IGI Maluku Ternyata Harus Ngamen Dan Kadang Terpaksa Makan Sarmento.

1
1098

Jika diantar kita ada yang mengeluh tak bisa mengembangkan IGI, jangan pernah menceritakan itu ke kawan-kawan IGI di Maluku karena semua yang mungkin akan bapak/ibu keluhkan sudah mereka hadapi.

Tak perlu bicara soal kendala geografis, Maluku dipisahkan oleh laut, daratannya pun bergunung-gunung, bahkan ketika kemarin kami melakukan perjalanan dari Masohi ke Bula, kami harus melewati jalan yang menanjak dan betul-betul berada di ketinggian, kita bahkan jauh diatas awan. Perjalanan laut tak perlu diceritakan, ombak 3-4 meter buat mereka sudah menjadi biasa.



Intimidasi?

Kalau hanya diancam oleh pengawas sekolah, hanya gosip-gosip tetangga, dipanggil kasie atau kabid, itu tak seberapa, Asmara Wasahua bahkan sudah dibuatkan surat yang harus ditanda tangani, pilihannya “pilih keluar dari IGI, dipindahkan ke daerah terpencil tanpa listrik tanpa signal atau dipindah ke pulau terpencil”. Namun dengan percaya diri, Pak Wasahua menarik kertas itu, menjelaskan tentang IGI lalu menyatakan siap bertanda tangan. Karena keberaniannya, Ustad Wasahua bukannya di lempar ke daerah terpencil, malah kini menjadi sahabat para pejabat dinas pendidikan.

Lalu siapa yang meyakinkan ustad Wasahua bergabung ke IGI, inilah sosok Intelektul dibaliknya, Ode Abdurrahman, tidak sekedar cerdas dan intelek tapi juga pekerja keras, ikhlas berbuat dan pantang menyerah. Selain itu dia punya kemampuan literasi dan IT serta kepelatihan yang mumpuni. Ode Abdurrahman tahu betul, siapa saja tokoh-tokoh kunci yang harus pertama kali diyakinkan dan siapa lagi selanjutnya. Beliau bukan mendekati Bupati, Walikota atau Kepala Dinas, tapi mencari “Panglima Perang Pantang Menyerah” dan memang tampak bahwa setiap daerah yang “ditundukkannya” maka disanalah IGI akan tumbuh subur dalam waktu singkat.

Pengorbanan, jangan ditanya soal itu, nyebrang dari Ambon ke Masohi saja, butuh lebih dari Rp.100.000, sulit untuk menjangkau Tual jika tak punya uang minimal Rp.300.000 dengan Kapal Laut. Untuk ke Bula, kami membayar sewa mobil Rp.350.000 per orang untuk perjalanan 10-13 jam tergantung kemampuan sopir dan keberanian penumpang, berati pulang pergi sudah hampir satu juta rupiah. Saya pun yakin, gajinya Ode Abdurrahman ini sudah banyak tergerus untuk perjuangannya di IGI.

Guru konservatif?

Jangan ditanya soal ini, nilai UKG Maluku yang rendah menurut saya juga dipengaruhi oleh faktor gurunya yang konservatif, merek sulit untuk beranjak dari keterbelakangan bahkan untuk setiap kegiatan, pertanyaan pertama yang mereka ajukan adalah “uang duduknya berapa?”

Namun setelah beberapa kali saya turun dan berbicara di depan mereka serta dilanjutkan oleh kawan-kawan Maluku, mind set mereka pun berubah drastis. Tugas berat masih panjang karena semua guru harus disentuh dengan jarak yang berjauhan.

“Pak Ketum balik sama Pak Rohib, beliau akan menemani hingga Ambon, di Pelabuhan Tulehu akan dijemput Bapak Patty, saya dan lima kawan lainnya akan ngamen” kata Pak Ode sesaat setelah saya menyampaikan materi di Seminar Nasional dan Workshop Media Pembelajaran Menuju Sekolah Tanpa Kertas.

Ngamen?

Yah, ngamen itu ternyata adalah berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain sepanjang perjalanan dari Bula ke Masohi yang berjarak lebih dari 300 KM. Selain Pak Ode dan Ustad Asmara Wasahua, juga ada salah satu kepala sekolah, Pak Darno namanya, ada Ketua IGI Maluku Tengah Amiruddin dan Mantan Demonstran Edison Takewae serta satu kawan lainnya. Untuk menghemat biaya, terkadang mereka harus makan sarmento.

Apa itu sarmento ?

Sarmento ternyata adalah sarimi telor …he..he..

Di Mobil Pak Ode, sudah ada pengeras suara, printer untuk cetak formulir IGI, tablet, laptop cromecash dan LCD Proyektor

Pantas saja, saat di Tual dulu, saya diminta pulang sendiri ke Makassar, ternyata mereka ngamen beberapa hari di Tual.

Luar biasa, mungkin tak terbayangkan begitu berat perjuangan kawan-kawan di Maluku tapi begitu ulet mereka menjalaninya.

Kawan-kawan IGI, masihkah ada yang mengeluh untuk berjuang meningkatkan kompetensi guru?

Seberat apa tantangan bapak dan hingga harus takut menjalani misi suci meningkatkan kompetensi guru?

Berhenti mengeluh,ayo bergerak, kita hadapi mereka yang menghambat upaya peningkatan mutu guru. Jangan takut pada manusia karena nasib kita ada di tangan Tuhan yang kita yakini. 350 tahun lebih kita dijajah karenanya mentalitas terjajah masih juga ada di dalam diri kita, kini guru tak boleh takut, guru harus keluar dari ancaman, intimidasi dan apapun itu untuk bersama-sama meningkatkan mutu guru Indonesia.

Maluku, oktober 2016
Muhammad Ramli Rahim

Ketua Umum Pengurus Pusat

Ikatan Guru Indonesia
#IGI #IkatanGuruIndonesia #MRR #MuhammadRamliRahim

Comments

comments

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here