Mataram, IGI.OR.ID- Musyawarah Wilayah (Muswil) III Ikatan Guru Indonesia (IGI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi dibuka pada Sabtu, 26 September 2026, di Grand Madani Hotel Mataram. Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur NTB yang dalam kesempatan tersebut diwakili langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi NTB, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd.

Muswil III IGI NTB mengusung tema “Sinergi, Bergerak, Bertumbuh, dan Berkelanjutan”. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi organisasi profesi guru tersebut untuk melakukan evaluasi perjalanan organisasi, merumuskan program kerja, sekaligus memilih Ketua Wilayah IGI NTB beserta kepengurusan untuk periode 2026–2031.

Kegiatan dihadiri sejumlah unsur pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi profesi, tokoh masyarakat, mitra pendidikan, pengurus IGI, serta anggota IGI dari kabupaten/kota se-NTB. Hadir antara lain Dewan Pembina IGI NTB H. Didi Sumardi, S.H., Dewan Kehormatan IGI NTB H. Bakhtiar Ardiansyah, S.Pd., M.P., perwakilan BPMP NTB yang juga Dewan Pembina IGI NTB Ermawanti, S.Pd., M.Pd., Kepala Taman Budaya Provinsi NTB Lalu Suryadi Mulawarman, S.Sn., M.M., Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB Dr. Arie Andrasyah Isa, S.S., M.Hum, Dr. Wirman Kasmayadi, S.Pd., M.Si, serta perwakilan Kepala Bappeda NTB.

Turut hadir Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat yang diwakili oleh Kabid Pendidikan Madrasah, Drs. H. Nasrullah, M.Pd., Kepala Stasiun TVRI Provinsi NTB Okta Helena Kati Jara, S.Sos., M.M., Ketua Majelis Adat Sasak (MAS) Provinsi NTB Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, serta Dr. TGH. Hazmi Hamzar, S.H., M.H. dari Komite Seni Budaya Nusantara (KBSBN) Provinsi NTB dan tamu undangan lainnya. Muswil juga diikuti pengurus dan anggota IGI dari kabupaten/kota di NTB serta peserta seminar. 

Guru Menjadi Kunci Masa Depan Bangsa

 
Saat membuka Muswil III IGI NTB, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., menyampaikan apresiasi Pemerintah Provinsi NTB terhadap kontribusi IGI dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter, berkualitas, produktif, dan kompetitif tidak dapat dilepaskan dari keberadaan guru sebagai salah satu aktor utama pendidikan.

Ia menegaskan bahwa berbagai kebijakan pendidikan pada akhirnya bermuara pada peserta didik. Namun, upaya meningkatkan kualitas peserta didik membutuhkan guru yang mampu menjalankan peran secara profesional karena guru berhadapan langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran.

“Apa yang dilakukan oleh guru hari ini, itulah yang memperlihatkan masa depan bangsa ini, terutama para generasi muda kita,” ujarnya.

Dr. Syamsul Hadi juga mengapresiasi IGI NTB yang selama ini berkontribusi dalam pengembangan pendidikan dan profesionalisme guru. Menurutnya, keberadaan organisasi profesi menjadi penting sebagai ruang bagi para guru untuk terus belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan diri.

Ia juga mengingatkan bahwa Muswil bukan semata-mata forum pergantian kepengurusan. Musyawarah harus menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan, menyatukan berbagai perbedaan, dan merumuskan langkah bersama demi kepentingan pendidikan.

“Tidak ada kekuatan tanpa kebersamaan. Karena itu, bagaimana kita bersinergi dengan semua komponen yang ada menjadi penting dalam membangun NTB yang lebih baik,” katanya.

Ia berharap Muswil III IGI NTB menghasilkan kepengurusan dan program yang mampu memperkuat kolaborasi antara guru, pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Pembukaan Muswil III IGI NTB kemudian ditandai dengan pembacaan basmalah oleh Dr. Syamsul Hadi, M.Pd.

Kemenag: Guru Harus Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Sementara itu, Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag NTB, Drs. H. Nasrullah, M.Pd., yang hadir mewakili Kepala Kanwil Kemenag NTB, menyampaikan bahwa Muswil memiliki makna strategis bagi keberlangsungan organisasi.

Ia menjelaskan bahwa Muswil bukan sekadar agenda pergantian pengurus, tetapi menjadi forum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah dan program kerja ke depan.

Menurutnya, tantangan dunia pendidikan saat ini semakin kompleks. Perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, tuntutan kompetensi abad ke-21, serta kebutuhan peserta didik yang semakin beragam menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensinya.

“Guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayatnya,” tegasnya.

Drs. H. Nasrullah menambahkan bahwa kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh profesionalisme guru. Kurikulum yang baik tidak akan berjalan secara optimal apabila tidak didukung guru yang kompeten, berintegritas, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap peserta didik.

Dalam konteks tersebut, ia melihat IGI sebagai ruang strategis bagi guru untuk berkolaborasi, berbagi praktik baik, meningkatkan kompetensi, mengembangkan inovasi pembelajaran, dan membangun jejaring profesional.

Ia berharap IGI NTB dapat terus bersinergi dengan Kementerian Agama, khususnya dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan madrasah.

“Mari kita dorong guru-guru kita agar tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna, mendalam, menyenangkan, berkarakter, dan berbasis kebutuhan peserta didik,” ujarnya.

PP IGI Tekankan Kolaborasi dan Semangat Belajar

Sementara Wakil Ketua PP IGI, Halil Subagiono, M.Pd., yang hadir mewakili Ketua Umum Pengurus Pusat IGI, menekankan pentingnya membangun semangat kolaborasi dan pembelajaran bersama.

Menurutnya, tema “Sinergi, Bergerak, Bertumbuh, dan Berkelanjutan” harus diwujudkan dalam praktik organisasi dan pengembangan profesionalisme guru.

Ia mengajak seluruh anggota IGI untuk membangun budaya saling belajar dan membantu sesama guru menghadapi perubahan teknologi maupun tuntutan pendidikan.

“Pantang mengajar kalau belum belajar,” tegasnya.

Menurut Halil, guru tidak boleh berhenti belajar karena perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pendidikan berlangsung cepat. Guru yang mengalami kesulitan dalam teknologi perlu didampingi dan diajak belajar bersama sehingga kompetensi seluruh guru dapat berkembang.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Muswil sebagai ruang yang membahagiakan, inklusif, dan bebas dari perbedaan yang dapat menghambat persatuan organisasi.

Halil mengingatkan bahwa ilmu dan praktik baik yang diperoleh seorang guru seharusnya dibagikan kepada guru lainnya. Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti pada individu, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama.

“Sharing and growing together,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menggambarkan guru hebat bukan hanya guru yang mampu menjelaskan materi, melainkan guru yang mampu memberikan inspirasi kepada peserta didik dan menjadi teladan.

Karena itu, IGI didorong untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, sekolah, madrasah, lembaga keagamaan, lembaga kebudayaan, dunia usaha, dunia industri, media, serta berbagai mitra pendidikan lainnya.

Menurutnya, mencerdaskan kehidupan bangsa bukan pekerjaan satu pihak. "Dibutuhkan kerja bersama antara guru, organisasi profesi, pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan industri, serta seluruh unsur pendidikan" pungkasnya.

PAW Ketua IGI NTB Paparkan Evaluasi dan Program Organisasi

 

Sebelumnya Ketua PAW IGI NTB, Nengah Istiqomah, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Muswil III merupakan forum tertinggi organisasi di tingkat wilayah yang memiliki agenda utama berupa evaluasi perjalanan kepengurusan, penyusunan rencana ke depan, serta pemilihan ketua wilayah dan kepengurusan baru.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTB dan berbagai lembaga yang selama ini memberikan dukungan terhadap kegiatan IGI.

Menurut Nengah, organisasi profesi guru membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mengembangkan kompetensi anggotanya. Karena itu, IGI berupaya menjadi wadah bagi guru untuk terus belajar dan memperkuat profesionalisme.

Salah satu perhatian yang disampaikan adalah persoalan literasi di NTB. Menurutnya, peningkatan literasi harus menjadi agenda bersama, bukan hanya menjadi tanggung jawab guru.

Dalam periode kepengurusannya, IGI NTB juga telah menjalin kerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi NTB. Salah satu bentuknya adalah fasilitasi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia yang telah diikuti sekitar 710 guru secara gratis.

Nengah berharap kerja sama dan program peningkatan kompetensi tersebut dapat terus berlanjut meskipun terdapat tantangan efisiensi anggaran.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi antara organisasi guru dengan pemerintah daerah. Menurutnya, organisasi profesi tidak hanya berkepentingan terhadap peningkatan kompetensi guru, tetapi juga berharap adanya perhatian terhadap kesejahteraan, status, dan berbagai persoalan yang dihadapi guru di lapangan.

Dalam sambutannya, ia juga menyinggung pentingnya sosialisasi regulasi pendidikan secara baik kepada guru agar perubahan kebijakan dapat dipahami dan dilaksanakan secara tepat.

“Berikan kami ruang dan waktu untuk terus melakukan koordinasi, diskusi, dan tentunya bukan hanya dalam cerita atau dalam berita, tetapi secara langsung mengimplementasikan,” ungkapnya.

Nengah menegaskan bahwa dirinya siap mendukung siapa pun yang nantinya terpilih sebagai Ketua Wilayah IGI NTB. Ia berharap sistem dan program yang telah dibangun dapat terus dilanjutkan.

“Siapapun yang akan menjadi ketua, saya yakin dan percaya karena sistem kita sudah bagus, sudah terbentuk, maka kita akan tetap mendukung siapapun yang akan menjadi ketuanya,” tandanya. (Lan)