CANDA DAN GARAM

0
457
Yully Rachmawaty*
Dalam hidup tentunya kita perlu sesekali bergurau bercanda dan melempar kan kalimat yang lucu sehingga orang lain bisa tertawa. Pada saat orang lain bahagia ,karena kalimat dan gurauan kita,  maka pada saat itu kita baru saja memberikan garam pada sayur ups bukan garam pada sayur tapi canda dalam pergaulan…
Meletakkan garam atau membubuhkan garam dengan porsi yang tepat pada sayur akan memberikan rasa yang lezat pada masakan. Sayur tanpa garam tentu tidak enak dan hambar  , namun jika terlalu banyak garam, masakan juga akan terasa tidak enak  bahkan  penyakit darah tinggi mungkin akan segera menghampiri kita . Seorang ibu rumah tangga akan mencoba mencicipi berkali-kali masakannya untuk dapat menemukan rasa yang tepat pada masakannya sehingga anggota keluarga dapat menikmati makanan yang dihidangkan dengan penuh suka cita.
Begitu pula ketika kita sedang berdiskusi, bergaul dalam kehidupan sehari-hari kita perlu sesekali membubuhkan canda dalam pergaulan , namun seperti halnya ketika kita meletakkan atau membubuhkan garam pada sayur maka bercandalah dengan porsi yang tepat dan pada saat yang tepat. Terlalu banyak tertawa ketika bercanda berlebihan akan mematikan hati dan mungkin kita akan khilaf dengan mulai meledek orang lain mentertawakan orang lain bahkan menghina keyakinan dan kepercayaan orang lain. Ketika canda sama sekali tidak ada dalam pergaulan maka yang kita akan temukan hanyalah kebisuan dan suasana dingin . Perasaan hidup sendiri mulai mengganggu perasaan kita.  Bukankah kita hidup bermasyarakat ? Kita punya teman untuk berbagi cerita ,kita punya teman untuk mengungkapkan rasa dan sedikit meringankan beban yang kita rasakan..
Jadi mulailah menggunakan canda dengan seperlunya,  tidak menyinggung fisik, tidak membicarakan aib orang lain dan juga yang tidak kalah penting , dalam canda jangan sampai berbohong hanya sekedar untuk membuat orang lain tertawa. Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya oleh seorang nenek-nenek , “Apakah nanti saya bisa masuk surga…?” Jawaban Rasulullah membuat nenek menangis , karena Rasul menjawab bahwa di surga tidak ada nenek-nenek, dan sang nenek pun Menangis. Kemudian Rasulullah menjelaskan, maksudnya di surga tidak ada nenek-nenek karena Semua menjadi muda dan cantik kembali. Dan sang nenek pun tersenyum…
Bolehkah guru bercanda di dalam kelas dengan siswanya ? Bagaimana menurut bapak/ ibu guru?  Kelas seperti apakah yang sudah bapak/ ibu ciptakan untuk para siswa di kelas? Menciptakan canda di dalam kelas boleh-boleh saja , mungkin kita memiliki seorang siswa yang menjadi bintang di dalam kelasnya  , bintang untuk membuat orang lain tertawa. Kadang  siswa tersebut suka sekali menyeletuk dan membuat seisi kelas tertawa. Harus marah kah guru? Jawabannya kembali kepada pepatah di atas canda dan garam.. Ketika canda berhasil membuat seisi kelas tertawa dan bahagia bersama-sama, guru tinggal mengarahkan isi canda menjadi lebih positif dan biarkan senyum mengembang di wajah para siswa.  Mulailah kelas bapak ibu dengan senyum , sebarkan senyum kepada seluruh siswa dan Sapalah mereka dengan lemah lembut , maka belajar bagi para siswa akan menjadi menyenangkan dan mengajar bagi para guru akan menjadi sebuah kebahagiaan..

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here