Istighotsah dan Sholawat Sebelum UN

0
514

Sismanto HS

Sepertinya moratorium tahun ini harusnya jadi momentum yang baik tentang polemik UN/ Unas. Namun demikian, rencana moratorium UN yang dicanangkan Kemendikbud gagal dilaksanakan setelah Presiden RI Joko Widodo memutuskan Ujian Nasional (UN) 2017 tetap diadakan, setelah Rapat Terbatas Kabinet yang membahas Ujian Nasional di Kantor Kepresidenan, Senin 19 Desember 2016.

Peserta didik sekolah bertahun-tahun diajari kejujuran oleh guru, lenyap hanya dalam waktu 3-4 hari ujian nasional. Tidak hanya murid yang melakukan kecurangan, guru juga ikut andil dalam memberikan celah kecurangan tersebut. Kepala sekolah juga malu bila sekolahnya menggaungkan trademark sekolah unggul, sekolah favorit, dan sekolah yang “wah” kalah dengan sekolah-sekolah pinggiran. Kepala Dinas pun demikian, merasa malu bila tingkat kelulusan peserta didiknya kurang memuaskan. Bila demikian, bisa dikatakan kecurangan ujian nasional berjalan secara masif dan sistemik.

Beberapa data sederhana yang saya miliki ketika aktif sebagai pengurus di lembaga pendidikan Maarif dan konsultan pendidikan, sekolah dengan label Islam kultural cenderung fenomenal. Secara input murid yang biasa-biasa saja, namun hasil ujian nasionalnya sangat baik. Misalnya, sekolah-sekolah maarif “pinggiran” yang tidak punya basis massa dan figur tokoh (kiai) cenderung tidak memiliki jumlah peserta didik yang memadai. Namun demikian, justru tingkat kelulusannya 100% dibandingkan sekolah favorit. Entah faktor istighotsah dan sholawat yang barangkali membuat eksistensi sekolah-sekolah maarif.

Tahun 2016, SMP Maarif kutai Timur untuk kategori IPA menempati posisi 4 se kabupaten. Pun demikian dengan MTS Wahid Hasyim 01 Dau Malang, sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Miftahul Ulum yang berafiliasi ke LP Maarif juga lulus 100% dengan nilai yang memuaskan.

Harapan saya, pelaksanaan ujian nasional tahun 2017 ini berjalan dengan sukses, tidak ada lagi berita tentang kecurangan ujian nasional, dan yang terlebih lagi pelaksanaan ini dijadikan sebagai momentum untuk mengajarkan kepada peserta didik, bahwa ujian merupakan sebuah proses dan dinamika yang harus dilalui. ketika bisa lulus dalam ujian, maka level kita sebagai seorang anak manusia akan diangkat derajatnya.

Bukankah Tuhan menguji hambanya sesuai dengan kemampuan dan keimanannya? Lha itu kalau ujian dari Tuhan, sementara ujian nasional ini kan hanyalah ujian buatan manusia saja. Cukup belajar yang tekun dan jangan lupa berdoa sebagaimana sekolah-sekolah Islam ma’arif, disamping mereka belajar, mereka juga istighosah dan sholawat, hasilnya juga luar biasa.

Mari Istighotsah dan bersholawat sebelum musim ujian nasional…!!!

Balikpapan, 01 Februari 2017

Comments

comments

BAGIKAN
Artikulli paraprakGuru Tersengat Ayat
Artikulli tjetërGuru dan Murid Juara
Guru di Kalimantan Selatan, saat ini menjabat sebagai Wakil Sekjen Bidang Literasi dan Publikasi Karya Guru

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here