SURVEI: LEBIH DARI 50% GURU MEMBERIKAN NILAI C UNTUK SEMESTER PERTAMA MENDIKBUD DITANGAN NADIEM MAKARIM

0
837

LEBIH DARI 50% GURU MEMBERIKAN NILAI C UNTUK SEMESTER PERTAMA MENDIKBUD DITANGAN NADIEM MAKARIM

Alhamdulillah, Survey Kinerja Kemdikbud dalam Persepsi Guru oleh IGI diikuti oleh 336 Responden tuntas, meskipun hanya dilaksanakan dalam dua hari, 18-19 Mei 2020.

Survey ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Harkitnas 20 Mei 2020 dengan berharap pada bangkitnya dunia pendidikan kita di masa Pandemi Covid-19.

Metodenya, IGI memilih 380 guru pada usia 25 -60 tahun yang tersebar pada 34 Provinsi di Indonesia. Dan hingga pukul 19.00 WIB kemarin yang kami patok sebagai penutupan survey, ada 336 yang memberikan respon dan hanya 44 yang tidak memberikan responnya. IGI menggunakan google formulir dan konfirmasi bisa melalui WA.

Ikatan Guru Indonesia mengajukan 6 pertanyaan seputar 4C yang harus dijawab responden terkait satu semester kemdikbud ditangan Nadiem Makarim.

Pertama pada sisi komunikasi kemendikbud ditangan Nadiem Makarim dengan para guru dan masyarakat. Hasilnya 54,2% responden menganggap kemampuan komunikasi Kemdikbud dalam satu semester dipimpin Nadiem Makarim bersama jajarannya hanya mendapat nilai C atau biasa saja, tak ada yang luar biasa, bahkan 10, 7% memberikan nilai D atau menganggap komunikasi belum baik dan ada 5,4% yang memberikan nilai E atau menganggap komunikasi Kemdikbud masih buruk terutama diera pandemi Covid-19. Meskipun demikian sudah ada 23,2 % yang memberikan nilai B atau menganggap komunikasi Kemdikbud sudah baik dan hanya 6,5% yang memberikan nilai A atau Sangat baik.

Kemungkinan besar buruknya komunikasi Kemdikbud ini terjadi karena di semester pertama kemdikbud, hampir semua jajaran eselon 1 berstatus Plt dan irit bicara, sementara Nadiem berbeda dengan menteri sebelumnya, Nadiem termasuk yang sulit dikontak langsung termasuk oleh organisasi-organisasi guru, ini berbeda dengan menteri-menteri sebelumnya.

Kedua terkait Collaboration, sebanyak 58% responden memberikan nilai C atau menganggap kemampuan kemdikbud membangun kolaborasi di semester pertama biasa-biasa saja, sementara 13,7% memberikan nilai D atau kemampuan Kemdikbud membangun kolaborasi masih belum baik dan parahnya ada 4,8% memberikan nilai E dan yang menyatakan bahwa kemampuan kemdikbud membangun kolaborasi masih buruk.

Meskipun demikian berita baiknya bahwa sudah ada 18,2% Responden memberikan nilai B atau menyatakan sudah baik tapi hanya 5,4% memberikan nilai A atau menyatakan Sangat baik.

Minimnya kolaborasi kemdikbud dengan berbagai institusi dalam mengatasi problem pembelajaran ditengah Covid 19 ini mungkin menjadi penyebab responden menganggap kemdikbud biasa-biasa saja. Bahkan kemdikbud dianggap berlepas tangan dengan menyerahkan proses belajar kepada layanan pendidikan berbayar diawal-awal pandemi.

Ketiga, terkait Critical Thinking dan Problem Solving yang kami pisahkan antara kemampuan berpikir kritisnya dan kemampuannya menyelesaikan masalah.

Berdasarkan survey kinerja kemdikbud pada persoalan Critical Thinking dan Problem solving semester pertama ini, mayoritas responden masih memberikan nilai C.

Sebanyak 53,3 persen responden dari kalangan guru ini menganggap kemampuan kemdikbud berpikir kritis atas segala masalah masih biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, Merdeka Belajar belum tampak akan seperti apa wujudnya. Bahkan dimasa pandemi justru seperti hilang tertelan wabah. Sedihnya karena masih ada 19,9% yang menganggap Kemdikbud belum mampu berpikir kritis. Bahkan 3,9% responden menganggap critical thinking kemdikbud buruk. Dari sisi baiknya, ada 16,7% responden yang menganggap kemdikbud telah memiliki kemampuan berpikir kritis sudah baik dan hanya 6,3% menganggap sangat baik

Selanjutnya pada kemampuan kemdokbud menyelesaikan masalah atau problem solving, 50,9% responden menganggap kemampuan kemdikbud biasa-biasa saja dalam memberikan solusi atas masalah pendidikan dan masalah Covid-19 dalam dunia pendidikan dan cenderung lebih banyak berlepas tangan. Selanjutnya ada 20,2% menganggap kemdikbud belum mampu menemukan problem solving dan memberikan nilai D dan 7,1% menganggap problem solving kemudian masih buruk dan memberikan nilai E.

Selanjutnya ada 17,9% yang menganggap kemampuan problem solving kemdikbud sudah baik dan memberikan nilai B dan hanya 3,9% yang menyebutnya sangat baik dan memberikan nilai A.

Bagian keempat, yang menjadi pertanyaan kelima dan keenam adalah terkait Creativity and Innovation. Sebanyak 18,8% menganggap Kemdikbud belum kreatif dengan memberikan nilai D sementara 3,3% bahkan menganggapnya buruk dengan memberikan nilai E. Responden mayoritas memberikan nilai C yaitu sebesar 52,4% dan menganggap kreativitas kemdikbud di semester pertama biasa-biasa saja. Berita baiknya karena masih ada 19% yang memberikan nilai B atau kreativitas baik lalu ada 6,5% yang menyatakan kreativitas kemdikbud sangat baik dengan memberikan Nilai A.

Pada pertanyaan terakhir terkait Inovasi yang dilakukan Kemdikbud tampak jelas bahwa kemdikbud dengan rentetan episode merdeka-merdekanya masih dinilai “biasa saja” oleh responden dengan memberikan nilai C, terlihat ada 47,9% yang memberikan nilai C. Lalu 18,2% menganggapnya belum inovatif dan 5,1% menganggap inovasi Kemdikbud buruk. Meski demikian masih ada 22% responden yang menganggap kemdikbud sudah Inovatif dengan memberikan nilai B dan ada 6,8% memberikan nilai A atau menganggap kemdikbud sudah sangat inovatif.

Karena itu secara keseluruhan tampak bahwa guru-guru Indonesia yang tersebar di 34 Provinsi di Indonesia masih memberikan nilai C buat semester pertama kemdikbud dipimpin oleh Nadiem Makarim dan menganggapnya biasa-biasa saja padahal harapan publik ke Nadiem Makarim atas menularnya sukses beliau di Gojek ke Kemdikbud sangat tinggi.

Biarlah itu menjadi penilaian awal semoga semester selanjutnya kemdikbud bisa lebih baik lagi terutama dirasakan oleh para guru yang menjadi tulang punggung pendidikan.

Jakarta, 20 Mei 2020
Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia

Comments

comments