KELUAR DARI ZONA NYAMAN

1
689

RENELITA ARTATI

IGI Banten

Mengajar biologi sejak 1986 membuat saya merasa tenang, tenteram, hampir tanpa halangan, dan tantangan. Perubahan kurikulum silih berganti juga tidak membuat saya gusar, paling juga berubah sedikit, dari sisi administrasi terutama, sedangkan di kelas, tidak banyak berubah, begitulah yang ada dibenak saya. Demikian pula perpindahan tempat mengajar dari satu sekolah ke sekolah berikutnya, demi masa depan yang lebih baik, belum juga mengubah mindset saya tentang ‘mengajar’. Sampai saat ini di madrasah terakhir tempat saya berlabuh, yang insya Allah hingga masa pensiun tiba, madrasah yang sampai saat ini terbilang ‘terbaik di Indonesia’, tidak banyak perubahan yang saya lakukan dalam metode mengajar.

Suatu hari seorang teman memperkenalkan saya pada IGI, yang sebelumnya jangankan tahu apa itu IGI, mendengarpun belum pernah. Hingga karena nasib baik dan memang garis takdirnya demikian, sampailah saya menghadiri kongres IGI di Makasar, terbang gratis dengan GarudaMiles. Sebenarnya dari obrolan di grup IGI yang saya ikuti, saya sudah merasa minder, hebat-hebat sekali guru-guru IGI ini, bathin saya. Penuh semangat dan inovatif. Setelah bertatap muka di Makasar, makin terbukti dugaan saya tersebut. Hal ini membuka mata saya, pikiran saya, bahwa ada dunia mengajar yang lebih menantang, lebih menarik, lebih memerlukan ‘usaha’ untuk membuat kelas lebih menyenangkan. Saya bertekad, saya harus keluar dari zona nyaman saya selama ini. Tidak ada kata terlambat untuk belajar sesuatu yang membawa kita ke arah yang lebih baik.

Hampir setahun saya bersama IGI, berkenalan, berteman, dan bertemu dengan teman-teman hebat yang tidak kenal lelah, tidak kenal libur, membuat saya keteteran membagi waktu antara berbagai urusan rumah, pekerjaan rutin di sekolah, dan keinginan untuk tidak tertinggal berita-berita kegiatan IGI. Perlahan saya mencoba ikut bersemangat ketika saya membacanya, berharap sayapun memperoleh ‘ruh’ semangat perubahan  bagi saya. Seringkali kegiatan IGI yang ingin sekali saya ikuti berbenturan dengan tugas dari sekolah, atau urusan keluarga. Sampai ketika kesempatan itu datang, Workshop pertama saya,  tentang pembuatan komik, yang juga menghantarkan saya berkenalan langsung dengan Ketua Umum IGI, orang hebat yang tak kenal lelah membesarkan IGI, berkomitmen pada peningkatan mutu guru, agar guru lebih melek IT.

Kegiatan saya berikutnya adalah Training of Coach kerjasama antara IGI dengan Samsung yang diselenggarakan IGI Banten di Serang, pada tanggal 26-27 Desember 2016. Jarak lebih dari seratus kilometer tidak menghalangi keinginan saya untuk maju bersama IGIers lainnya. Teman-teman lainnya juga datang dari tempat yang tidak bisa dibilang dekat, dan kami semua bersemangat belajar, padahal sebagian besar dari kami adalah ibu-ibu guru. Beragam materi kami peroleh, mulai dari optimalisasi penggunaan tablet Samsung A8, sparkol, menemu baling, power point, dan lainnya. Dari pagi hingga pukul sepuluh malam, lanjut hari kedua hingga magrib menjelang, serasa tidak cukup. Saya larut dalam keasyikan mempelajari dan mencoba berbagai program tersebut. Sampai pada satu tekad bahwa bila saya pergunakan keterampilan-keterampilan baru saya ini dalam proses pembelajaran saya di kelas, pasti makin menyenangkan bagi siswa dan pengetahuan ini akan saya bagi kepada teman-teman guru di sekolah agar makin banyak guru yang tidak hanya puas mengajar dengan metode yang ‘itu-itu’ saja.

Begitulah sekelumit cerita saya tentang kebersamaan saya bersama IGI selama setahun ini. Terima kasih sudah membuka mata dan pikiran saya untuk terus belajar meningkatkan kemampuan mengajar saya, tidak hanya puas dengan cara mengajar saya selama ini. Terima kasih sudah bertemu dengan teman-teman hebat dari seluruh Indonesia, terutama IGIers Banten, terlebih Ibu Tuti Alawiyah yang sudah memberi tumpangan tidur, sebagai guru saudara.

Comments

comments

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here