- Smartphone atau Tabet yang dibawa ke sekolah harus sudah kosong dari SimCard dan Memori Eksternal untuk mencegah gadget tersebut dimanfaatkan pada hal-hal yang tidak perlu, akses internet cukup menggunakan WIFI yang dibuka aksesnya selama jam efektif pembelajaran di sekolah
- Bila ditemukan selama pembelajaran ada aplikasi aktif selain yang diarahkan tentunya akan mengganggu konsentrasi pembelajaran di Kelas Maya (digital Class),maka gadget siswa harus siap kena sanksi dan eksekusinya direset ke proram bawaan pabrik.
- Kelas maya tidak menggunakan apikasi yang harus diinstal, cukup memaksimalkan browser bawaan dari masing-masing gadget siswa, disarankan menggunakan Chrome dan Opera.
- Gadget yang dibawa disarankan berbasis Android dan atau Windows, bila pun ada yg punya BB dan iPhone layar sentuh masih bisa digunakan asal browsernya berfungsi dengan baik.
- Bagi yang tidak memiliki gadget dihimbau untuk bergabung atau berkelompok maksimal 3 orang siswa dan siap berkolaborasi saling pinjam secara bergantian dalam penggunaan gadgetnya.
- Selama KBM berhubung ada keterbatasan akses internet yang hanya bisa dilayani access point wifi sekolah bagi peserta didik diminta siap belajar di ruangan terbuka non kelas dan dipersilakan bebas mengatur posisinya, terpenting gadget bisa dijalankan dengan sinyal gratis wifi yang disedikan sekolah.
- Target tiap pekan peserta bisa berhasil mengikuti/menyerahkan quiz/tugas, baik individu atau pun kelompok. Ketujuh syarat tersebut ternyata bisa dipatuhi oleh peserta didik dan sebagian besar bisa sukses mengakses ke kelas maya tanpa keluhan berati, ada pun tool media kelas Maya yang kami gunakan sementara ini dan dipandang paling efektif dengan server yang kuat dan penyimpanan tanpa batas di cloud, yakni Edmodo.
PEMBELAJARAN KELAS MAYA DI SMPN 5 MAJALENGKA " OUT OF THE BOX MENUJU PAPERLESS SCHOOL "
Sebuah eksperimen pembelajaran dengan memanfaatkan Tablet Canggih Samsung A8 yang kaya fitur berbasiskan Android 6.0.1 Marshmallow, dicoba dihadirkan pada KBM platform kelas maya (digital class) dalam pembelajaran mapel PPKn yang penulis ampu. Hal ini mungkin bagi sebagian pihak dipandang terlalu ekstrem buat peserta didik di sekolah pinggiran/ kampung, yang peserta didiknya masih sekolah di jenjang SMP, Â apalagi keadaan sekolahnya saja masih minim sarana IT yang berupa Labkom.
Namun disitulah justru tantangannya bagi guru Pembelajar. Bagi guru eksak apalagi TIK mungkin yang dinamakan kelas maya bukan barang baru, lain halnya  dengan mata pelajaran PPKn di pedesaan, menampilkan paparan tanpa kabel ke projector saja setidaknya akan memancing motivasi dan membangun visi anak didik untuk mengenal lebih jauh alam di era digital.  Dengan cara inilah kami berupaya mendorong peserta didik untuk menggunakan handphone/smartphone dan tablet yang mereka miliki sekali pun levelnya hanya gadget lower-end produk  China dipancing untuk dimaksimalkan manfaatnya bagi pembelajaran yang mereka ikuti.
Guna mencegah hal-hal yang dipandang bisa mengganggu karena sejauh ini kesannya kalau siswa membawa gadget ke sekolah masih dapat tantangan keras sebagaimana tata tertib di banyak sekolah masih melarang siswanya membawa gadget ke sekolah mereka. Untuk itu kita coba siasati dengan syarat-syarat khusus.
Kita sadar sekali pun gadget dilarang dibawa ke sekolah namun banyak orang tua siswa yang justru telah membelikan sarana IT tersebut. Malah bila tidak diarahkan atau dikondisikan pemanfaatannya maka alat canggih tersebut akan mubadzir dan mungkin lebih banyak dimanfaatkan untuk hal-hal yang jauh dari tujuan pendidikan, selain itu  sarana komunikasi tersebut malah akan semakin luput dari pembinaan guru pendidiknya.
Daripada gadget berupa smatphone, tablet, iPhone, BlackBerry tidak berdaya guna maka penulis selaku guru mereka mengajak peserta didik untuk memanfaatkan sarana IT yang ada tersebut dalam pembelajaran PPKn dengan aturan khusus yang disederhanakan, diantaranya adalah: