TERKUNCI DALAM KAMAR, KENANGAN GURU SAUDARA YANG TAK TERLUPAKAN.

2
954

Salah satu yang luar biasa di IGI adalah ikatan diantara sesama anggota. IGI menjadi organisasi dimana pimpinan dan anggota hampir tanpa sekat.

Nah, tadi malam, 14 Januari 2017, saya pun kembali menjalani program guru saudara. Oleh kawan-kawan IGI Pandeglang, saya tidak diinapkan di Hotel atau wisma tetapi di rumah ibu Aan dan Haji Zainuddin, guru pengurus IGI Pandeglang.

Tradisi guru saudara sesungguhnya sudah lama dijalankan IGI, berawal ketika saya ditunjuk menjadi Ketua Panitia Nasional Kongres II IGI. Saat itu 678 guru dari Aceh hingga Papua berkumpul di Makassar, berbeda dengan kongres organisasi pada umumnya yang diinapkan di hotel, wisma atau asrama, ratusan guru ini malah diinapkan di rumah sesama guru di Makassar. 

Guru-guru dari berbagai pelosok tanah air ini dijemput oleh guru-guru Makassar, diantar dan diinapkan di rumah guru mereka, tidak ada kewajiban menyiapkan sarapan pagi atau makanan lainnya karena panitia sudah menyiapkannya di lokasi Kongres. Tetapi yang namanya saudara tetaplah saudara, kawan-kawan guru tuan rumah hampir semuanya tak membiarkan guru-guru itu meninggalkan rumahnya sebelum sarapan pagi. Mereka menyiapkannya secara ihlas dan bahkan dilarang sekalipun, mereka tetap menyiapkannya.

Guru saudara ini bukan hanya sukses meminimalisir biaya, namun juga sukses merajut tali kebangsaan diantara sesama guru dari Aceh hingga Papua. Tak jarang para guru ini masih terus berkomunikasi dan saling membantu, bahkan ada guru yang mendapat bantuan luar biasa ketika anaknya melanjutkan pendidikan di kota guru saudaranya. Sebuah efek yang luar biasa telah lahir dari guru saudara.

Ketika membuat Juknis Kelender Kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru 2017, saya pun mencantumkan pelaksanaan program guru saudara dalam kegiatan IGI yang menghadirkan Pelatih Nasional IGI. Saya pun menjadi yang pertama menjalani guru saudara di tahun 2017 ini. Ibu Aan dan Pak Haji Zainuddin begitu baik, saya ditempatkan dilantai 2 rumahnya, kebetulan ada dua kamar kosong karena anak-anak mereka sedang melanjutkan pendidikan.

Ketika adzan subuh berkumandan, saya pun terbangun, sholat subuh, lalu mandi setelah mengecek WA dan telegram kawan-kawan IGI.

Kenangan tak terlupakan pun terjadi ketika saya mencoba membuka pintu kamar, berulang kali saya mencoba dan selalu gagal membuka pintu. Saya pun khawatir, jika memaksakan justru bisa mematahkan kunci, saya mencoba menghubung tuan rumah dan tak diangkat, satu per satu pengurus IGI Pandeglang saya telepon dan tak seorang pun menerima panggilan saya dan akhirnya sekertaris wilayah IGI Banten terhubung. Pak Harjono pun menghubungi tuan rumah dan kunci saya cabut dan saya dibantu Pak Haji Zainuddin membukanya dari luar.

Mengapa saya berupaya maksimal membuka pintu dan mencari bantuan, karena saya tidak mau dituduh “masih tidur”….he..he…

Ayo, kawan-kawan IGI, kita kembangkan gerakan guru saudara ini agar kita betul-betul bisa merajut tenun kebangsaan sekaligus berupaya mandiri, bebas APBD dan APBN karena Pelatih Nasional pun tak harus menginap di Hotel.

Jakarta, 15 Januari 2017
Muhammad Ramli Rahim

Ketua Umum Pengurus Pusat

Ikatan Guru Indonesiaz

Comments

comments

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here