KOPI-KOPI ANEH DAN PERCEPATAN PROGRAM LITERASI

0
641

Perjalanan 51 km sudah biasa saya lakukan, karena memang jarak dari rumah saya menuju kota Kabupaten Ketapang sejauh itu. Ada beberapa agenda yang akan saya lakukan terkait perjalanan panjang saya hari ini. Salah satu satunya adalah mengadakan pertemuan dengan salah satu tim redaksi sebuah majalah lokal di Kabupaten Ketapang.

 

Dua hari sebelumnya saya sudah diberi tahu oleh Sekretaris Daerah IGI Ketapang bahwa salah seorang Tim redaksi sebuah majalah ingin mengajak bertemu dan membicarakan  gerakan literasi yang dilakukan oleh IGI. Karena banyaknya kesibukan yang saya lakukan maka baru pada hari ini, tepatnya tanggal 15 April 2017 kegiatan baru bisa dilaksanakan.

 

Pukul 16.00 WIB kami agendakan untuk bertemu di salah satu warung kopi yang sederhana. Tapi ternyata warung kopi yang kami rencanakan bersama sedang tutup. Kami merubah haluan menuju sebuah cafe di salah satu supermarket yang ada di Ketapang. JM Cafe adalah tempatnya.

 

Jujur, duduk di cafe adalah sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, makanya saya masih merasa asing. Sebagai guru dari daerah, saya cenderung hidup sederhana dan apa adanya. Jadi ini adalah pengalaman pertama. Sesuatu  yang bagi saya sungguh mengesankan. Mungkin kalau tidak menjadi bagian dari IGI entah berapa lama lagi saya baru akan mengalami hal ini.

 

Kami bertiga duduk di sana dan  memesan minuman. Seorang waiter datang dan menyodorkan daftar menu. Nama minuman yang tertera di daftar itu   bagi saya semuanya masih serba asing. Karena penasaran daya akhirnya memesan kopi susu Vietnam. Minuman  ini pernah menjadi   sangat terkenal dan menjadi hot news selama berbulan-bulan di media nasional karena  kasus sianidanya.

 

Saya agak tercengang, ternyata  kopi susu Vietnam  rasanya pahit dan  sebenarnya tidak cocok dengan lidah saya. Ini mungkin karena saya memang bukan seorang penggemar kopi.  Kalau dibandingkan, saya justru lebih suka kopi  lokal yang berasal dari Kabupaten Ketapang, misalnya  kopi Ahong. Namun karena sudah terlanjur dihidangkan, saya berusaha menikmatinya seenjoy  mungkin.

 

Yang lebih lucu adalah teman saya yang memesan kopi Espresso. Ketika pelayan mengantarkan pesanan kami ternyata teman saya mendapatkan dua gelas. Satu gelas berisi air putih panas dan satu  lagi berisi kopi yang agak cair. Jadi dia bertanya, “Gimana nih cara meminumnya?”

 

Teman kami dari tim redaksi majalah, Agus Kurniawan  namanya, menjelaskan caranya. Ternyata air putih yang terpisah itu harus  dicampur kedalam kopi cair. Setelah dicampur dan diaduk rata teman saya kemudian meminumnya. Brrr!! Ternyata rasanya luar biasa pahit karena saya juga mencicipi satu sendok.

 

Yang lebih lucu adalah ketika Agus Kurniawan mengatakan bahwa kopi itu mempunyai efek samping, yaitu menambah kekuatan bagi laki-laki.  Kami semua tertawa-tawa.  Hahahaha..  itu sih efek depan, seloroh kami. Benar-benar kopi-kopi yang aneh.

 

Sebenarnya agenda pertemuan kami adalah membicarakan  gerakan literasi di Ketapang, sedangkan pengalaman bisa merasakan kopi yang serba aneh itu hanyalah informasi tambahan. Rarasanya kurang lengkap kalau pengalaman yang menarik tidak ikut dipublikasikan.

 

Sebagaimana dibicarakan di awal tulisan, tim penerbit sebuah majalah lokal yang sudah memiliki nomor ISSN yang bernama  LENTERA ingin mengajak bekerja sama. Majalah ini memiliki sebuah permasalahan, yaitu  kekurangan penulis untuk mengisi penerbitan. Akibatnya majalah ini mengalami kevakuman sehingga tidak bisa terbit selama berbulan-bulan.

 

Agus Kurniawan sebagai salah seorang tim redaksi dari majalah ini sudah cukup lama memperhatikan gerakan yang dilakukan oleh IGI Ketapang selama ini. Gerakan literasi yang dijalankan oleh IGI Ketapang merupakan gerakan yang memang sudah dinanti-nantikan  olehnya. Maka dari itu mereka memutuskan mengajak IGI Ketapang  bekerjasama. IGI Ketapang diajak  untuk ikut berpartisipasi dalam penerbitan. Artinya tulisan teman-teman guru yang selama ini hanya di posting melalui blog, sekarang bisa diterbitkan melalui sebuah majalah yang sdh memiliki nomor ISSN.

 

Bagi saya sebagai ketua IGI Ketapang, ini adalah sebuah tawaran yang sangat kami nanti-nanti kan selama ini. Kami dari pengurus IGI Ketapang memang sudah mengagendakan untuk membuat majalah sendiri, tapi itu baru sebuah rencana. Ternyata Allah berkehendak lain. Rencana IGI Ketapang dipercepat oleh Allah.

 

Nah, sekarang tunggu apa lagi? Mari teman-teman guru, kita tulis sejarah tentang diri kita masing-masing, karena dengan tulisanlah kita membuat sejarah. Dan dari tulisan pula eksistensi kita bisa diketahui oleh generasi berikutnya.

 

 

Salam literasi.

 

Ketapang, 17 April 2017

Supriadi

#menemubaling (editor: Mampuono)

Comments

comments