih peluang yang masih banyak tergantung di langit pendidikan Indonesia. 
Walaupun sampai saat ini tanpa dukungan APBN dan APBD kegiatan IGI terus aktif dan masif diberbagai daerah seantero negeri. Namun komitmen IGI mencerdaskan bangsa mendapat lirikan dari berbagai pihak. 
Sebutlah salah satunya adalah Kalla Group, memberikan support kendaraan operasional untuk roadshow 24 kabupaten/kota se Sul Sel sampai oktober 2017.
Di Kepulauan Selayar, Kalla Tayota east area memberikan pelayanan lebih kepada peserta seminar dan workshop IGI, seperti servis gratis, potongan harga pembelian mobil Toyota dari 10 juta sampai 30 juta dan pembelian dengan sistem pembayaran periode pencairan sertifikasi guru.
Selain Kalla grup, travel umrah Abu Tours melalui agennya turut membagi bagi voucer potongan umrah 5 – 6 juta khusus untuk peserta kegiatan. 
Berbagai upaya telah dan sementara dilakukan IGI, berbagai elemen diajak kerjasama, semoga kedepannya IGI dapat menghantar pendidikan untuk meraih cita cita bangsa. 
Selayar, 23 April 2017

Ketua Program “Inovasi Guru”

Sekretaris IGI sul Sel
H. Anshar Syukur, S. Kom, M. I. Kom

Comments

comments