​IMPIAN KUAT MEMBUAT BERLEBIHNYA TEKAT 

0
752

Gambar ini bercerita betapa seseorang bisa saja mengalami kenaikan tingkat kerajinan yang luar biasa dalam belajar sehingga dia bisa mencapai  titik kulminasi dari seluruh masa akademik yang dialami sepanjang sejarah hidupnya. Semuanya  karena adanya IMPIAN YANG KUAT.

Gambar ini saya buat dengan software Alias Sketchbook pada device Tablet Samsung A8 Sagusatab. Tujuannya  untuk mengenang sesuatu di masa lalu untuk diambil pelajarannya di masa kini. Gambar ini bercerita bahwa saya pernah menjadi anak yang sangat rajin, terajin seumur hidup saya. Ketika itu saya masih menjadi  siswa kelas 3 SMP di SMP 20 Semarang.  Saking rajinnya sampai-sampai ketika mengembalakan kambing, menyabit rumput, atau bahkan ketika memanjat pohon kelapa sekalipun buku selalu saya bawa. Apa yang bisa saya baca setiap ada kesempatan selalu akan saya baca karena cara termudah belajar adalah dengan membaca. Ini cocok  terutama untuk ilmu-ilmu sosial dan ilmu bahasa, sedangkan ilmu eksak untuk mempelajarinya kita harus banyak melakukan praktek. Sekalipun efektifya dengan praktek, membaca tetap diperlukan. Sayangnya aktivitas membaca tidak bisa saya lakukan khusus ketika memanjat pohon siwalan  (lontar) untuk memanen buah siwalan. Pohonnya yang sangat licin dan bentuknya  yang “seksi” karena ramping di tengah dan besar di pangkal dan ujung membuat saya harus berkonsentrasi penuh pada slampar (alat pemanjat dari tali gedebog pisang yang dipasang di kaki) dan tali pengerek siwalan yang ujungnya terikat di pinggang saya. Tambahan lagi, dahan siwalan yang rapat dan berduri juga memerlukan keahlian khusus untuk bisa menyusup di sela-selanya. Praktis membaca bukan aktivitas yang disarankan untuk kegiatan panjat memanjat siwalan ini. Kecuali mau nekat hehehe….

Mengapa saya bela-belain membaca bahkan di atas pohon kelapa yang memiliki ketinggian mencapai  20 meter? Dari puncak pohon kelapa itu saya bisa melihat pemandangan kapal di laut padahal jarak kampung saya di jalan Widuri desa Gebangsari saat itu (atau berubah menjadi Bangetayu Kulon saat ini) ke pantai lebih dari 5 kilo.  Di situ juga saya biasa mencari tempat bertenger paling nyaman di antara celah pelepah kelapa yang saya anggap kuat menopang bodi saya yang masih ramping pada saat itu. Sambil menikmati pemandangan kapal laut dan sepoi sepoi angin di puncak pohon kelapa itulah saya membaca! Semua itu saya lakukan karena saya memiliki impian atau cita-cita yang kuat untuk masuk ke salah satu SMA favorit di Kota Semarang, yaitu SMA 3 Semarang. Konon SMA itu bahkan termasuk kategori 10 SMA terbaik di Indonesia. Saat ini dua alumninya, mbak Ani dan Mbak Rini sedang membantu kabinet Presiden Jokowi di kemenkeu dan kemenlu. Mereka adalah para kakak kelas perempuan yang hebat di jaman kepala sekolah Pak Sutiman.  Hebat kan?

Sayangnya, begitu saya berhasil  diterima masuk SMA tersebut ternyata tingkat kerajinan saya  justeru menurun drastis. Hal ini karena saya merasa cita-cita sudah tercapai. The dream has come true. Nothing  should be done other than celebrating it all the time. Disinilah pelajaran hidup bisa kita ambil. Saya tidak memiliki cita-cita lanjutan yang pasti selepas mencapai cita-cita masuk SMA favorit sehingga ketika saya mengalami culture shock akibat bersekolah dari desa waktu SMP dan berpindah ke tengah kota waktu SMA, saya menjadi abai terhadap masa depan. Saya nggak tahu harus ngapain. Hidup hanya berjalan begitu saja tanpa saya tahu arah yang pasti mau kemana. Pada suatu ketika sempat juga ada angan-angan kepingin masuk Akpol, kepingin juga masuk Arsitek atau Teknik Sipil Undip, tetapi itu hanya angan semu saja.

Jujur sebetulnya waktu SD saya pernah terbersit ingin menjadi guru. Kelihatannya menjadi guru itu enak. Gaya guru yang santun, anggun dan intelek serta dihormati oleh penduduk desa menjadi sesuatu yang sangat menginspirasi Mampuono kecil. Namun seiring perkembangan usia, cita-cita itu perlahan terkubur oleh zaman yang bergerak dan berubah cepat. Guru pada saat saya SMA bukanlah profesi menarik lagi. Terbukti semua anak guru yang bersekolah bersama dengan saya tidak ada yang berminat menjadi guru karena melihat “nasib kurang beruntung” yang dialami sang ortu. Mereka harus membanting tulang menghidupi keluarga dengan gaji yang paspasan. That’s it! Aku wegah dadi guru. Itu keputusan saya ketika berhadapan dengan kenyataan.

Namun ternyata Tuhan memang sejatinya akan memperjalankan hidup saya untuk menjadi seorang guru, terbukti Beliau mengutus kakak saya untuk memastikan semuanya. Kakak saya (yang minggu lalu baru diangkat menjadi salah satu Kasek SMA di Semarang, selamat, semoga hidup beliau semakin barokah dengan ilmu dan amal yang bermanfaat) itulah  yang dulu dengan gencar memaksa saya untuk harus kuliah di IKIP Semarang yang notabene adalah perguruan tinggi penghasil guru.

Saya sebenarnya ingin memberontak karena Saya tidak suka dipaksa-paksa. Apalagi ketika saya bercerita bahwa saya akan memasuki IKIP Semarang ternyata banyak kawan dekat yang mentertawakan saya. Mereka bertanya, kenapa harus jauh-jauh bersekolah di sekolah favorit kalau hanya ingin masuk IKIP Semarang? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang cukup menusuk gendang telinga itu. Saya hanya tersenyum kecut dan menunduk kurang percaya diri. Saya melihat teman sebangku begitu bangganya sudah mendaftarkan diri pada fakultas teknik di Institut Teknologi Bandung atau teman sekampung yang mendaftar Teknik Sipil Universitas Diponegoro dan juga sahabat kelas satu yang sudah mendaftar di fakultas kehutanan Universitas Gadjah Mada serta banyak lagi yang lainnya yang mendaftar ke PTN-PTN favorit. Saya cari tidak satupun teman saya yang mendaftar di IKIP Semarang.

Apa boleh buat inilah nasib. Saya tidak punya pilihan lain selain mengikuti instruksi atau lebih tepatnya paksaan dari kakak saya. Saya terpaksa memilih masuk IKIP Semarang. Saya memilih jurusan kimia walaupun kakak menginginkan saya masuk jurusan fisika atau matematika. Bayangan guru kimia yang baik dan guru dua mapel lain yang tidak sememikat hati guru kimia ketika menyampaikan materi ajar membuat saya memilih jurusan kimia. Belakangan baru saya ketahui bahwa ternyata yang “laris” adalah kedua mapel itu.

Nasi sudah menjadi bubur, UMPTN sudah didepan mata, maka saya harus memilih untuk patuh kepada kakak karena ancamannya jelas dan nyata. Kalau tidak di IKIP Semarang lebih baik saya tidak kuliah karena ekonomi orangtua tidak mungkin dapat menyokong biaya kuliah saya. Ini adalah takdir saya, begitu saya berpikir pada saat itu.
Perlu diketahui bahwa ibu saya walaupun buta huruf tetapi beliau adalah seorang wanita karir yang gigih. Beliau bisa melakukan perhitungan aritmatika yang kecepatannya mungkin seperti kecepatan hitung kalkulator Casio yang paling canggih. Saya selalu kalah dalam menghitung jumlah belanjaan yang dibeli oleh pelanggan walaupun saya menggunakan coret-coretan di atas kertas atau bahkan menggunakan kalkulator. Beliau cukup mencongak saja semuanya sudah beres.  Namun sayangnya pada saat itu karir beliau sebagai entrepreneur woman (baca: bakulan sembako) tidak sedang moncer alias stag. Ini bisa dilihat dari barang dagangan yang beliau jajakan di kiosnya di Pasar Waru Kaligawe tidak selalu laku keras. Sembako yang laku pun tidak menghasilkan laba yang sangat menarik sehingga bisa digunakan untuk membiayai anak-anaknya kuliah di perguruan tinggi favorit
Eventually  sayapun kuliah di jurusan kimia  IKIP Semarang  dan akhirnya menjadi guru.  Semuanya berjalan begitu saja meski sang waktu menjadi saksi bahwa perkuliahan itu saya jalani dengan semangat seperti kerakap tumbuh dibatu. Semangat hadir di perkuliahan dan mengerjakan tugas yang saya jalani  cenderung seperti hidup segan mati tak mau. Imbas dari perasaan   inferior karena kuliah di perguruan tinggi yang dianggap kelas “embek” rupanya berpengaruh pada banyak hal termasuk dalam saya bersikap dan bertindak ketika menjalani masa-masa perkuliahan, dan bahkan sekian tahun sesudahnya. Menjadi troublemaker di kelas atau mengerjai dosen tua tampaknya  sudah   menjadi kebiasaan buruk yang mengasyikkan. Astagfirullahal adzim wa naudzubillahi min dzalik ‘aizhon.  Alhamdulillah pada saatnya saya mengalami pertobatan dan sebagai tanda saya sudah insyaf  saya datangi dosen saya dan saya cium tangannya  ketika saya berkesempatan diundang ke IKIP Semarang  (kini menjadi Unnes)  baik ketika menang lomba maupun seminar.

Suatu ketika pada waktu yang sudah ditentukan oleh Tuhan, saya mendapatkan ilham. Tiba-tiba terbersit niat bahwa saya ingin menjadi guru yang berbeda dengan guru yang lain. Jika guru kimia pada umumnya hanya mengajar kimia dengan bahasa Indonesia  maka saya ingin mengajar kimia dengan pengantar bahasa Inggris. Bukan main-main saya ingin sekali mengajar di sebuah sekolah internasional. Mungkinkah?

Ternyata benar kata David J Scwartz penulis buku tersebut yang berjudul The Magic of thinking big  atau Berpikir Dan Berjiwa Besar, bahwa keyakinan akan terjadinya sesuatu akan membuat otak berpikir dan mencari cara bagaimana sesuatu itu bisa terjadi. Tuhan sendiri dalam sebuah hadits Qudsi menyatakan bahwa Beliau adalah seperti apa yang dipikirkan hamba-Nya. Alhamdulillah banyak sekali yang saya yakini akan terjadi dan saya berdoa dan berusaha sungguh-sungguh untuk mencapainya menjadi  ijabah pada akhirnya. Bahkan banyak sekali bonusnya. Ini tentu sebuah ujian, karena tidak semua ujian adalah penderitaan. Justeru ujian kenikmatanlah yang membuat kita sering terlena dan lupa, Yang penting saya berusaha berniat bahwa apa yang saya lakukan adalah dengan niat untuk menjadi khairunnas (sebaik-baik manusia) yang syaratnya adalah menjadi anfaukum  linnas (menjadi paling berguna bagi umat). Apapun yang saya lakukan Insya Allah saya sisipkan niat untuk ke pergunakan bagi umat. sehingga tidak keliru apabila saya berharap ada muatan ibadah dalam setiap action yang saya lakukan.

Profesi guru lah yang membuat saya cukup  bisa berbuat menurut ukuran saya, apalagi dengan bergabung dalam organisasi para guru hebat di IGI (Ikatan Guru Indonesia), semakin saya berharap bisa lebih berbuat  tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain, umat, bahkan kalau bisa bangsa dan negara ini.

MAMPUONO-Sekjen IGI

(Sesi menulis dengan mulut melalui program SAGUSATAB -Satu Guru Satu Tablet)

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here