Renungan Untuk Teman Sejawat

0
566

Yully Rachmawaty*

Renungan ini dibuat berdasarkan pengalaman mengajar, ketika kegalauan saya sebagai guru BK untuk bersikap antara membela siswa atau memaklumi sesama rekan guru dengan segala keterbatasan mungkin juga kesombongan… Bertahun- tahun, berinteraksi, mendengarkan keluhan dan cerita kami antar guru,lalu  mendengar keluh kesah siswa yang dikirim ke ruang BK dengan titipan surat bertuliskan “siswa bermasalah…”

Apakah hanya siswa saja yang bermasalah? Mari jujur dan jawablah apa adanya.. Jujur sebagai guru, jujur sebagai manusia , jujur sebagai suri teladan…

1. Pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, sudahkah aku berniat untuk ibadah sebagai guru profesi terpuji menurutku ?

2. Dalam perjalanan terbayang sudah wajah-wajah anak didikku, mereka yang kataku nakal, menyebalkan, tak tahu sopan santun dan segudang perilaku negatif lainnya. Sudikah aku memaafkan mereka ? Bukankah ada anak didk lain  yang sesuai harapanku?

3. Di kelas, ketika tak seorang siswapun tahu keberadaanku , perasaan apa yang muncul di hatiku ? Mereka mengabaikanku…! Mereka tidak membutuhkanku….! Apa yang harus kuperbaiki untuk menyelesaikan masalahku ini …?

4. Ingin rasanya aku berharga buat mereka, namun sudahkah aku juga menghargai mereka? Mendengar keluhan mereka ? Mau mengerti mereka ? Bukankah dulu aku juga seperti mereka, pernah remaja ?

5. Kudatang dengan segudang materi yang harus kusampaikan, namun anak didikku berpura-pura tak mendengar ocehanku. Sakit rasanya, haruskah aku berteriak untuk meminta mereka mendengar ilmuku? Atau aku harus menunggu mereka benar-benar siap belajar ?

6. Di saat kuberikan tugas untuk mempertajam materiku, hanya beberapa orang saja dari anak didikku yang mengerjakannya. Begitukah kalian memperlakukanku ? Mungkinkah uraianku kurang jelas ?

7. Nilai ulangan harian selesai kuolah, hancur hatiku ketika kuteliti ternyata hanya segelintir anak yang memperoleh nilai yang memuaskan versiku. Bodohkah mereka ? Atau aku harus meminta mereka memberi masukan untukku? Sudahkah aku menjelaskannya dengan baik ?

8. Caraku mengajar rasanya sudah baik dan maksimal, tapi mengapa anak didikku tak mengerti apa yang kujelaskan? Apa mereka tidak mendengarkanku ? Atau aku memang sudah harus siap berubah dan mau membuka diri terhadap paradigma baru dalam pendidikan ?

9.  Berulang kali kuberikan tambahan latihan untuk membantu anak didikku memahami pelajaranku, tapi tetap saja mereka mendapat nilai buruk versiku. Bodohkah mereka ? Mungkin tak  sedikitpun  mereka memahami pelajaranku, kenapa?

10. Pernah suatu hari aku tak enak badan, kuberikan tugas untuk dikerjakan sementara aku tetap berada di kelas menunggu mereka bekerja. Ada saja alasan mereka, yang tidak bawa buku, tidak punya pulpen, mau ke toilet dulu, dan segudang alasan lainnya. Salahkah aku bila harus marah ?

11. Kuberikan waktu untuk anak didikku  bertanya, bosan rasanya mendengar pertanyaan anak didik yang sama untuk sekian banyak anak. Kalian tak mendengar untuk tidak mengulang pertanyaan yang sama ? Mungkin aku memang harus rela mengulang penjelasanku? Masih cukupkah energi cintaku untuk mereka?

12. Ingin kudengar kalimat, ” Bu/Pak, saya kangen deh sama Bapak / ibu…!” . Mungkinkah ada bagian namaku dihati mereka ?

13. Aku Ingin anak didikku menjadi anak yang baik, cerdas, sopan, mandiri, dan segudang impian lainnya versiku. KIra-kira apa yang anak didikku inginkan ada pada diriku ?

14. Siapkah aku seandainya ada siswa yang mengkritikku dan memberi masukan untukku ? Haruskah aku membela diriku? Atau aku terima saja masukan mereka ?

15. Aku tahu setiap anak didikku lahir dengan keunikan masing-masing, dibesarkan dengan cara berbeda, melihat dan mendengar hal-hal yang beragam dalam hidupnya, dan yang pasti dengan pengalaman yang berbeda. Tegakah aku memperlakukan mereka sama? Bukankah kutahu potensi mereka berbeda….!  Gaya belajar mereka berbeda …! Ingin kupelajari  kembali tekhnik mengajar yang baik, punya waktukah aku untuk itu ?

16. Pernah kubaca kalimat bijak, ” Guru yang biasa memberitahu, guru yang baik menjelaskan, guru yang luar biasa mengilhami,”. Dimanakah posisiku selama ini ?

17. Ada kalimat bijak  lain yang pernah kubaca, ” Seringkali karir yang bagus seseorang, bisa dilihat dari pengaruh seorang guru”. Sudahkah aku selama ini memberi pengaruh baik dan bekal yang kuat kepada anak didikku ? Sehingga mereka siap mengahadapi pasang surutnya kehidupan ?

18. Kelas tempatku mengajar akan kujadikan sebuah tempat yang menyenangkan agar anak didikku betah berlama-lama belajar denganku dan mau bersahabat denganku. Tahukah kalian bahwa aku juga belajar dari kalian?

19. Selama dua kali empat puluh menit aku bersama anak didikku. Waktu berlalu begitu cepat atau aku tak tahu lagi harus menyampaikan materi apa buat mereka ?

20. Aku tahu suatu saat nanti kalian akan meninggalkanku setelah lulus, akankah kalian ingat aku ? Betapa aku semangat mengajar di kelas kalian…! BUkankah aku cukup baik bagi kalian? Ingatkah kalian itu semua ?

21. Ketika ada rekan kerjaku yang lebih baik dariku dari segi ilmu, ketrampilan komunikasi, dan perangkat lainnya untuk menjadi guru, sudahkah aku mau bertanya padanya meski mereka lebih muda atau guru baru? Atau aku malah sibuk mencari kekurangannnya ?

22. Belajar kapan saja, di mana saja, dan dari siapa saja. Aku tahu kalimat itu, tapi mengapa sulit bagiku merubah keangkuhanku?

23. Seorang satpam bisa menjadi guru ketika dengan ramah mau menjawab pertanyaan orang  padanya, seorang pedagang juga bisa menjadi guru ketika mau melayani dengan sopan setiap pembelinya, dan seorang pramubakti juga bisa menjadi guru ketika mau menawarkan dan melayani orang yang butuh bantuannya. Seorang guru akan menjadi guru sejati ketika mau…..?

24. Kutahu bahwa apa yang aku lakukan selama aku menjadi guru akan aku pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Ikhlaskah aku melakukan ini ?

25. Aku faham bahwa aku harus memilah materi yang akan aku ajarkan, akankah materi itu benar-benar anak didikku butuhkan saat ini ? Metode apa yang tepat untuk menyampaikannya ?

26. Kutemui seorang anak yang setelah kubantu tetap mendapat nilai kurang versiku, namun ada potensinya yang lain yang luput dari perhatianku. Sudikah aku mengakui dan menghargainya ? Sudikah aku membantunya dari sana ?

27. Kutahu bahwa anak didikku yang berada di kelasku beragam , ada yang cerdas, ada yang kurang cerdas, ada yang tangggung jawab, ada yang belum tahu arti tanggung jawab , ada yang mandiri, ada yang berkomunikasi saja sulit dan sederet keberagaman yang lain ? Energiku sebagai guru terkuras habis untuk memahami mereka , tapi bukankah itu memang tugasku ?

28. Hal yang tak mungkin, ketika aku berharap anak didikku semua cerdas, semua sopan, semua dapat diandalkan, semua konsisten, semua patuh, semua…., semua…. Kutahu ini tantangan buatku, bisakah aku mengelola mereka dengan baik? Menuntun mereka semua sehingga mereka berhasil dengan caranya masing-masing?

29. Berat rasanya tugasku, namun aku yakin Allah SWT akan menuntunku. Akan aku tingkatkan tawakalku padaNya…! Sudahkah aku berusaha ?

30. Begitu banyak yang harus kuperbaiki, kumohon Allah SWT berikan kekuatan padaku. Sudahkah aku menggapai pertolongaNYa ?

Sudahkah ? Mampukah ? Relakah ? yakinkah ?……
Ku harus terus memperbaiki diriku sebagai ibu bangsa yang akan melahirkan generasi yang kuat  dan mampu bermanfaat bagi lingkungannya..

Ada satu hal yang mungkin akan jadi berita gembira untukku, yaitu “Bahwa apa yang aku ajarkan seandainya itu membawa kebaikan pada anak didikku akan menjadi pahala bagiku ” Amiin…. wallahu ‘alam bi showab… (Buy)

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here