Penerbangan Pertamaku melalui Gerakan Literasi dari IGI

0
800

Pada awal saya bergabung dengan IGI (Ikatan Guru Indoensia) karena tertarik dengan kegiatan PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) yang secara periodik dilaksanakan oleh pengurus di berbagai daerah dan wilayah. Secara bersamaan saya bergabung sebagai anggota sekaligus sebagai pengurus wilayah Sumatera Selatan (Sumsel), sungguh luar biasa perasaan yang saya rasakan pada saat itu. Saking antusiasnya bergabung, sampai jabatan Wakil Kepala Sekolah saya lepas dengan mengajukan pengunduran diri secara langsung dengan menghadap Kepala Sekolah. Saya berfikir pada saat itu akan sering ke kota Palembang untuk menghadiri rapat pengurus, mengingat saya tinggal di Muara Enim dengan jarak 180 km lebih kurang 4 jam perjalanan dengan mobil. Ternyata di IGI rapatnya pakai jalur online via telegram, dan kegiatan-kegiatan seminar dan diklat pun dilakukan pada hari sabtu dan minggu. Sehingga walau aktif sebagai pengurus, tugas utama sebagai guru tidak terganggu. Dengan situasi yang seperti ini Kepala Sekolah memberikan mandat kepada saya untuk kembali  menjadi sebagai wakil untuk membantu kerjanya.

Sungguh di IGI semuanya diluar dugaan, dengan IGI saya mendapatkan pengalaman rapat online yang sangat seru dengan berbagi ide, saling memotivasi, memberi masukan, memberi semangat, dan memupuk rasa persaudaraan yang luar biasa tanpa batasan tempat dan waktu. Lebih luar biasanya lagi melalui IGI juga saya mendapatkan pengalaman penerbangan pertama kali. Dengan gaji yang pas-pasan akan berfikir beribu kali untuk naik pesawat terbang, tanpa di duga melalui kegiatan Gerakan Literasi IGI mendapat tiket Pulang Pergi secara gratis oleh pihak Panitia  yang dikirim melalui email pribadi.

Sebenarnya saya bukanlah penulis yang produktif, sangat malas dalam menulis terutama yang berhubungan dengan karya ilmiah yang harus banyak membaca referensi. Pada awalnya saya tertarik mengikuti seleksi peserta ToT Literasi dari pengurus pusat IGI melihat kuota Provinsi Sumsel masih kosong. Karena merasa sebagai pengurus wilayah saya memaksakan diri untuk ikut seleksi, jangan sampai dari sumsel tidak ada peserta, akhirnya naskah jurnal untuk kepentingan kenaikan pangkat saya kirimkan ke email pengurus IGI pusat. Gayung bersambut, inilah saatnya saya harus melesat untuk pertama kali dengan pesawat terbang menuju LPMP Jawa Timur di Surabaya untuk menjadi Trainer Literasi Produktif berbasis IT. Fasilitas di LPMP Jatim luarbiasa nyaman, dengan menu makanan khas Surabaya, para Pegawai yang ramah dan suasana kondusif.

Melalui Gerakan Literasi IGI juga, pertama kali saya merasakan jiwa melesat terbang tinggi untuk menjadi generasi yang produktif untuk menghasilkan produk-produk literasi. Sebagai Trainer saya juga harus melesat tinggi bagai pesawat terbang menjemput bola, mengajak teman guru dari berbagai tempat dan daerah untuk membangun budaya literasi. Budaya membaca, menulis, dan sekaligus mempublikasikannya. Zaman telah berubah serba digital, Gerakan Literasi IGI juga harus punya ciri khas dan menarik minat, untuk itulah IGI bermitra dengan SAMSUNG dengan memanfaatkan produk andalannya Tablet A8. Pemanfaatan tablet ini justru menjadikan suasana diklat menjadi sangat seru, lupa waktu kalau hari sudah lewat tengah malam. Suasana belajar menjadi interaktif dengan memanfaatkan teknologi, tidak merasa mengantuk dan merasa selalu bersemangat ingin tahu. Sesuai dengan tuntutan zaman jargon SAGUSATAB terus didengungkan, Satu Guru Satu Tablet. Tidak ada rotan, akar pun bisa, tidak mampu beli kontan, beli kredit pun bisa.

Gerakan SAGUSATAB dilanjutkan dengan gerakan SAGU yang lain pada hari berikutnya, diantaranya SAGUSANOV (Satu Guru Satu Inovasi), SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku), SAGUSAKTI (Satu Guru Satu Karya Tulis Ilmiah), dan SAGUSABLOG (Satu Guru Satu Blog). Semboyan ini harus terpatri dalam jiwa guru, dalam sekali ikut kegiatan harus ada satu produk yang dihasilkan. Dengan menghasilkan satu karya dari satu kali pelatihan, guru yang bersangkutan akan termotivasi untuk menghasilkan karya-karya berikutnya sehingga mampu produktif dalam kegiatan literasinya. Ingat, literasi bukan hanya sekedar membaca dan paham isi bacaan, dalam literasi kita juga harus mampu menciptakan karya.

Gerakan Literasi IGI menyatukan kami dari berbagai daerah di penjuru negeri bertemu dalam satu tempat yaitu LPMP Jatim, seakan tidak percaya saya yang awalnya orang biasa dengan tidak berlimpah prestasi bisa bertemu dengan guru yang luar biasa dari berbagai daerah. Kegembiraan tersebut saya bagi ke media sosial, hasilnya diluar dugaan. Banyak teman yang sudah lama tidak jumpa menyapa dan mau bergabung dengan IGI, melalui IGI bisa berjumpa dengan teman guru lainnya dari berbagai daerah. Keberagaman budaya Indonesia sangat terasa di IGI yang terbalut dalam satu kesatuan Ikatan Guru Indonesia.

Tidak terasa tiga hari sudah terlewati, sejak kedatangan 6 Oktober 2016 pukul 14.30 di Surabaya, pada hari ke empat harus kembali lagi ke Palembang Sumsel tangal 9 Oktober 2016. Pengalaman luar biasa yang saya rasakan, mendapatkan bekal ilmu untuk dibagi dengan guru lainnya, dan bekal ilmu ini juga harus selalu dikembangkan dan diperdalam. Pasca kegiatan diklat tatap muka di LPMP Jatim, kegiatan diklat dilanjutkan dengan cara online via telegram. Waktu yang sangat terbatas pada saat tatap muka sehingga ilmu yang didapat belum maksimal, keterbatasan waktu tersebut ditebus memalui belajar via telegram yang tetap dibimbing oleh master trainernya IGI. Moga kegiatan ini berlanjut ke angkatan berikutnya, sehingga Gerakan Literasi IGI dapat berjalan secara besar-besaran sehingga mampu memompa semangat literasi yang menghasilkan karya.

Pengalaman ini mustahil akan saya dapatkan tanpa bantuan dari banyak pihak, terutama Dirjen GTK, Dikdasmen,serta pihak LPMP Jatim di Surabaya. Terima kasih kami ucapkan, semoga gerakan literasi yang telah diprogramkan Pemerintah dalam Kurikulum 2013 dapat berjalan dengan maksimal, Salam Literasi.

Oleh: Teddy Handika (Sumsel)

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here