MENDOBRAK  KEBEKUAN PENDIDIKAN BERSAMA IGI

0
668

Dr. BASMAN TOMPO,S.Pd., M.Pd,

IGI Makassar Sul-Sel

Sebelum saya bicara tentang IGI, ijinkan saya untuk menyampaikan hal ini kepada Anda. Siapapun Anda, silakan menyangkal jika tidak sependapat dengan saya. Itu adalah hak Anda. Tapi saya juga punya hak untuk mengeluarkan pandangan sesuai dengan apa yang saya lihat, apa yang saya dengar dan apa yang saya rasakan. Bahwa saya sebagai salah satu dari jutaan orang di Indonesia yang menyandang label sebagai guru di sekolah memandang bahwa kualitas pendidikan kita saat ini benar-benar sangat memprihatinkan. Itu bila dibandingkan dengan dengan negara-negara  maju di dunia. Indikatornya apa? Saya ingin memperlihatkan kualitas pendidikan di tanah air yang kita cinta ini dalam hal pencapaian hasil belajar siswa. Dari beberapa hasil studi internasional yang membandingkan output dan outcome dari penerapan suatu sistem pendidikan, terlihat bahwa betapa jauhnya perbedaan mutu pendidikan kita dibandingkan dengan mutu pendidikan negara lain.

Anda tahu TIMSS? TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) adalah sebuah asosiasi internasional independen yang menilai prestasi pendidikan bidang Matematika dan IPA di negara-negara peserta setiap 4 tahun sekali. TIMSS mengumpulkan informasi kontekstual tentang bagaimana pembelajaran IPA dan Matematika terselenggara di setiap negara. Dalam 3 periode terakhir berdasarkan analisis hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah, sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi dan lanjut. Bagaimana pencapaian di tahun 2015? Peserta didik Indonesia menduduki peringkat 36 dari 49 negara dalam hal kemampuan melakukan prosedur ilmiah. Fakta ini menunjukkan bahwa dalam hal mutu pendidikan, posisi Indonesia berada pada level bawah, bukan? Entahlah nanti di tahun 2019.

Satu lagi, anda kenal PISA? PISA (Programme for International Students Assessment) adalah sebuah riset internasional yang meneliti secara berkala setiap 3 tahun untuk literasi Matematika, Sains dan Membaca. Hasil studi  PISA membeberkan begitu memprihatinkannya mutu pendidikan kita. PISA merilis bahwa kemampuan peserta didik asal Indonesia usia 15 tahun (Kelas IX SMP dan Kelas X SMA) yang dipublikasikan oleh OECD (Organization for Economic and Development) menyatakan bahwa untuk tahun 2009 posisi Indonesia berada pada urutan ke 59 dari 65 peserta atau menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. Tahun 2012 Indonesia menempati posisi yang nyaris menjadi juru kunci. Kemampuan anak-anak Indonesia dibidang Matematika, Sains dan Membaca menempati peringkat ke-64 dari 65 negara peserta di dunia. Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Negara Peru. Sekali lagi,  hanya Peru satu-satunya yang berada dibawah Indonesia. Dan anda tahu hasilnya tahun 2015? Indonesia menduduki peringkat 69 dari 76 negara. Bukankah ini bukti nyata bahwa posisi Indonesia masih ada di level bawah? Bagaimana nanti di tahun 2018? Entahlah.

Tapi, sudahlah. Saya tidak ingin kita terlarut dalam kesedihan mendalam dengan kebekuan dan kegelapan pendidikan kita saat ini. Sudah saatnya kita bangun, sudah waktunya kita bangkit. Saatnya bergerak cepat berlomba dengan waktu. Apalagi secercah harapan kini perlahan mulai menyeruak menyapa dunia pendidikan kita. Ikatan Guru Indonesia (IGI) hadir memberi asa. Bicara tentang IGI memang menarik.  Keberadaan IGI (Ikatan Guru Indonesia) dan kiprahnya selama beberapa bulan terakhir perlahan tapi pasti mencairkan kebekuan pendidikan kita. IGI datang membangkitkan kita dari tidur yang panjang. IGI hadir  memberi minuman pada kita yang lama kehausan. Saya melihat organisasi guru yang satu ini memberi kesan berbeda. Sejak saya bergabung di IGI beberapa bulan lalu, saya merasa menemukan apa yang selama ini saya harapkan. Sebuah komunitas yang peduli dengan peningkatan kompetensi guru-guru di Indonesia. Ternyata IGI memiliki banyak kanal-kanal pelatihan yang dapat diikuti baik secara luring maupun daring (online) dan gratis. Sebuah kesempatan emas yang teramat rugi jika dilewatkan begitu saja. Maka tak ayal, hampir semua kegiatan IGI yang dilaksanakan di kota tempat tinggal saya (Makassar), saya ikuti. Mulai dari program Satu Guru Satu Inovasi (sagusanov) oleh masternya Pak Kholiq, program Sagusandro oleh Pak Elyas dan program blog guru melalui kanal belajar online Satu Guru Satu Blog (Sagusablog) oleh Mr.Mung, dan kanal-kanal pelatihan lainnya. Bahkan pada pelatihan Trainer Of Coach (TOC) beberapa waktu yang lalu dengan sigap saya hadiri dan ikuti sampai tuntas.

Kegiatan TOC yang berlangsung selama 2 hari tersebut benar-benar menambah spirit belajar karena peserta yang mengikuti kegiatan dipersiapkan menjadi pelatih untuk menularkan ilmu yang diperoleh pada guru-guru lainnya. Materi berupa penggunaan tablet A8 dari pihak Samsung membuat kami berdecak kagum. Betapa tidak,  benda mungil seperti itu ternyata memiliki beragam fitur yang sangat handal dalam menunjang proses pembelajaran digital. Ditambah dengan materi pembuatan media pembelajaran dalam bentuk komik,  pembuatan animasi drawing dalam pembelajaran,  pembuatan media pembelajaran berbasis android dan pembuatan kelas digital berbasis edmodo, adalah materi pembelajaran digital yang sangat perlu dikuasai oleh guru masa kini.. Materi-materi yang disampaikan oleh  para trainer handal milik IGI benar-benar membuat semangat kami terpompa, terpacu dan begitu bergairah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dari awal sampai akhir.

Saya melihat, ini langkah nyata yang dilakukan salah satu organisasi guru (IGI) dalam membangun negeri. Melatih guru untuk semakin profesional adalah sebuah kontribusi besar terhadap negara. Meski seyogyanya ini tanggung jawab pemerintah, namun IGI membuktikan itu dengan tanpa membebani APBN/APBD, IGI telah membantu  mencerdaskan anak bangsa melalui program-programnya yang sangat membantu guru.

Inilah menjadikan saya sampai pada suatu keyakinan, jika sekiranya IGI komitmen dan konsisten dengan apa yang telah dilakukannnya selama ini bahkan semakin mengembangkannya, maka bukan mustahil dalam waktu yang tidak terlalu lama Indonesia akan bisa berdiri sejajar dengan Negara –negara maju lainnya. Dimulai dengan program peningkatan kompetensi guru yang  memegang peran vital dalam dunia pendidikan, maka pastilah berimplikasi pada kualitas peserta didik. Guru yang hebat dan mumpuni akan melahirkan generasi cerdas dan berkarakter. Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas generasi saat ini.   Dan yang pasti kita tidak pernah lagi mendengar dan membaca bahwa peringkat kemampuan peserta didik dari Indonesia berada pada level terbawah.

Sebagai seorang guru saya bangga telah menjadi anggota IGI. IGI telah menarik simpatik banyak guru dengan mottonya yang sangat memikat. Sharing and Growing Together. Harapannya, melalui organisasi ini, akan semakin banyak guru-guru di Indonesia yang terupgrade kemampuannya dan tentunya akan berimbas kepada semakin baiknya kualitas pendidikan di tanah air kita. Pendidikan yang semakin berkualitas merupakan satu-satunya jalan kearah pencapaian peradaban yang semakin maju bagi Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita.

Comments

comments

BAGIKAN
Artikulli paraprakGURU “AJI MUMPUNG”
Artikulli tjetërKOMITMEN BUAT IGI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here