Ini Alasan Mengapa Workshop oleh IGI Kabupaten Sumbawa Barat berbeda dan Perlu Ditiru.

0
1098
LT Apriany NTB: Narasumber ketika berdiskusi dengan salah satu peserta workshop

@Apriyany, M.Ed, Sekretaris IGI Sumbawa Barat.

Ketika anda mendengar kata “workshop”, apa kesan pertama yang terlintas dalam pikiran anda?. Beberapa jawaban yang mungkin muncul adalah “formal, dapat sertifikat dan ada uang saku”. Iya, tidak dapat dipungkiri, itulah keadaan yang kebanyakan terjadi dalam kegiatan workshop. Umumnya, peserta menghadiri kegiatan workshop karena surat tugas dan kewajiban. Setelah workshop berakhir maka berakhir pula tugas dan kewajiban peserta.

Lantas apakah workshop KTI yang dilaksanakan baru-baru ini oleh IGI Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sama dengan workshop pada umumnya? Jawabannya “Tidak”. Inilah 5 alasan mengapa workshop yang dilaksanakan IGI-KSB berbeda dan perlu ditiru:

Pertama, workshop dilaksanakan atas dasar kebutuhan. Sebelum melaksanakan workshop, IGI-KSB telah menalaah beberapa masalah yang sedang dihadapi guru. Masalah teratas yang sedang dihadapi guru saat ini adalah kurangnya minat dan kemampuan guru dalam menulis. Olehkarenanya, IGI-KSB sepakat memilih workshop dengan tema “Membangun Budaya Literasi melalui Penulisan dan Lomba Karya Tulis Ilmiah” guna menjawab permasalahan guru tersebut. Ketepatan IGI-KSB dalam memilih tema menjadi juru kunci daya tarik guru untuk mengikuti workshop yang dilaksanakan.

Kedua, workshop tidak berorientasi kepada perolehan sertifikat. Sebelum kegiatan dilakukan, ketua panitia telah menekankan bahwa workshop yang dilaksanakan oleh IGI-KSB bukan untuk memperoleh sertifikat semata. Bahkan ketua panitia menyatakan secara tegas bahwa peserta tidak akan mendapatkan sertifikat apabila tidak mengumpulkan tugas apalagi tidak melakukan latihan di dalam kelas. Penyataan ketua panitia tersebut menjadi motivasi khusus bagi peserta untuk mengikuti workshop secara total dan maksimal.

Ketiga, Pembiasaan penerimaan “uang saku atau uang duduk” dihapus. IGI-KSB menegaskan bahwa sejatinya peserta mengikuti workshop adalah untuk mendapat ilmu. Jadi, kebiasaan untuk mengikuti workshop dengan iming-iming uang saku perlu dihapus agar niat mulia menghadiri majelis ilmu dapat terpelihara. Melalui pembiasaan ini diharapkan agar peserta menjadi lebih fokus dalam mengikuti acara.

Keempat,workshop dikemas dalam pola latihan terbimbing. Dengan pola ini, peserta melakukan latihan menulis melalui bimbingan oleh narasumber. Artinya, setiap peserta aktif melakukan latihan menulis berdasarkan pengalaman mengajar masing-masing sehingga peserta mendapat jawaban dan percerahan terhadap kesulitan yang dialami. Bahkan yang lebih unik lagi adalah peserta diberi kesempatan untuk mengumpulkan tulisan kepada narasumber setelah workshop berakhir. Selanjutnya narasumber akan melakukan revisi dan bimbingan lanjutan terhadap karya tulis yang dikirim.

Kelima, workshop dirancang sebagai kegiatan yang berkelanjutan. Artinya, workshop yang dilaksanakan tidak berakhir begitu saja. Peserta workshop diberikan kesempatan untuk menuangkan ilmu yang diperoleh dalam bentuk tulisan dan disarankan untuk dikirim pada lomba karya tulis ilmiah yang akan dilaksanakan 1 bulan setelah workshop diberikan. Hal ini tentu memberikan motivasi kuat bagi seluruh peserta workshop untuk menyelesaikan karya tulis mereka. Selain mendapat pengalaman menulis, peserta juga mendapat penghargaan khusus dengan diberikan kesempatan mengikuti lomba. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Itulah lima alasan kuat mengapa workshop yang dilaksanakan oleh IGI-KSB berbeda dari workshop pada umumnya. Budaya ini perlu ditiru untuk kemajuan kualitas pendidikan bangsa. Semoga ini bisa menjadi acuan bagi pihak lain yang ingin mengadakan hal serupa. Salam IGI salam sharing and growing together.

 

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here