Pemimpin itu Seharusnya Gambaran Pengikutnya

0
249

Akhir-akhir ini banyak yang membagikan Video singkat ini https://youtu.be/QL9rIh6J6YM, Video ini adalah potongan video acara PLN distribusi Jateng DIY.

Saya mendengar langsung dari beliau saat diundang oleh Mendikbud memberikan motivasi pada Rembugnas Pendidikan Dan Kebudayaan 2016 yang lalu di Sawangan.

Sayang Video yang saya rekam sudah hilang. Dan sebenarnya hal seperti ini yg luar biasa yang dilakukan Anies Baswedan sebagai menteri.

Saat penutupan, sekitar 500 kepala dinas dari lebih dari 1000 peserta memberikan “standing ovation” dan salut dengan kegiatan tersebut. Menghadirkan orang-orang inspiratif dan sebenarnya bisa menjadi bahan mengubah pendidikan Indonesia. Selain itu Rembuk Nasional 2016 itu sangat berbeda, jika sebelumnya peserta hanya jadi pendengar maka kali itu semua peserta dipaksa untuk berpikir menemukan solusi pendidikan, sayang sekali, Rembugnas selanjutnya kembali ke selera asal, lebih pada seremonial yang tak menghasilkan banyak hal sebagai rekomendasi cerdas dan mengakar sebagai informasi penting buat menteri dan jajarannya dan boleh saja buat dilaporkan ke Presiden. Saat itu saya sebagai Ketum IGI bersama Sekjen IGI hadir dan terasa betul bahwa kita semua dipaksa berpikir. Dirjen, direktur hingga kasie tak berani pulang ke rumah atau meninggalkan tempat karena selama 3 hari, menteri mengawal kegiatan dan tak pernah meninggalkan lokasi, beliau terlibat secara aktif mulai dari pembukaan hingga penutupan. Kata beberapa kadis, “dulu kita mudah kabur, menterinya hanya datang buka dan saat ditutup pun belum tentu datang, lagian materinya begitu-begitu saja, tapi kali ini memang beda”

Saat penutupan pagi hari, seluruh proses dan hasil sudah terpampang dalam bentuk gambar grafis yang cantik.

Kapan lagi yah ada rembugnas pendidikan seperti itu?

Mengapa? Biar presiden hadir dan tahu kalau masih banyak guru yang pendapatannya hanya ratusan ribu bahkan masih ada yang puluhan ribu, begitu banyak kabupaten/kota yang jumlah guru honorernya yang dibayar murah oleh negera lebih banyak dari Guru PNSnya. Mungkin saat bertemu guru-guru sekolah swasta Pak Presiden tidak tahu dan tidak percaya kalau ada guru honorer yang pendapatannya ratusan ribu tapi presiden harus tahu kalau di sekolah negeri dimana tanggungjawab negara lebih besar lagi, masih banyak guru yang pendapatannya tak lebih baik dari buruh kasar harian.

Tapi Jika Rembugnas, Presiden jangan hadir saat pembukaan tapi hadirnya saat penutupan agar hasil yang diterima, bukan sekedar seremonial belaka, tepuk tangan, foto-foto dan saling puji lalu bubar.

Tak Perlu cari yang lama, Ibu Wahyuni, Guru Honorer SMK Negeri 5 Wajo hanya menerima honor Rp.1.140.000 per semester atau Rp.190.000/bulan, setara dengan honor 2 hari kerja buruh kasar level terendah, padahal sang buruh tak perlu seperti guru yang bukan hanya *melaksanakan pembelajaran* tetapi seorang guru bertugas :
1. Merencanakan pembelajaran
2. Melaksanakan pembelajaran
3. Mengevaluasi pembelajaran
4. Membimbing dan melatih peserta didik
5. Melaksankan tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru.

Soal rendahnya pendapatan guru bukan hal baru, bahkan dibahas setiap saat.

Nah, sebenarnya siapa yang salah atas ketidaktahuan Presiden Jokowi?

Salam Hormat
Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia.

Comments

comments