MENOKOHKAN DIRI ATAU MELAHIRKAN BANYAK TOKOH?

0
303

Pentingkah pertanyaan ini?
Apakah itu sebuah pilihan?

Setidaknya penting bagi orang seperti saya yang harus menjalani nasib sebagai pemimpin. Mengamati banyak pemimpin memang menjadi salah satu cara menjadi pemimpin tetapi menjalankan Insting kepemimpinan seperti seorang anak kampung yang tak punya mentor renang tapi bisa menjelajah jauh hingga ke dasar atau bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa pernah belajar kepada monyet.

Apa yang saya tuliskan ini belum tentu benar dan juga belum tentu salah, sama ketika saya mengambil kesimpulan bahwa seorang akademisi hanya percaya jika dirinya yang melakukannya dan kurang percaya jika dilakukan orang lain sementara entreprener selalu percaya jika orang lain mengerjakannya bahkan dia tidak percaya jika dia sendiri yang melakukannya. Ini bisa benar bisa juga bisa salah dan ada pula orang yang berdiri pada keduanya sisinya.

Begitupun kesimpulan saya saat kuliah dulu soal dikotom eksak-non eksak dan sosial-asosial, saya berkesimpulan orang-orang eksak memiliki cara berpikir yang senantiasa menyederhanakan bahkan kadang mengabaikan beberapa hal agar bertemu solusinya sementara non eksak sering kali memperluas hal sederahana agar semakin banyak yang diketahui.

Menokohkan diri atau melahirkan banyak tokoh?

Seringkali saya melihat seorang pemimpin yang tak tergantikan, mereka menjadi tokoh sentral yang mendominasi hampir semua arena. Bahkan karena kehebatannya dia menjadi tak tergantikan dibanyak kesempatan. Dia akan menghadirkan banyak simpatisan bahkan akan melahirkan banyak pengikut fanatik karena ketokohannya dan kehebatannya. Orang-orang sekitarnya akan mengganggap dirinya tak tergantikan karena dialah segalanya dan hanya dia yang bisa. Persepsi ini dinikmati oleh sang pemimpin dan bahkan akan terus didorong agar persepsi itu makin kuat. Dia terus menjadi sentral ketokohan sehingga kultus individu pun tercipta. Selama dia masih ada, tak ada yang mampu menggantikannya. Sosok ini akan menutup ketokohan orang-orang yang dipimpinnya sehingga tampak bahwa siapapun disekitarnya tak ada yang sepadang dan tak layak menggantikannya. Dalam sudut pandang ini, Soekarno dan Soeharto menjadi sosok yang mungkin seperti yang saya persepsikan ini.

Sementara itu ada pemimpin yang melahirkan banyak tokoh, dia akan membuka ruang luas bagi orang-orang sekitarnya menjadi tokoh, karakternya adalah membuka ruang buat siapapun juga, dia bahkan tidak segan mencari orang-orang untuk ditokohkan dan diangkat kepermukaan, dia akan bangga jika orang-orang itu menjadi tokoh-tokoh baru yang bahkan bisa menenggalamkan dirinya sendiri. Semakin banyak tokoh yang lahir lewat dirinya maka makin banggalah, senanglah dirinya. HOS Cokroaminoto adalah sedikit tokoh besar penghasil tokoh yang tidak segan melahirkan begitu banyak orang lewat kepemimpinannya bahkan tokoh-tokoh yang lahir dari tangan dinginnya kemudian seolah membentuk cabang-cabang atau aliran-aliran baru yang berbeda dari satu aliran dengan aliran atau cabang lainnya. Ada pula Umbu Landu Paranggi yang melahirkan banyak tokoh seperti Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadjib, Agus Darmawan T, Korrie Layun Rampan, Yudhistira ANM Massardi, Frans R Passandaran, dan lain-lain.

Memimpin IGI selama dua tahun, saya pun menyadari bahwa apa yang saya lakukan adalah upaya melahirkan banyak tokoh. Kehadiran 67 kanal pelatihan IGI tentu saja melahirkan 67 tokoh baru yang akan tampil dimana-mana. Belum lagi 67 tokoh ini akan melahirkan pelatih-pelatih dalam kanal pelatihan mereka sehingga akan semakin banyak tokoh yang lahir.

 

Suatu ketika, orang-orang mungkin tak lagi mengenal siapa MRR karena MRR akan tenggelam dalam lautan begitu banyak tokoh-tokoh baru IGI, namun buat saya, itulah cara memimpin saya,sama ketika saya mendorong lahirnya begitu banyak entrepreneur baru lewat Ranu Prima College yang karena kekuatan tokoh-tokoh baru yang lahir ini kemudian sebagian memilih meninggalkan RPC karena segala cara memimpin dan mengelola sesuatu telah diperolehnya. Metode kepemimpinan dengan melahirkan banyak tokoh dan orang hebat ini membutuh tingkat keikhlasan yang sangat tinggi karena boleh jadi, tokoh-tokoh baru yang lahir dari proses ini bukan hanya akan meninggalkannya tetapi bahkan berpotensi berdiri dipihak lain.

Makassar, 25 Februari 2018
Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Pengurus Pusat
Ikatan Guru Indonesia.

Comments

comments