​SAATNYA BEKERJA SAATNYA TURUN TANGAN 

0
631

Hari ini saya kembali bekerja di Jawa Tengah  setelah minggu kemarin  ditugaskan bekerja di Jakarta untuk menjadi panelis  pada acara kelompok diskusi terpumpun tentang bagaimana mengawal Nawacita dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik yang dilanjutkan sebagai narasumber seminar pada pameran internasional  GESS  di Jakarta Convention Center. Kali ini saya ditugaskan oleh kantor untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013 di Brebes, tepatnya di SD Negeri 01 Kubangpari Kecamatan Kersana. SD tersebut dimonitoring dan dievaluasi karena sudah mendapatkan program dana bantuan pemerintah (Bantah) dalam implementasi kurikulum 2013 di tahun 2016 ini.

Saya berangkat dengan menggunakan kereta api Kaligung dari Stasiun Poncol Semarang pada jam 06.20 tepat.  Perjalanan saya tempuh kurang lebih 2 jam 25 menit. Sekitar jam 08.45 saya sampai di Stasiun Tegal.Saya sebenarnya ingin menggunakan transportasi umum ke lokasi tetapi saya justeru ditawari penjemputan karena katanya untuk ke daerah tersebut transportasinya umumnya agak susah. Saya segera menghubungi lagi kepala sekolah dari SD yang mau saya monitoring dan alhamdulillah seorang PTT beserta pengawas sudah ditugaskan untuk menjemput saya. 
Saya segera menelpon pengawas yang bertugas  menjemput saya karena begitu keluar dari stasiun saya tidak melihat seorang petugas penjemput pun yang siap membawa saya ke TKP. Ternyata mereka terjebak macet sehingga satu jam kemudian  baru sampai di stasiun. 
Petugas yang menjemput saya namanya Pak Alex ( bukan nama sebenarnya). Beliau adalah pengawas yang dulunya kepala UPTD tetapi karena terkena imbas politik akhirnya  dilemparkan kepada posisi baru yang tidak banyak dilirik oleh para kepala UPTD, yaitu pengawas. Petugas satunya adalah Mas Diding (juga bukan nama sebenarnya). Beliau seorang PTT ( pegawai tidak tetap)  “abadi” di UPTD Kersana. Yang unik,  beliau pernah menjadi caleg partai tertentu dan harus menerima hasilnya dengan bersabar dan tawakal. Kenapa? Karena walaupun dia mendapat suara terbanyak tetapi dia tidak terpilih menjadi anggota legislatif. Sistemnya berbeda dengan yang ada sekarang yg mengandalkan suara terbanyak. Dulu sistemnya seluruh suara di akumulasi dan dibagi sesuai persyaratan jumlah pemilih untuk satu kursi di daerah tersebut sehingga para caleg dengan suara terbanyak tidak selalu beruntung  kursinya. Kursi kursi tersebut sudah menjadi milik para caleg yang berada pada urutan-urutan atas . 
Kedua orang  penjemput saya itu unik dari sisi pengalaman politik yang melibat dalam kehidupan mereka tetapi mereka adalah dua orang petugas yang sama-sama profesional dalam menjalankan tugasnya. Mereka berusaha datang tepat waktu dan berusaha melayani sebaik-baiknya tamu yang mereka jemput.
Sayapun tanpa banyak menghabiskan waktu langsung masuk ke dalam Toyota Kijang tua berwarna hijau terbitan tahun 1990 itu. Saya tidak mengira ternyata di dalamnya AC masih berhembus dengan sejuk. Ini benar-benar surprising, ternyata antara mobil dan pengendaranya sama-sama unik. Kami sepakat untuk mengambil jalan memutar untuk menghindari macet akibat jalan yang di cor separuh dan kendaraan yang melintas harus bergantian mengantri dari arah yang berlawanan. Saya pikir keputusan Itu sudah tepat,  tetapi kenyataan berkata lain sebab kami masih saja menjumpai jalan-jalan yang dicor dan kami harus mengantri sehingga akhirnya membuat waktu perjalanan menjadi lebih panjang.
Saya tidak memperhatikan dengan cermat jalan mana atau kecamatan mana saja yang  dilewati, yang jelas kami harus menjemput kepala sekolah SD sasaran yang sedang mengikuti sosialisasi DAK (Dana Alokasi Khusus).  Akhirnya kami sampai di sekolah jam 11.55. Kami memutuskan istirahat sebentar, makan siang, dan sholat dzuhur berjamaah dulu sebelum melakukan kegiatan utama  monitoring dan evaluasi.
Kegiatan monitoring dan evaluasi kali ini bertujuan menggali data kebermanfaatan bantuan pemerintah yang diselenggarakan LPMP Provinsi Jawa Tengah dalam memperlancar implementasi kurikulum 2013 di tahun 2016. Saya membawa instrumen yang harus diisi oleh 4 orang responden dari SD yang menerima program dana bantuan pemerintah tersebut. Mereka adalah kepala sekolah, guru yang mendapat pelatihan dari LPMP kolega guru tersebut, dan pengawas  mereka harus mengisi angket yang berisi 3 aspek yaitu aspek perencanaan, implementasi pendampingan, dan dampaknya pada proses pembelajaran. Kegiatan yang kami mulai jam 12.30 itu berjalan dengan lancar. Beberapa pertanyaan terkait dengan instrumen ditanyakan oleh para responden dan saya jelaskan dengan singkat dan tepat. 
Begitu kegiatan monitoring dan evaluasi beres saya bermaksud segera berpamitan kepada tuan rumah tetapi ternyata mereka menahan saya dulu. “Ada yang harus kami curhat kan Pak”, kata salah satu dari mereka. Maka jadilah waktu saya bertambah kurang lebih 45 menit untuk menanggapi curhatan para guru dan pengawas ini. Tulisan tentang curhatan mereka akan saya buat tersendiri. Setelah mereka lega barulah saya meminta pamit.
Dalam perjalanan  sejak di kereta tadi pagi saya tidak lupa untuk menghubungi Mas Syam, ketua Ikatan Guru Indonesia Kabupaten Brebes. Mas Mulyo Utomo, ketua IGI Jateng menginformasikan  bahwa IGI Brebes sama sekali belum sempat bergerak untuk melakukan kegiatan sejak dilantik pada bulan april lalu di LPMP Jawa Tengah.  Saya meminta Mas Syam  dan  teman-teman pengurus lain untuk berkumpul dan bertemu dalam rangka motivasi dan pendampingan terhadap pengurus baru di kabupaten Brebes. Ini sebagai janji pribadi saya untuk turun tangan. Mereka setuju dan berkumpullah  sejumlah 6 orang di SD Negeri Brebes 03 siang tadi. Sayangnya waktu monitoring dan evaluasi mundur  sampai jam 15.00 sehingga sebagian dari teman-teman pengurus yang sudah menunggu saya terpaksa pulang. Mereka terpaksa melakukannya  karena ada keperluan yang lain yang lebih penting. Mau tidak mau saya harus meminta maaf kepada mereka yang sudah meluangkan waktu tetapi tidak jadi bertemu. Saya titipkan permintaan maaf saya kepada pengurus yang hadir dan sempat ngobrol dengan saya sore tadi.
Saya pulang dari SD Kubangpari 01 diantar oleh salah satu guru dengan Terios merahnya. Sang suami ini guru tetapi  isterinya pengusaha, jadi wajar saja mereka punya Terios baru.   Saya minta supaya saya dilewatkan ke jalan tol Pejagan yang berakhir di pintu tol Brexit yang sangat bersejarah itu. Sebuah pintu tol yang membuat ratusan ribu orang kehausan, kelaparan, kelelahan dan konon kabarnya  sebagian meninggal dunia walaupun secara tidak langsung karena pengelolaan arus pemudik yang dianggap  yang kurang efektif. Selepas dari brexit saya sudah ditunggu oleh Mas Syam and the Gang. Sayapun berpindah dari Terios ke mobil Honda Accord milik Mas Syam yang juga terbitan tahun 1990. Mobil pejuang sejati!

Singkat kata saya diantar oleh Mas Syam  beserta rombongan berempat menuju stasiun Tegal.  Sesampai di stasiun Tegal waktu menunjukkan pukul 15.45. Saya masih memiliki waktu sekitar 1 jam untuk bisa mengobrol dengan para pengurus Brebes karena saya bakalan depart  pada pulul 17.05. Kami memutuskan untuk mencari tempat nongkrong yang bisa digunakan untuk berdiskusi secara leluasa. Pergilah saya bersama rombongan menuju ke tempat tersebut. Nama tempatnya Kafe Ella. Waktu satu JP alias 45 menit sungguh sangat  berharga untuk sebuah silaturahim, persahabatan, dan pendampingan organisasi yang kita rintis berdirinya sejak tahun 2009 di Jawa Tengah ini.
Setelah memesan beberapa jenis makanan dan minuman kami mulai  berdiskusi. Yang pertama kali mereka tanyakan adalah informasi terbaru  yang ada di kepengurusan pusat. Lalu mereka juga menanyakan hasil-hasil rakerwil di Karanganyar. Saya hanya bisa menjawab secara jelas tentang program-program yang ada di pusat yang bisa diadopsi oleh IGI Brebes, sedangkan tentang hasil-hasil rakerwil saya minta ketuanya untuk menghubungi ketua IGI Jateng. Program yang paling utama adalah gerakan sejuta guru melek literasi produktif.  Berikutnya adalah training trainer literasi di Surabaya pada awal Oktober kemudian disusul dengan kegiatan Jambore kompetensi guru di palangkaraya pada akhir November dalam rangka memperingati hari guru.
Saya  mengingatkan bahwa yang paling urgen saat ini untuk dilaksanakan adalah  gerakan sejuta guru melek literasi produktif. Target gerakan itu tidak akan terwujud bilamana  pengurus yang berada di daerah tidak turut bergerak.  Para pengurus pusat (PP) yang dipimpin oleh ketua umum Mas   Muhammad Ramli Rahim sudah bekerja keras tanpa henti. Mereka berkeliling ke seluruh Indonesia. Mereka menjadi pemantik  yang membangunkan, memotivasi, memberi energi positif,  dan mencerahkan teman-teman guru yang selama ini hampir tidak tersentuh oleh gerakan-gerakan yang membuat mereka menjadi jauh lebih baik secara kompetensi.  Mereka  mendatangi setiap Kabupaten untuk menggerakkan literasi produktif berbasis IT dengan gerakan SAGUSATAB (Satu Guru Satu Tablet)-nya. Targetnya jelas  yaitu  dalam 5 tahun  harus ada  satu juta  guru Indonesia  yang  melek literasi produktif  berbasis IT.  Mereka saat ini sedang turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan  pendidikan di negeri ini dengan caranya  masing-masing. Mereka para PP ini bergerak secara masif di daerah yang berbeda-beda secara bersama-sama. Masing masing PP walaupun sudah bekerja di tingkat nasional mereka kembali ke daerah masing-masing untuk mengajak pengurus-pengurus wilayah dan daerah dari mana dia berasal mendukung gerakan yang sudah dilakukan oleh Pusat. Jika seluruh PP sudah TURUN TANGAN maka amatlah sangat pantas  pengurus yang ada di wilayah  dan  daerah juga  ikut TURUN TANGAN . Kita bisa memulainya dengan berkumpul baik online maupun offline untuk mencari ide terbaik  dan meramu cara yang jitu untuk membuat gerakan di wilayah dan daerah masing-masing. 
Cara paling sederhana untuk memulai gerakan adalah dengan mengingatkan diri sendiri  tentang keberadaan  sisfo  dan bagaimana memberdayakannya. Jangan sampai seorang pengurus di daerah menjadi pengurus yang ilegal. Karena dia sudah dilantik tetapi pada kenyataannya keanggotaannya belum terdaftar di dalam Sisfo. Seperti kata bapak pendiri IGI, Bapak  Satria Dharma, kita jangan menjadi pengurus organisasi seperti yang sudah-sudah,  yang lebih tertarik kepada posisinya tetapi tidak tertarik kepada pekerjaannya. Karenanya saya  juga menghimbau agar pendaftaran di Sisfo IGI  (www.anggota.igi.or.id) yang katanya belum semua mengurus yang resmi  dimulai dari para pengurus Brebes. IGI  adalah organisasi yang sangat terbuka dan independen.  Prestasi keanggotaan masing-masing kepengurusan di daerah dan wilayah  terpampang sangat jelas di dalam sisfo  kita dan seluruh mata di dunia bisa melihatnya. Jika kita sudah menyepakati untuk bergabung di dalamnya, apalagi dengan menjadi pengurus,  maka sudah menjadi kewajibannya untuk menjadi penggerak bukan justru terus-menerus menunggu orang lain untuk datang dan menggerakkannya. Sekarang bukan saatnya lagi untuk berkoar-koar omong besar melakukan gerakan NATO (no action talk only). Sebab semuanya akan ketahuan dari Sisfo kita. Saya kira kita harus menyepakati hal tersebut dengan sungguh-sungguh. 
Saya terus terang  meminta nomor saya diundang ke Grup WA IGI Brebes dan mulai terlibat dengan mereka. Brebes merencanakan untuk segera mengadakan tiga kegiatan dalam bulan-bulan ini.  Kegiatan tersebut adalah pelatihan IT,  mengadakan FGD tentang peralihan SMA/SMK ke provinsi  dan workshop tentang literasi produktif. Pelaksanaannya  pada bulan-bulan Oktober sampai Desember tahun  ini.  Rencana ini harus kita dukung sungguh-sungguh sampai pada implementasi dan pelaporannya di web kita www.igi.or.id.
Saya tampaknya harus membuang jauh-jauh keinginan mematuhi  nasehat seseorang yang mengatakan bahwa tempat saya adalah di nasional bukan di Jawa Tengah. Saat ini saya sedang berpikir bahwa Jawa Tengah itu adalah bagian dari nasional, yang berarti bahwa TURUN TANGAN dan bergerak dimanapun, tidak terkecuali di  Jawa Tengah, adalah  juga bergerak di nasional. Saya melihat bahwa banyak  kawan-kawan PP  ternyata juga kembali bergerak ke daerahnya masing-masing setelah menjabat di pusat  karena itu lebih efektif  dan mereka lebih kenal kepada orang-orang yang didampinginya.  Selanjutnya pada saat yang sama atau sambil membangun agar   wilayah dan daerah  masing-masing kuat  para PP ini bisa saling bertukar tempat untuk  memberdayakan daerah-daerah yang lain.  Oleh karenanya saya merasa sebagai PP yang berasal dari Jawa Tengah  masih harus bertanggung jawab untuk TURUN TANGAN memperkuat IGI di daerah-daerah di sela-sela tugas saya sebagai trainer daerah maupun trainer nasional sehingga cita-cita untuk bisa memiliki kepengurusan IGI yang aktif  dan masif di seluruh Jawa Tengah dan nasional bisa benar-benar terwujud. Tentu ini semua saya lakukan dengan maksud untuk membantu kerja pengurus IGI wilayah Jawa Tengah. Bukan sebaliknya, seperti berebut pengaruh misalnya. Insya Allah kita dihindarkan dari hal-hal tersebut. AYO KITA TURUN TANGAN!
Salam Pergerakan Pendidikan!

Mampuono R. Tomoredjo

Sekjen IGI
(Ditulis dengan mulut dalam perjalanan Kereta Api kelas ekonomi Kaligung jurusan  Tegal-Semarang pada hari Selasa, 21 September 2016,   jam 17.05-19.20)

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here