ROAD SHOW BANUA BANJAR : LIMA KOTA KALSEL, 1000 GURU TERLATIH MEMBUAT KOMIK PEMBELAJARAN BERBASIS IT

0
1122

Menyenangkan, menggembirakan, mengasyikan dan tentunya tidak membosankan apalagi menjengkelkan adalah sebuah keniscayaan dalam pengajaran dan pendidikan. Inilah yang IGI cita-citakan agar dalam 10 tahun kedepan guru-guru yang tidak kreatif, tak mau berkembang, membosankan dan menjengkelkan tergusur zaman. 71 tahun Indonesia merdeka tapi kondisi guru Indonesia masih memprihatinkan. Faktanya, hanya sekitar 6% guru yang tak perlu dilatih lagi dan dinyatakan tuntas UKG.

road show kalsel-keg igi (2)

IGI berkomitmen melahirkan satu juta guru kreatif, menyenangkan dan mencerdasakan dalam lima tahun kedepan lewat GERAKAN SATU JUTA GURU TERLATIH LITERASI PRODUKTIF, bukan sekedar kampanye seperti gerakan literasi sekolah tapi mewujudkan guru yang mampu menghasilkan karya untuk pembelajaran yang menyenangkan.

GERAKAN LITERASI PRODUKTIF bukan sekedar upaya melahirkan guru yang mampu membuat karya tulis ilmiah sendiri dan tak lagi menjadi plagitor yang memalukan tapi juga mendorong dan melatih guru agar mempu membuat sendiri media pembelajaran berbasis IT sehingga kelas menjadi menyenangkan, siswa datang ke sekolah bagaikan datang ke taman seperti taman siswa cita-cita Kihajar Dewantoro.

road show kalsel-keg igi (6)

Guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang membuat siswa rindu akan sekolah, membuat siswa enggan untuk balik ke rumah apalagi sampai bolos dan tawuran.

Menurut saya, ada beberapa pola yang selama ini keliru dalam dunia pendidikan kita, termasuk upaya pihak-pihak luar membantu dunia pendidikan. Selama ini banyak pihak yang membantu perkembangan siswa, membiayai peningkatan kemampuan siswa bahkan CSR digelontorkan habis untuk siswa tapi abai pada peningkatan kemampuan guru, akibatnya siswa memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari gurunya yang berujung pada lunturnya rasa hormat siswa terhadap guru. Mencerdaskan dan membuat pintar siswa tanpa mencerdaskan dan membuat guru kreatif adalah kesalahan fatal yang harus kita nikmati saat ini.

Kedua, diklat guru atau pelatihan-pelatihan guru terlalu teoritis, melangit tapi tak membumi. Dinas pendidikan dan kemendikbud terlalu percaya pada dosen dan guru besar untuk memberikan pelatihan guru, membuat konsep pembelajarang yang sama sekali tidak membuat guru berkembang kemampuannya karena penuh dengan teori yang tidak operasional. LPMP dan P4TK pun kadang menerima WI yang hanya bisa teori renang tapi tak tahu caranya berenang, pintar membahas cara menanam dan memelihara padi tapi tak pernah sukses bertani, bahkan mengajarkan wirausaha tapi tak pernah sukses menjadi pengusaha. Anggaran begitu besar digelontorkan tapi tak mampu melahirkan guru yang jago “berenang” dan sukses “bertani”

road show kalsel-keg igi (3)

Ketiga, diklat guru tidak tepat sasaran karena yang diklat adalah guru spesialis pelatihan yang dikenal dengan istilah “lu lagi-lu lagi”, beruntung, ditangan Anies Baswedan kemendikbud sudah mulai membuat diklat UKG yang jelas guru sasarannya, melatih guru sesuai kadar “penyakitnya” dan semoga hal ini bisa dilanjutkan lebih baik oleh Mendikbud Muhadjir Effendy

Dalam suatu kesempatan, kepala dinas pendidikan provinsi Sumatera Selatan berujar, “Pak Ramli, saya sudah berulang kali membuat pelatihan guru menulis tapi hanya satu orang yang bisa menulis, karena saya merasa gagal, semua pelatihanya saya pecat”, inilah yang terjadi selama ini, uang rakyat dihabiskan tapi hanya sedikit bisa meningkatkan kemampuan guru. Diklat yang dilakukan tak operasional tapi hanya teori “berbasis tampilan power point” pelatih sudah dianggap hebat jika tampilan power pointnya mantap dan retorikanya mendukung, apalagi jika bisa membuat peserta tertawa dengan lelucon ringannya. Namun setelah itu, tak ada yang bisa diterapkan di kelas yang bisa membuat siswa senang dan betah belajar.

Inilah yang membuat IGI bergerak, setelah Tour Kalteng, Tour Aceh, Tour Maluku, lima hari lalu kami menjalani Tour Kalsel di lima kota di Kalsel, mulai dari Kota Banjarmasin di hari sabtu,20 Agustus 2016 lalu bergerak lima jam perjalanan ke Balangan, 21 Agustus 2016, balik ke Barabai, Hulu Sungai

road show kalsel-keg igi (4)

Tengah,22 Agustus 2016, Banjar Baru, 23 Agustus dan Berakhir di Plaihari, Tanah Laut, 24 Agustus 2016.

Alhamdulillah, karena diklat yang diselenggarakan IGI lebih praktis dan mudah, lebih dari 1000 guru di Kalsel mampu membuat komik pembelajaran berbasis IT dengan tangan mereka sendiri. Komik ini akan membuat pembelajaran lebih menyenangkan dengan komik, apalagi jika guru mampu menciptakan dialog menarik dari komik-komik itu.

Saya bertugas memprovokasi guru agar mau berubah dan Pak Abdul Karim, sang master komik dan game pembelajaran IGI bertugas membuat guru mampu membuat Game sendiri.

Mereka berlatih pun tidak hanya dalam tatap muka tapi seluruh peserta diminta bergabung dalam group kelas maya (penchat, telegram, whatshapp, dll) agar proses belajar berlanjut hingga mahir, targetnya 32 jam tuntas.

Meskipun telah memiliki Abdul Karim sebagai master game dan komik IGI, Abdul Kholiq sang master Sagusanov, Slamet Riyanto sang Master Buku, Mampuono Master Power Point Pembelajaran, dan beberapa lainnya tapi itu tidak cukup, IGI akan mengumpulkan 150 guru hebat di Surabaya 29 September sampai 2 Oktober 2016 untuk melahirkan guru-guru dengan kemampuan khusus agar guru-guru Indonesia memiliki 100 kemampuan berbeda dengan variasi pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan apalagi menjengkelkan. Mereka akan dikirim ke daerah-daerah untuk melatih guru-guru di seluruh pelosok tanah air sehingga diharapkan setiap guru Indonesia memiliki minimal 100 cara pembelajaran yang menyenangkan dan tidak monoton.

road show kalsel-keg igi (5)

Jika selama ini guru direpotkan dengan Laptop atau note book yang berat dan ribet dalam mobilitas, maka kedepan IGI akan memaksimalkan penggunaan tablet lewat program Sagusatab(satu guru satu tablet). Dengan tablet, ibu-ibu guru tak perlu lagi bawa dua tas karena ukurannya hanya 7-8 inci, dengan daya tahan baterai yang cukup, tak perlu setiap pelatihan dipasang colokan listrik begitu banyak karena bisa dibantu cukup dengan power bank masing-masing. Dengan cukup menambahkan googlechromatic, guru bisa bergerak lincah mengajari siswa dari berbagai sudut kelas tanpa harus tersambung kabel. Dengan Voice To Teks, guru bisa membuat tulisan atau mengubah ucapan siswa menjadi tulisan tanpa kertas, tanpa pensil/pulpen, bahkan tanpa keyboard. Dengan S Pen, guru bisa menulis atau memberi tanda di tabletnya untuk memberi penekangan perhatian siswa. Karena sudah dilengkapi dengan chip untuk kuota data, jika ada kesulitan bisa langsung memanggil “mbah google” meskipun disekitarnya tak ada jaringan wifi.

Guru memang tak boleh gaptek, tak boleh ketinggalan teknologi agar siswa tak lebih pintar dan lebih jago dari gurunya. Agar guru tak lagi dileceh, tak lagi tak dianggap, tak lagi dipandang sebelah mata.

Alhamdulillah di Banjarmasing, walikota datang langsung menyemangati guru, di Balangan, guru rela lesehan karena ruangan pelatihan tak muat dan semuanya ngotot untuk ikut serta, di Barabai lebih parah lagi, kursi dan meja disingkirkan, masing-masing panitia membawa karpet untuk digunakan lesehan oleh lebih dari 600 guru. Bahkan Kepala Kemenang yang membuka acara harus geleng-geleng kepala.

Di Banjarbaru, Haji Sulaeman, Kepala UPT SLB Pembina Kalsel, yang mulai tanggal 1 Agustus 2016 mulai bertugas sebagai kadis dinas Kabupaten Balangan berkomitmen bersama-sama IGI meningkatkan kompetensi guru, bahkan beliau berujar “seandainya pak ramli datang satu bulan sebelumnya, semua guru SLB saya akan sediakan tablet sagusatab untuk mengajar, saya anggarkan di perubahan” tapi saya sampaikan “biarkan guru sendiri yang membeli pak, agar mereka maksimalkan karena milik sendiri, bukan hadiah dari kantor”

Di Plaihari, Kepala Kemenang Kabupaten Tanah Laut seteleh mendengarkan presentase saya, malah dalam sambutannya menyatakan “saya minta semua guru kemenang bergabung dengan IGI, berlatih dengan IGI agar guru-guru kemenang berubah dan lebih baik dibanding guru diluar kemenang, apa yang disampaikan ketum IGI adalah kebutuhan kita semua”

Setelah menikmati delay hampir dua jam di Banjarmasin, tulisan ini tuntas dalam transit di Balikpapan menuju Makassar.

Balikpapan, 24 Agustus 2016

Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Pengurus Pusat
Ikatan Guru Indonesia

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here