MEWUJUDKAN SEKOLAH TANPA KERTAS, WUJUD KERJA NYATA MEMENUHI JANJI KEMERDEKAAN

1
2397

Sebelum 2009 lalu Ikatan Guru Indonesia yang saat itu masih bermaka Klub Guru Indonesia sudah memulai mendorong budaya literasi dengan memulainya dengan GERAKAN GURU MELEK INTERNET, saat itu begitu banyak kejadian lucu dilapangan, guru yang tak tahu cara on/off laptop hingga guru yang takut mousenya loncat dan tak jarang guru tak berani menyentul laptop karena takut rusak karena salah menekan tombol.

Kini hampir 10 tahun IGI lakoni, gerakan guru melek internet dilanjutnya dengan gerkan Indonesia membaca, gerakan guru menulis hingga gerakan satu guru satu laptop.

Saat itu, kami sering dihambat, dimusuhi bahkan ada yang tak segan-segan mengancam guru yang ingin ikut berlatih bersama kawan-kawannya di IGI dan dibeberapa temat hal itu masih juga terjadi, yang aneh karena bertahun-tahun kami melakukan upaya peningkatan mutu guru, terus dihambat tapi mereka sendiri tak berbuat apa-apa. Ibarat suku pedalaman yang sengata dibuat terisolir sehingga tetap tak bisa baca tulis, tak bisa menambah wawasan agar tetap bodoh dan mudah dibodoh-bodohi.

Kini IGI sudah berkembang pesat, ibarat oase di padang pasir, IGI hadir memenuhi dahaga guru Indonesia hingga ke pelosok bangsa. IGI hadir denga raham kreatifitas cara mengajar menyenangkan, menarik, tidak membosankan apalagi menjengkelkan.

Pihak-pihak tertentu yang mencoba menghambat hadirnya IGI di daerah mereka seolah ingin menjadikan guru-guru mereka tetap dalam kerendahan kompetensi dan keterpasungan motivasi. Kini IGI telah dibutuhkan dibanyak tempat sehingga daerah yang menghambat upaya guru meningkatkan kompetensinya akan semakin tertinggal.

Di hampir seluruh tempat, IGI Memang tak dilahirkan, IGI selalu lahir dari lubuk hati guru Indonesia, jika di satu daerah ada sekolompok guru ingin tumbuh dan berkembang namun IGI belum ada atau sedang vacum di sana, tak perlu sungkan, segera kontak pak Dahli Ahmad ketua bidang organisasi dan keanggotaan IGI di +62 812 8884773, secepat kilat beliau akan berkoordinasi dengan waketum PP IGI yang menangani daerah bapak/ibu.

Teknologi semakin maju,pengetahuan siswa tumbuh semakin pesan bahkan melampau tuntunan jaman. Dulu, guru begitu dihormati, begitu disegani, begitu ditokohkan, mulai dari guru ngaji, guru sekolah, hingga guru pesantren atau lebih dikenal dengan ustad atau kyai. Karena dulu, mereka menjadi satu-satunya sumber ilmu dan sumber pengetahuan. Jangankan berkata benar, berkata salah pun, murid dan masyarakat akan meyakininya sebagai sebuah kebenaran. Bahkan jika seandainya guru menyampaikan bahwa onta itu berkali lima, murid pun percaya karena guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Kini pengetahuan bisa dicari dari mana saja, bahkan “mbah google” bisa menjawab pertanyaan murid dengan sangat cepat dengan beragam sumber.

Ketika guru mengajar di kelas, siswanya ternyata lebih tahu dari gurunya bahkan siswanya memiliki referensi lebih kuat daripada gurunya, maka disanalah kewibaan guru mulai luntur. Disanalah penghormatan sebagai sumber ilmu mulai kendor, disanalah siswa mulai mengurangi keyakinannya terhadap guru.

Mungkin, itulah mengapa ketika Hirosima-Nagasaki hancur lebur, Pertanyaan pertama Kaisar Jepang adalah “berapa banyak guru kita yang masih hidup?”

Banyak dari perusahaan-perusahaan besar mengarahkan dana CSR-nya untuk pengembangan kemampuan siswa, bahkan pemerintah pun dulunya jauh lebih fokus pada peningkatan kemampuan siswa dan fasilitas belajar siswa dibanding gurunya. Padahal kita dibelakang hari menemukan bahwa siswa jauh berkembang, guru semakin tertinggal. Dulu ketika kita berbicara kompetensi guru apalagi bercerita tentang MENDIDIK GURU MEMBANGUN BANGSA, begitu banyak yang tidak terima karena dianggap melecehkan guru, namun ketika berbagai penelitian dilakukan dan dilanjutkan dengan uji kompetensi guru serta menguak data alumni LPTK yang bergelar sarjana itu saat mengikuti seleksi CPNS, terbukalah mata kita begitu memprihatinkannya kompetensi guru kita, dalam UKG yang hanya mengukur 2 dari 4 kompetensi dasar guru, terlihat jelas bahwa hanya ada 6% lebih dari 2,6 juta guru yang dinyatakan lulus dan tak perlu dilatih lagi. Ketika data seleksi CPNS guru dibuka, ada calon guru yang hanya bisa menjawab 1 benar dari 40 soal bahkan ada calon guru yang hanya mampu menjawab 5 benar dari 100 soal seleksi. Lalu mengapa bangsa ini tidak fokus membenahi guru bahkan beberapa kabupaten menghambat lahirnya IGI di daerah mereka?

Alhamdulillah, 71 tahun Indonesia merdeka, 10 tahun sudah Tunjungan Profesionalisme guru diberikan negara untuk guru, meskipun tanpa melewati PPG yang layak seperti PPD bagi dokter, PPA untuk Apoteker, atau Pendidikan konotariatan bagi notaris. Setelah Upacara Kemerdekaan di Kantor Kemdikbud, saya berbincang dengan Pak Hamid Muhammad, Dirjen Dikdasmen Kemendikbud diruang kerja beliau, ada satu pertanyaaan yang kata beliau begitu sulit dijawab ketika Bappenas dan DPR RI bertanya “sejauh mana efektivitas 80 triliyun lebih selama 10 tahun untuk tunjangan profesi guru?”

Jika pertanyaan ini terus berulang dan terus tak punya jawaban, saya malah curiga……, maaf, saya tak sanggup melanjutkannya tapi kami di IGI sebagai organisasi yang menyebut diri sebagai organisasi profesi guru dengan segala hambatan dan kekurangan bertekad menjawab pertanyaan itu dalam beberapa tahun kedepan.

Mendikbud Muhadjir Effendy dalam Pidato hari kemerdekaan menitikberatkan pada 3 hal yaitu pendidikan karakter, KIP untuk Education For All dan Pendidikan Vokasi. Tiga hal ini didukung IGI sepenuhnya tapi tentunya banyak hal yang membutuhkan kajian mendalam akan ketiga hal tersebut.
Pendidikan karakter harus maksimal bukan hanya bercerita soal FDS dan pengurangan jam mengajar guru menjadi 12 jam. KIP yang tidak tepat sasaran lalu mencabut pendidikan gratis malah akan meningkatkan angka putus sekolah, sementara pendidikan vokasi yang jauh dari industri akan melahirkan lulusan tak siap pakai.

Kini 71 tahun Indonesia merdeka, kawan-kawan aktivis lingkungan sudah sejak lama mengkampanyekan “lindungi bumi, lindungi hutan, lindungi ekosistem” tapi setiap tahun pohon-pohon ditebangi untuk menghasilkan kertas dicetak menjadi buku untuk digunakan belajar di sekolah dan kampus-kampus dimana para aktivis itu pernah belajar bahkan mungkin hingga kini.

Disisi lain, teknologi semakin maju. IGI melihat ada peluang melahirkan “SEKOLAH TANPA KERTAS” dimasa depan tapi semua itu tak mungkin terwujud jika tak dimulai dari gurunya.

sekolah-tanpa-kertas-igi

Hal pertama dan utama mewujudkan sekolah tanpa kertas seperti dalam tayangan ini https://youtu.be/mb71ONRQAuE adalah memulai dari gurunya. Guru harus tampil sebagai manusia paling kompeten didalamnya, jika teknologi pembelajaran terus dikembangkan dan dijalani oleh siswa tapi tak gurunya tertinggal, maka yakinlah, bukan sekedar guru tak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar tapi guru akan dilecehkan dan direndahkan oleh siswa dan orang tua.

Untuk itulah, sebagai KERJA NYATA dalam 71 tahun kemerdekaan Indonesia, IGI akan berperan lebih nyata, 14-16 Agustus IGI menggelar begitu banyak pelatihan berbasis IT, di Aceh kawan-kawan guru belajar membuat aplikasi pembelajaran berbasis Android atau lebih dikenal dengan Sagusanov, bermula dari Aceh Timur, lanjut ke Bireuen dan berakhir di Pidie, di Masohi, di Maluku kawan-kawan IGI bersama Microsoft membuat diklat “sekolah tanpa kertas” dan banyak lagi di tempat lain, besok kami akan berkeliling di 6 kabupaten di Kalsel mulai dari Banjarmasin, Banjar Baru, Balangan, HST hingga Batola membuat WORKSHOP KOMIK DAN GAME PEMBELAJARAN berbasis IT

komik-pembelajaran-interakt

September nanti IGI akan mengumpulkan 100 guru hebat dari seluruh Indonesia dengan beragam cara mengajar yang menyenangkan berbasis IT, IGI bertekad menyelenggarakan workshop dan diklat di 50 kabupaten/kota setiap minggu sehingga setiap minggu ada 1700-5000 guru memiliki kreatifitas mengajar berbasis IT di Indonesia. Dengan kerja nyata seperti ini, IGI yakin, SEKOLAH TANPA KERTAS suatu ketika akan terwujud tanpa harus merengek dana APBN dan APBD.

Jakarta, 19 Agustus 2016

Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Pengurus Pusat
Ikatan Guru Indonesia

Comments

comments

1 KOMENTAR

  1. Trm kasih untuk IGI yg sdh mmbuka wawasn brfikir sy dgn pelatihn2 selama ini yg sy ikuti. Smg IGI maju dn terus mmbimbing guru2 utk maju dn menguasai IT.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here