PGRI MENGGUNTING DALAM LIPATAN

1
14390

Kekecewaan kawan-kawan Organisasi Profesi Guru diluar PGRI tergambar jelas dalam perhelatan Hari Guru Nasional 2016 di SICC Sentul kemarin.

Bukan karena Presiden menggunakan baju PGRI, bukan karena Plt Ketua PB PGRI yang tampil sendiri memberi sambutan dan bukan pula karena PGRI memobilisasi massa ke Sentul tapi lebih pada “penghianatan” yang dilakukan Unifa Cs terhadap organisasi guru lainnya.

Berbulan-bulan kawan-kawan IGI, Pergunu, FSGI, FGII, PGSI, Himpaudi, PGM dan lainnya tentunya bersama PGRI membahas tentang Hari Guru Nasional dan saat Pak Muhadjir Effendy menjabat Mendikbud, Forum Guru Muhammadiyah bergabung.

Jumat, 25 November 2016, Oleh Pak Anas M Adam, IGI sebagai salah satu pengisi acara diundang ke Istana untuk mengikuti rapat dengan Karungga Istana di Istana Presiden. Disanalah Penghianatan PGRI terhadap kesepakatan-kesepakatan rapat-rapat maraton terungkap. Organisasi guru selain PGRI dikibuli oleh tetangga tua PGRI.

Saya sebagai Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia datang terlambat karena mutar-mutar Istana plus kemacetan bersama Iwan Ridwan Ketua Wilayah IGI DKI dan Danang Hidayatullan Staf Khusus Ketum IGI yang IGI percaya sebagai Korlap Utama dan akan menampilkan Puisi dalam acara tersebut.

Saya memang selama ini tidak pernah ikut rapat maraton itu, tapi sebagai ketua umum, saya selalu mendapatkan laporan lengkap setiap pertemuan dan Danang Hidayatullan serta Iwan Ridwan sering ikut rapat mendapingi Sururi Azis yang runut mengikuti rapar.

Setelah deputi menjelaskan, saya masih mendapati Direktur Pembinaan Guru Dikmen Anas M Adam yang memimpin tim kemendikbud membahas banyak hal lalu dilanjutkan oleh Unifa Rosidi Plt Ketua PB PGRI. Saya pun heran dengan semua pembahasan, bahkan draft yang dibagikan sangat jauh dari kesepakatan demi kesepakatan yang dibuat dari pertemuan ke pertemuan yang tentunya menguras dana dan energi.

Kesepakatan-kesepakatan rapat organisasi guru dieliminir dan diganti dengan dominasi PGRI.

1. Disepakati yang jemput presiden semua ketua organisasi guru diganti dengan Plt Ketua PGRI saja.
2. Hymne dan Mars PGRI yang disepakati tidak ada, diadakan.
3. Pakaian Putih bawahan gelap diganti dengan seragam PGRI.
4. Sambutan Ketua Organisasi Guru yang disepakati ditiadakan untuk menghormati semua organisasi guru tiba-tiba diadakan.
4. Undangan 10.000 kemudian oleh PGRI ditambahkan 6500 di luar ruangan, sementara organisasi lain dilarang menambah personil dan menjadi pekerjaan berat kami menghalangi kawan-kawan guru untuk tidak berangkat ke SICC.
5. Presiden disepakati diusulkan menggunakan baju putih dan bukan baju PGRI, dalam rapat, Plt Ketua PGRI mengarahkan Protokol kepresidenan agar Presiden Jokowi menggunakan Baju PGRI.
Saya dan Ketua Umum FGII pun saling bisik, mengapa begitu berubah pembahasan ini?

Kami pun curiga, Direktur Anas M Adam sedang berkonspirasi dengan PGRI atau jangan-jangan Pak Anas ini adalah anak buah PGRI di Kemendikbud?

Namun Setelah mengkonfirmasi dengan Pak Anas M Adam. Kemendikbud telah bersurat ke Presiden Jokowi dengan point-point seperti yang telah disepakati dalam rapat maraton organisasi-organisasi guru. Dan disinilah penghianatan PGRI dimulai. Diam-diam PGRI menelikung, melalui orang dekat ibu negara, Unifa Cs bersurat langsung ke Presiden Jokowi, sesuatu yang amat sangat tidak etis dilakukan oleh pendidik yang harusnya memegang kesepakatan, kesepahaman dan kebersamaan. Mufakat adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dengan menelikung bergerak diluar kesepakatan.

IGI dan organisasi guru lainnya pun bisa melakukannya hal sama tapi kami memilih untuk mempercayakan ke kemendikbud sebagai etika bersepakat dan bermufakat.
Akhiranya Saya dengan menyebutkan posisi saya sebagai Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia dan Ibu Tety Sulastri sebagai Ketua Umum FGII pun mengajukan keberatan karena kesepakatan dengan draft seperti langit dan bumi.

Protes ke Karungga ini kemudian memberi kesan HGN tidak siap dan belum kompak. Bahkan Deputi pun berujar, ini pertama kalinya ada rapat di karungga yang belum disekapati tetapi sudah disodorkan dan dibicarakan.

Andai saja semua kesepakatan rapat-rapat sebelumnya dijadikan draft rapat secara utuh dengan staf kepresidenan dan kemendikbud tidak memberi ijin PGRI menambah 6500 diluar gedung tanpa kesepekatan dengan organisasi guru lainnya, maka Kegaduhan rapat dan kesan ketidaksiapan HGN tak perlu ada.
Tapi alhamdulillah sikap bijaksana Staf Kepresidenan membuat kami saat itu sedikit lega meski pun tentunya kami tidak puas :
1. Meskipun yang jemput presiden disepakati Plt Ketua PB PGRI tetapi tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga semua Pimpinan Organisasi guru memiliki posisi dan kedudukan yang sama.
2. Hymne dan Mars PGRI ditiadakan dan cukup Hymne Guru yang menjadi Hymne bersama Guru Indonesia.
3. Peserta simposium, Gupres dan Inobel dipersilahkan menggunakan baju putih dan bawahan gelap, bukan baju PGRI, sementara itu, IGI, FGII beserta orprof lain dipersilahkan menggunakan baju putih bawahan hitan atau baju organisasi guru masing-masing.
4. Karena PGRI diperbolehkan menghadirkan 6500 guru diluar kesepakatan awal, maka organisasi lain yang ternyata anggotanya yang hadir lebih dari kuota agar tidak dilarang, seperti kemendikbud tidak melarang PGRI. Kemendikbud harus konsisten bahwa yang masuk kedalam gedung hanya 10.000 guru sesuai kuota masing-masing.
Meski demikian, IGI akan tetap konsisten hanya akan memberikan kesempatan bagi anggota yang punya undangan saja yang hadir. IGI hanya meminta Presiden menyapa guru-guru IGI di seluruh Indonesia yang sedang berlatih meningkatkan kompetensinya dan tersambung via Vicon ke SICC
5. Keputusan presiden menggunakan baju apa, sepenuhnya menjadi keputusan presiden tetapi karena mengingat ada 6000 guru dalam ruangan bukan anggota PGRI dan berasal dari organisasi guru lainnya yang bukan PGRI, maka kami dari IGI (Ikatan Guru Indonesia) secara khusus meminta agar tidak terjadi kegaduhan dalam ruangan saat presiden masuk dan memberi sambutan maka sebaiknya Presiden memilih untuk TIDAK MENGGUNAKAN BAJU PGRI.

Diluar 5 hal tersebut diatas, disepakati bahwa setelah seremonial, Presiden akan menyapa guru dan mengunjungi stand-stand pameran dimana IGI akan menyiapkan sarana Vicon agar presiden bisa menyapa guru-guru IGI yang sedang melakukan pelatihan sebagai upaya peningkatan kompetensi guru pada lebih dari 200 titik pelatihan se Indonesia. Ini adalah bagian dari upaya IGI agar kerinduan guru bisa terobati tetapi tidak perlu melanggar kesepakatan dengan memobilisasi massa ke SICC.

Satu hal yang aneh adalah personil PGRI yang mengikuti rapat begitu banyak tapi organisasi guru selain PGRI hanya IGI dan FGII. Semoga saja mereka diundang tapi berhalangan, bukan karena memang sengaja tidak diundang. Tapi belakangan saya diinformasikan pak Anas bahwa memang yang diundang hanya pengisi acara.
Ke esokan harinya IGI menjadi sorotan pihak Protokol Kpresidenan karena dianggap berpotensi membuat kegaduhan. Bebarapa organisasi guru kemudia dipanggil untuk menandatangani penyataan siap menjaga dan membuat nyaman suasana saat Presiden memasuk SICC dan tentu saja Sururi Azis yang mewakili IGI akan bertanda tangan karena sepenuhnya kami yakin guru-guru IGI adalah guru yang sesungguhnya, pendidika dan teladan dan akan menjalan semuanya sesuai koridor.

hgn-2016-igi-2

hgn-2016-igi-1

JALANNYA HGN

Alhamdulillah, IGI mendapat “rezeki anak sholeh”, betapa tidak, logo Ikatan Guru Indonesia tepat berada dibelakang podium utama sehingga siapapun yang berpidato, siapapun yang tampil akan selalu ada tulisan Ikatan Guru Indonesia di foto dan vidionya termasuk saat Dirjen GTK Sumarna Surapanata, Mendikbud Muhadhir Effendy, serta Presiden Joko Widodo. Bahkan saat Plt Ketua PB PGRI sambutan, latar Ikatan Guru Indonesia pun begitu jelas.

Kegembiraan kawan-kawan IGI pun meluap, medsos mulai ramai dan saya pun mengeluarkan Instruksi karena kawan-kawan PGRI sudah muali gaduh didalam gedung, mereka bahkan menyoraki kawan-kawan IGI ketika tampil membacakan puisi dan memaksa ibu Unifa berdiri menenangkan anggotanya yang kelihatannya memang sulit diatur. Padahal saat rapat di Istana, Unifa menjamin, setiap 25 guru, akan ada 1 korlap yang siap mengamankan.

Saya pun mengirim Instruksi Ketum kepada seluruh anggota IGI yang hadir di SICC yang diatas saya tuliskan “saya kirim ini ke wartawan” agar mereka betul-betul serius menahan diri meskipun sebelum masuk SICC semuanya sudah menjalai breafing dibawah komando Cak Sururi Azis.

Alhamdulillah, tampaknya Presiden memahami semuanya, meskipun datang dengan Baju PGRI, berpidato dengan latar IGI namun beliau menyempatkan diri menyebut satu per satu organisasi guru yang hadir di SICC, sebuah sikap yang luar biasa dalam menjaga kesatuan dalam kebersamaan.

IGI pun mengucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi dan Ibu Negara yang telah mengunjungi stand pameran IGI bahkan menyapa kawan-kawan guru yang sedang pelatihan dan vicon ke SICC.

IGI Secara khusus berterima kasih kepada Seamolec dan Seameo atas bantuannya menyambung kawan-kawan IGI di seluruh Indonesia yang sedang worksop dan pelatihan dengan SICC Sentul dan tentunya siapapun dia, kami berterima kasih desainer panggung yang telah menempatkan IGI pada posisi terhormat. Kami guru IGI mendoakan semoga bahagia dunia dan akhirat.

Rasa bangga pastinya kami ucapkan kepada kawan-kawan IGI yang hadir di SICC, kita semua guru hebat yang mampu menahan diri meskipun diprovokasi habis-habisan oleh mereka-mereka yang berbaju PGRI, kawan-kawan IGI daerah yang tak henti melakukan upaya peningkatan mutu guru, kita semua bisa buktikan bisa vicon dan tersambung se Indonesia.

Kini kalian semua tidak perlu takut lagi pada intimidasi segelintir kepala sekolah, segelintir pejabat dinas, bahkan oknum kepala dinas dan oknum bupati sekalipun yang menekan dan menghambat upaya peningkatan mutu guru yang dilakukan IGI hanya karena fanatisme buta terhadap PGRI sekaligus penikmat PGRI. SICC sudah menjadi saksi bahwa selicik apapun mereka, Allah memberi tempat terbaik buat IGI. Jika mereka berani mengembalikan 100% PGRI ke guru, rasa-rasanya kita bisa memikirkan untuk menggabungkan kembali seluruh organisisi guru.

Meski demikian, beberapa kawan-kawan organisasi guru lain menyampaikan kekecewan mereka atas penghianatan PGRI. Saya hanya berujar “mungkin itu terjadi karena pimpinan-pimpinan mereka mulai dari pusat hingga kabupaten/kota mayoritas BUKAN GURU” dan kini sudah seharusnya Organisasi Guru Dikembalikan Ke Guru.
Salam Hormat
Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Pengurus Pusat
Ikatan Guru Indonesia

Comments

comments

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here