Blended Learning Solusi IGI di Era New Normal dan Pasca Covid-19

0
974

Keputusan pemerintah yang tetap akan mempertahankan 13 Juli 2020 sebagai awal tahun ajaran baru 2020 kelihatannya akan menjadi kenyataan. Jika hal ini betul betul menjadi kenyataan maka Ikatan Guru Indonesia saat ini telah mempersiapkan blended learning sebagai solusi dalam ketidakpastian pandemi Covid-19.

Selama lebih dari tiga bulan pandemi Covid-19 mendera bangsa ini kita tidak melihat langkah konkrit yang dilakukan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia dalam mempersiapkan masa new normal yang saat ini dijalankan atas perintah Presiden Joko Widodo. Selama tiga bulan kemendikbud seolah-olah menjalankan sistem “kementerian terserah” terutama dalam menjalankan proses pembelajaran dari rumah.

Karena itu Ikatan Guru Indonesia mengambil langkah cepat dengan menyelenggarakan berbagai pelatihan di hampir seluruh kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Tercatat 1458 pelatihan online digelar IGI sejak masa pandemi Covid-19 dan rekam jejaknya sebagian bisa dilihat pada website resmi IGI di https://www.igi.or.id/ mulai akhir Maret hingga awal Juni 2020 ini.

IGI berharap, setelah pelatihan, guru tak lagi menempuh cara konyol PJJ dengan hanya mengirimkan tugas bahkan soal ujian kepada siswa melalui aplikasi whatsapp dan menunggu hasil atau jawaban juga dari aplikasi whatsapp. Saat ini ujian sekolah banyak dilakukan dengan cara konyol seperti itu. Ini imbas dari rendahnya kemampuan IT guru dalam pembelajaran. Sebagian guru memang telah memiliki kemampuan tinggi tapi jumlahnya tak begitu banyak dan itu mayoritas guru-guru IGI yang memang selama ini aktif melatih guru dan juga aktif menerima pelatihan.

Pasca pelatihan nantinya, IGI juga berharap guru-guru Indoensia sudah mampu menjalankan pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan dan berkualitas dengan menggunakan berbagai aplikasi dan menggabungkannya dengan video, game, komik, dan berbagai inovasi lain yang menghadirkan pembelajaran Daring yang menyenangkan dan berkualitas. Di IGI punya banyak aplikasi moderen seperti contohnya yang dikembangkan Sagusanov IGI.

Upaya ini adalah bagian dari antisipasi IGI jika kemdikbud memaksakan pembelajaran jarak jauh selama satu semester. Bagaimana pun, satu semester PJJ dengan guru berkemampuan rendah hanya akan menambah jumlah siswa yang stress.

Jika Kemdikbud memaksakan pembelajaran tatap muka di era new normal, maka blended learning harus menjadi solusi minimnya jam tatap muka. Jika blended learning dijalankan maka sangat memungkinkan, siswa cukup dua minggu sekali ke sekolah dan cukup 4 jam di sekolah dengan sistem guru piket, sehingga siswa cukup bertemu guru mata pelajarannya 10-25 menit dalam bentuk konsultasi kesulitan yang dialami selama seminggu menjalani pembelajaran dalam jaringan. Seluruh materi pelajaran sang guru seharusnya sudah bisa diakses anak didik melalui aplikasi yang dibuat sendiri oleh gurunya sebelum pembelajaran Daring sehingga saat Daring, guru lebih mudah menyampaikan materinya dan cukup 20 menit untuk 1 jam pelajaran yang selama ini 35 menit untuk SD, 40 menit untuk SMP dan 45 menit untuk SMA.

Dengan menggabungkan daring dan luring ditambah penyiapan materi lebih awal sebagai bekal daring, maka diyakini bahwa pembelajaran akan jauh lebih efektif bahkan dibanding era normal.

Dan sesungguhnya pedoman penyelenggaran pembelajaran jarak jauh seperti inilah yang diminta oleh IGI agar diterbitkan oleh Kemdikbud agar menjadi acuan PJJ yang berkualitas dan menyenangkan, bukan dengan cara “terserah gurunya”. Kemdikbud memang sudah mengeluarkan edaran terkait pedoman pembelajaran jarak jauh tapi lebih diarahkan nonton TV, Radio, Layanan pendidikan berbayar dan layanan pendidikan gratis, bukan bagaimana guru menjalankan PJJ dengan baik, menyenangkan dan berkualitas.

Hasil survey IGI menunjukkan ada 67,4% guru di Indonesia berharap Kemdikbud Membuat pedoman pelaksanaan PJJ dari guru ke siswa sehingga ada keseragaman pelaksanaan PJJ di seluruh Indonesia.

Untuk mempersiapkan semua itu IGI saat ini sedang menjalankan survey kebutuhan pelatihan guru di https://bit.ly/survey_igi
dan guru dapat berpartisipasi dengan mengisi survey tersebut.

Survey dimaksudkan untuk menjembatani guru pelatih dan guru yang membutuhkan pelatihan dan nantinya akan difasilitasi oleh IGI di seluruh Indonesia.

Seperti upaya IGI selama 10 tahun terakhir, guru tak boleh berharap pada pemerintah dalam hal ini kemdikbud dan dinas pendidikan setempat, guru melalui IGI harus bergerak sendiri meningkatkan kompetensinya. Jika tidak, maka guru akan selamanya dalam ketertinggalan dan keterbelakangan. IGI selama ini sudah berterima kasih atas bantuan aplikasi Webex PSMK yang setahun terakhir digunakan oleh IGI secara gratis dan andai saja PSMK bisa menyediakan lebih banyak lagi, maka IGI pasti bisa bergerak lebih cepat, misalnya dengan menyediakan 34 jalur sehingga lengkap seluruh Indoensia.

Jika Kemdikbud memberikan kepercayaan ke IGI melatih guru di seluruh kabupaten/kota maka IGI bisa melatih minimal 2,7 juta guru dalam 6 bulan kedepan. Karena dengan lebih dari 1000 guru pelatih, IGI sangat yakin bisa mewujudkan hal tersebut, tentu saja dengan dukungan kemdikbud dan dinas-dinas pendidikan di daerah.

Jakarta, 10 Juni 2020
Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia

Comments

comments