ANIES BASWEDAN, SELAMAT BERTUGAS, JOKOWI TELAH MENGANTARKAN DIRIMU MENJADI GUBERNUR DKI

0
555

Saya pertama kali bertemu dengannya ketika saya mengundangnya mengisi seminar nasional dan pelantikan 5 Pengurus IGI secara serentak di Pare pare.

Saat itu saya menjabat sebagai Ketua Ikatan Guru Indonesia Wilayah Sulsel. Setelah Pelantikan IGI Wilayah bersama 7 kabupaten/kota di Makassar, inilah kegiatan besar kedua IGI Sulsel.

Lewat seorang sahabat, saya pun berhasil mengatur waktu sehingga Anies Baswedan yang baru pulang dari Majene bisa mengisi kegiatan IGI di Pare Pare sekaligus pelantikan IGI Sidrap, IGI Pare Pare, IGI Pinrang, dan IGI Barru
Ternyata, Itulah kali pertama Anies Rasyid Baswedan mengisi acara di IGI di Seluruh Indonesia dan kemudian lanjut ke beberapa daerah di Indonesia hingga IGI dalam kepemimpinan Satria Dharma kemudian mengangkatnya sebagai Ketua Dewan Pakar IGI.

Sejak saat itu, kami seolah nyambung dan terasa mengalami kecocokan baik dalam sisi pemikirian, visi serta keinginan mengubah sesuatu. Selama saya menjabat Ketua IGI Sulsel, Anies bahkan sempat mengisi kegiatan IGI di beberapa kabupaten/kota mulai dari Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Takalar, Jeneponto hingga Bantaeng.

Bahkan beliau mau memotivasi siswa saya di bimbel Ranu Prima College, hal yang luar biasa dari persahabatan kami. Tak sekalipun Anies ke Makassar tak mengabari dan meminta bantuan saya mengatur segalanya.

Sebelum saya menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat IGI, saat beliau sudah menjabat menteri, beliau bahkan sempat berkumpul dengan kawan-kawan RPC di rumah saya.

Saat Kongres IGI di Makassar saat saya diamanahkan sebagai Ketua Panitia Nasional Kongres II, saya “memaksa” seorang menteri hadir 2 jam di Makassar dan langsung balik ke Jakarat dan itu hanya mungkin karena sang menteri adalah Anies Baswedan.

Amanah sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IGI membuat saya semakin dekat dengan dunia pendidikan, namun entah mengapa, justru saat Anies Baswedan mendikbud dan saya jadi Ketum PP IGI, kami sangat jarang bertemu, saya lebih banyak berkeliaran dari satu provinsi ke provinsi lain sementara Anies begitu fokus menata kemendikbud.

Anehnya, hampir semua gerakan IGI sangat seirama dengan kemendikbud dan satu hal yang saya syukuri, selama menjabat sebagai Ketum IGI dan disaat yang sama sahabat saya menjabat Mendikbud, tak sekalipun IGI mengajukan bantuan atau dukungan dana dari APBN.
IGI terus berkembang dan tumbuh pesat, pilihan saya untuk terjun ke daerah-daerah menumbuhkan lebih banyak seminar dan workshop ternyata telah menggerakkan guru dimana-mana.

Hingga akhirnya dalam perjalanan dari Aceh menuju Medan, saya tersambar petir. Anies yang dalam 20 bulan telah begitu dicintai dan dibanggakan guru ternyata dicopot dari jabatannya sebagai mendikbud.

Apa salah Anies kataku??
Setahu saya, meskipun baru setahun lebih tetapi Anies telah sukses menata kemendikbud, saya menjadi orang yang merasakan bagaimana perubahan itu bergerak mulai dari atas, hampir setiap tiga atau empat bulan terasa perubahan dari tiap level mulai dari eselon satu lalu periode berikutnya ke eselon dua, terus turun hingga kami melihat pelibatan eselon empat yang luar biasa saat Rembug Nasional Pendidikan di Sawangan. Saat itu hampir seluruh kepala dinas pendidikan dari seluruh Indonesia memuji Anies Baswedan dan perubahan signifikan di kemendikbud.
Pada level guru dan sekolah, perubahan begitu terasa, pembinaan guru dengan dibentuknya dirjen GTK mulai menemukan arahnya meskipun belum sempurna. Protes atau masukan dari bawah juga terasa lebih mudah ditanggapi. Tak heran jika dalam beberapa survey kepuasan publik, Anies selalu berada pada posisi yang tinggi. Apa yang salah dengan Anies Baswedan??

Tak lama menganggur, Anies pun ternyata harus turun tangan kembali, kali ini diajak oleh Sandiaga Uno bertarung dalam kubangan politik yang kadang begitu kejam. Saya termasuk orang yang serba salah, saya adalah ketua umum pengurus pusat IGI yang “haram” hukumnya berpolitik praktis. Saya paham betul orang-orang baik begitu sulit masuk ke politik.

Mengapa?

Jika penjahat berbuat salah berulang kali bahkan sangat fatal, orang-orang seolah memakluminya, namun jika orang baik berubah sedikit saja atau membuat satu kesalahan saja, maka sebagian orang langsung mencapnya lebih jahat dari penjahat. Sementara bertarung dalam dunia politik apalagi pilkada seperti bertarung dalam ring tinju, menang atau kalah, hidup atau mati, lecet dan luka adalah hal yg biasa. 
Mampukah Anies menghadapinya?
Dalam perjalanan pilkada, saya menemukan beberapa orang yang bersikap seperti itu, pengangum Anies tiba-tiba kecewa hanya karena Anies tampak sedikit berubah, padahal yakinlah bahwa Anies itu tak berubah. Dalam perjalanan Pilkada DKI, kadang saya hanya ngintip jauh dari posko pemenangan, minimal tak tertangkap kamera siapapun. He…he..

Jika kembali ke Pencopotan Anies sebagai mendikbud, apa salah anies?

Mungkin ini bukan salah Anies, ini adalah cara Allah memaksa Jokowi menjadikan Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Selamat Bertugas Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Fokuslah bekerja, tak perlu khawatir dengan resuffle kabinet karena kini warga Jakarta memberikan kepercayaan padamu untuk 5 tahun kedepan, bukan hanya sekedar 20 bulan.

Makassar, 19 April 2017

Muhammad Ramli Rahim

Comments

comments