PERJALANAN HOROR DI PULAU SERAM DALAM JELAJAH LITERASI PRODUKTIF MALUKU

1
2605

Tiba di Bandara Pattimura Ambon pukul 06.00 saya tak diberi waktu istirahat, katanya, perjalanan kita masih jauh. 
Ustad Rohib, Guru MAN 1 Ambon bersama Edison, aktifis yang kini banyak terlibat di IGI langsung mengantar saya ke Pelabuhan Tulehu.
Dengan kapal cepat Cantika kami tiba di Pelabuhan Amahai dan disambut Asmara Wassahua Waketum Regional Maluku Papua dan Ode Abdurrahman Ketua IGI Wilayah Maluku, hanya mampir sholat dan makan siang di Masohi,perjalanan kami lanjutkan menuju Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur yang katanya akan ditempuh dalam 12-13 jam membelah gunung SS (istilah orang sana untuk menggambarkan kondisi jalan.

Sempat mampir di lereng gunung, kami menikmati kopi dan teh hangat bersama sarmento sebelum memasuki kawasan hutan taman nasional Munusela. 
Sepanjang perjalanan kami mulai disajikan dengan jalan-jalan yang patah sehingga sulit dilewati kendaraan, beberapa kali kami harus turun untuk membantu mengganjal avanza ketua Wilayah IGI Maluku Tengah ini.


Kiri dan kanan jalan tak kalah mengerikan, belas longsor yang katanya sudah lebih dari setahun tetap terpertahankan. Entah pemerintah tak punya uang, tak punya perhatian atau mungkin memang ingin membiarkan rakyat maluku tengah celaka. Satu orang Munir sang pejuang hak asasi manusia diperjuangkan bertahun-tahun tapi puluhan ribu warga terancam celaka dan mati pemerintah tak peduli. Perjalanan kami sebenarnya menuju salah satu bagian dari Blok Masela, blok kaya raya tapi rakyatnya begitu miskin, lihatlah jalan-jalannya, negara tak peduli dengan keselamatan warganya.

Ketika siang tertutup gelap, suasana semakin mengerikan, beberapa kali sesisi avanza berteriak “Allahu Akbar” meski tak semuanya kami adalah muslim. Suatu saat ketika avansa melaju karena memburu waktu, tiba-tiba didepan ada sebuah jembatan yang telah dibongkar dan hanya diisi batang kelapa dan hampir saja avanza ini terperosok. Disaat lain, tiba-tiba jalan patah dan kami harus berbelok ke jalan darurat dengan motor kencang melaju dari depan. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan sebuah jembatan berlubang yang harus dipasang plat besi panjang dilubangnya. Kami pun semua kecuali Ketwil yang jadi sopir harus turun dan memastikan ban avanza tepat dan tak terperosok.
Tiba di Bula pukul 01.00 dini hari, kami pun lega dan langsung meluruskan badan.
Keesokan harinya ketika melewatinya di siang hari, beberapa diantaranya saya foto dan masya Allah begitu mengerikan. Dan lebih mengerikan lagi ketika sopir angkutan ini saya tanya, beliau sampaikan bahwa jembatan-jembatan darurat ini, longsor-longsor ini, patahan-patahan ini sudah terjadi lebih dari setahun yang lalu. Sungguh begitu tega dikau para pengambil kebijakan. 
Kegiatan IGI di Seram Bagian Timur alhamdulillah berjalan lancar, bahkan seorang guru menyesali panitia, “bapak ini panitia saya kecewa, bapak panitia harusnya undang samua guru di SBT, acara bagus bagini dia punya manfaat besar” kata salah seorang guru
Asisten III yang hadir mewakili Bupati dan membacakan sambutan Bupati sangat berharap IGI mampu menjadi solusi rendahnya mutu guru di SBT. “IGI adalah organisasi moderen yang melatih guru agar mampu memberikan pembelajaran kreatif dan menyenangkan dan kami berharap IGI juga membuat guru di SBT ini maju dan tidak lagi tertinggal”

Pulang dari Bula, saya bersama Ustad guru Rohib menumpang kendaraan sewa karena Ketua Wilayah bersama 6 lainnya melanjutkan “Ngamen IGI” di sepanjang jalan dari Balu ke Masohi. Mereka sudah siap dengan warless pengeras suara lengkap dengan printer dibawah kemana-mana, mereka yang tak bisa daftar online, langsung diberikan formulir offline.

Selamat berjuang kawan-kawan IGI Maluku, Pak Ode, ustad As, Pak Darno, Pak Edi dan lainnya, jangan pernah berhenti,teruslah melangkah.

Bula,Oktober 2016
Muhammad Ramli Rahim

Ketua Umum Pengurus Pusat

Ikatan Guru Indonesia

Comments

comments

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here