Disekap, diinterogasi, diintimidasi oleh Kepsek, Korwas dan Ketua MKKS.

1
3105

Tiba-tiba sebuah WA masuk lebih pagi, isinya “Pak Ketum, hari ini aku dipanggil kepsek tempat aku akan visit to school sebentar”.

Yah, hari itu di kota C memang ada rencana visit to school pengurus IGI Kota C ke SMP Negeri 1 C, mereka sudah lama janjian, pengurus IGI kota C akan memberikan pelatihan langsung di sekolah terhadap puluhan guru-guru di sekolah tersebut. 

Visit to School adalah salah satu gerakan IGI untuk menjemput bola, mendatangi langsung guru-guru untuk dilatih di sekolahnya. Para pelatih IGI yang telah mengikuti TOC biasanya menjadi pelaku gerakan ini. Gerakan ini oleh IGI pun kadang tidak teridentifikasi karena dilakukan langsung oleh pelatih namun target utama IGI pada peningkatan kompetensi guru Indonesia akan lebih cepat terwujud dengan program ini. Nantinya para pelatih ini akan melaporkan setelah kegiatan usai.

Ternyata, Ketua IGI kota C diminta datang lebih awal, katanya kepsek mau ketemu. 

Setelah tiba di sekolah, kepsek sudah menunggu dan Kepsek SMP Negeri 1 C ini tidak sendiri, diruangannya sudah ada Ketua MKKS bersama Koordinator Pengawas Kota C.
Pintu ruangan pun ditutup, Ketua IGI Kota C dipersilahkan duduk dan mulailah pertanyaan-pertanyaan meluncur silih berganti disertai penekanan.

“Kami mendengar IGI dan kami mendengar sudah banyak bikin pelatihan-pelatihan di kota ini, mengapa sih ibu ngotot jalankan IGI di sini?” Kepala SMPN 1 C memulai.
“Iya pak, kami memang sudah sangat aktif, kami memang baru mengenal IGI dan baru menjalankan IGI tapi kami kok seperti cocok dengan IGI, saya banyak mendapat Ilmu dari IGI” jawab ketua IGI kota C

“Okelah kamu dapat Ilmu dari IGI, tapi kamu kan tahu kalau ada PGRI, mengapa mengajak guru lain gabung juga ke IGI?” Tanya Korwas

“Karena saya merasa nyaman di IGI dan saya mau guru-guru lain pun nyaman meningkatkan kompetensinya” jawab ketua IGI kota C.

“PGRI itu kan lebih tua, kamu mengalah saja, kalau kamu mau meningkatkan kompetensi guru, mengapa tidak lewat PGRI?” Kata Ketua MKKS.

“Selama ini memang PGRI bikin apa pak, bertahun-tahun saya jadi anggota PGRI, tapi baru sekarang saya merasa semangat ikut serta meningkatkan kompetensi guru setelah ada IGI dan saya merasa senang dengan semangat kawan-kawan IGI di Seluruh Indonesia dan itu tidak saya temukan di PGRI” jawab Ketua IGI Kota C.

“Pokoknya, besok kamu ketemu Pak W(red :ketua PGRI) kamu mau jabatan apa di PGRI, kita bicarakan” kata Sang Korwas

“Bapak, semua ini bukan soal jabatan, ini soal semangat dan suasana nyaman di IGI, kami semua bahu membahu entah energi dari mana, yang pasti IGI lah yang membuat saya banyak berkembang dan saya tidak yakin, itu ada di PGRI” jawab ketua IGI kota C

Percakapan semakin keras dan Ketua IGI Kota C juga terus bertahan.
Setelah percakapan berlangsung cukup lama dan terkadang disertai bentakan, puluhan guru yang sudah lama menunggu akhirnya mendatangi ruang kepala sekolah. 
Kepsek pun akhirnya mengalah.

“saya ijinkan kamu melatih guru-guru saya, tapi jangan bagi formulir IGI yah” kata Kepala Sekolah.

Akhirnya, pelatihan pun berjalan dan guru sangat antusian, mereka malah meminta formulir IGI karena ingin berlatih lebih banyak bersama IGI.

Mengulas cerita ini bukanlah untuk mempertentangkan antara IGI dan PGRI tetapi cerita ini sekaligus menjadi contoh buat kawan-kawan IGI di daerah yang hingga kini masih TAKUT mengembangkan kompetensi guru bersama IGI hanya karena khawatir Kadis marah, Kabid marah, Kasi Marah, pengawas marah. Jika bapak ibu takut dan itu sudah berlangsung lebih dari 6 bulan, sebaiknya bapak ibu merenungkan kembali. Carilah guru yang lebih berani agar bola pengembangan kompetensi di daerah bapak ibu tidak mati di kaki bapak ibu. 

Jika Guru PNS tak ketemu, carilah guru swasta, jika guru Dikdas Tak ketemu, carilah guru dikmen, jika guru Diknas tidak ketemu, carilah guru kemenag. Jika juga tak ketemu dengan siapapun yang berani, kembalikanlah mandat yang bapak ibu pegang agar orang lain memikirkannya.

Cerita diatas, bukanlah cerita fiktif, bukan pula rekayasa, cerita itu adalah cerita nyata yang terjadi Senin kemarin. Memang bukan waktunya mempertentangkan IGI dan PGRI tetapi juga bukan waktu lagi untuk takut, karena sudah terlalu lama kita takut. Lebih dari 350 tahun kita takut sehingga tak mampu keluar dari cengkraman Portugis, Jepang serta Belanda dan sekutunya. Cukuplah sudah kita dalam ketakutan, ayo bangkit dan kita raih kompetensi kita.

23 Feberuari 2017

Muhammad Ramli Rahim

Ketua Umum Pengurus Pusat

Ikatan Guru Indonesia.

Comments

comments

1 KOMENTAR

  1. Melatih guru itu adalah hak dan kewajiban semua orang yg peduli pd kemajuan pendidikan apapun pandangan politiknya atau organisasinya. Hanya perlu diingat prosedurnya harus dilalui dgn baik, utk melatih guru ya harus setahu pimpinannya minimal dengan omongan, sdh ditempuh blm? Teruskan berjuang, jgn bawa aroma persaingan, kalau yg lain begitu ya biarkan sj, katanya org ini berbeda?Untuk memperpendek sebuah garis yg sdh ada sebelumnya tdk harus menghapusnya kan? tapi buat sj garis yg lbh panjang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here