MAKASSAR, IGI.OR.ID— Yayasan Ashoka sukses menggelar pelatihan bertajuk “Guru Gaharu” yang berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Ahad, 15–17 Mei 2026. Bertempat di Aston Makassar Hotel & Convention Center, kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 80 peserta yang terdiri dari para pendidik dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan, dan 31 orang diantaranya adalah anggota IGI.
Pelatihan yang dikemas dengan apik ini fokus pada bagaimana para guru dapat meningkatkan keterampilan empati, kerja sama tim, berpikir kritis, dan pemecahan masalah untuk membawa perubahan positif yang nyata di lingkungan sekolah.
Menyalakan Semangat Perubahan dari Ruang Kelas
Direktur Ashoka Wilayah Asia Tenggara, Ibu Nani Zulminarni, yang hadir dalam momentum tersebut menegaskan pentingnya aksi nyata dan kolaborasi dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan saat ini. “Sekarang adalah waktunya perubahan, dan hal ini memerlukan kontribusi individu dan komunitas,” ungkap Ibu Nani Zulminarni dengan penuh penekanan.
Melalui pelatihan ini, Ashoka Indonesia berkomitmen untuk membekali para guru agar tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi agen perubahan (changemaker) yang mampu menggerakkan komunitas di sekitarnya.
Ruang Bertumbuh yang Memanusiakan Guru
Berbeda dengan diklat formal yang cenderung kaku dan monoton, Pelatihan Guru Gaharu berhasil menciptakan atmosfer belajar yang positif, penuh energi, dan menyentuh sisi humanis para pendidik. Salah satu sesi yang paling membekas bagi peserta adalah refleksi “Sungai Kehidupan”.
Endang Sulastri, seorang guru honorer asal Kabupaten Maros, membagikan kesan mendalamnya selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. “Mengikuti Pelatihan Guru Gaharu Sulsel bukan sekadar tentang duduk dan menerima materi baru. Pelatihan ini adalah sebuah ruang bertumbuh yang sangat membahagiakan, memanusiakan guru, dan berhasil menguatkan kembali alasan mengapa saya memilih profesi mulia ini,” ujar Endang.
Ia menambahkan bahwa sesi refleksi seperti Sungai Kehidupan benar-benar menyentuh kesadarannya untuk mengenali diri sendiri, berempati lebih dalam, serta menyadari bahwa setiap tantangan mengajar adalah bagian dari arus perjalanan untuk mendewasakan diri. “Atmosfer belajar di sini sangat positif, penuh energi, dan membuat ketagihan karena tidak terasa seperti diklat formal yang kaku,” lanjutnya.
Pesan untuk Pendidik di Sulawesi Selatan
Menutup momentum pelatihan tersebut, seorang guru dari kabupaten Maros Endang Sulastri juga menyampaikan pesan dan harapan besar bagi keberlanjutan program ini ke depan, khususnya bagi para guru di pelosok daerah. “Semoga semangat perubahan yang menyala selama pelatihan di Makassar ini tidak pernah padam saat kita kembali ke daerah masing-masing. Mari kita buktikan tagline ‘Mengubah Dunia dari Ruang Kelas’ bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata harian. Harapan saya, program luar biasa dari Ashoka Indonesia ini bisa terus berlanjut secara konsisten agar bisa menjangkau dan memantik pemikiran lebih banyak lagi guru hebat di pelosok Sulawesi Selatan,” harap Endang.
Dengan berakhirnya pelatihan pada hari Ahad, kurang lebih 80 guru yang menjadi peserta kini siap kembali ke daerah masing-masing. Mereka membawa pulang tidak hanya ilmu baru, tetapi juga komitmen untuk mengobarkan api perubahan di sekolah masing-masing demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.











