IGI: SOLUSI KEGALAUANKU

0
659

SYAIFULLAH ANSHORY, M.Pd

Pengawas Sekolah Kab. Kubu Raya

Semuanya bermula dari kegalauan penulis terhadap rendahnya kemampuan beberapa rekan tenaga pendidik dalam proses pembelajaran, khususnya dalam penggunaan media pembelajaran, kemampuan menulis karya ilmiah, dan kemampuan menggunakan perangkat IT. Kegalauan ini bermuara pada keinginan penulis untuk memiliki kemampuan memberikan bimbingan pada rekan-rekan tersebut. Namun, untuk memiliki kemampuan tersebut tentunya penulis juga harus memperoleh sejumlah pengetahuan dan keterampilan baru yang belum dimiliki.

Beruntung penulis mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui media sosial. Awalnya salah seorang teman yang merupakan guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah di Kabupaten Landak mengenalkan keberadaan IGI ini. Selanjutnya, melalui pertemanan dengan salah seorang penulis di Solo Raya, penulis mengenal IGI lebih jauh. Setelah melakukan browsing mengenai IGI tersebut, penulis berkesimpulan bahwa organisasi yang keberadaannya sebagai organisasi profesi diakui berdasarkan SK Depkumham Nomor AHU-125.AH.01.06 Tahun 2009 tertanggal 26 November 2009 ini bisa menjadi alternatif bagi penulis untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang penulis perlukan. Pengetahuan dan keterampilan yang belum pernah penulis dapat dari organisasi profesi yang selama ini penulis ikuti. Ternyata, pilihan penulis tidak salah.

Berdasarkan penjelasan dari situs resmi IGI, penulis beranggapan bahwa beberapa program unggulan yang dicanangkan oleh IGI seperti Sagusatab, Sagusanov, Sagusakti, Sagusavlog merupakan jawaban dari kegalauan penulis sebagai-mana dipaparkan di atas. Dan keyakinan tersebut benar adanya setelah penulis berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan yang bertajuk “Training of Coach (TOC): Literasi Produktif Berbasis IT” diselenggarakan di Samsung Service Center, Jl. Jend. Urip Pontianak. Pelatihan yang berlangsung pada tanggal 19 s/d 20 Desember 2016 ini dilaksanakan oleh IGI Perwakilan Kalimantan Barat dan bekerjasama dengan Samsung  sebagai media partner.

Kegiatan ini dibuka oleh Hengky Wahyudi dan Maharani Arifin selaku pengurus IGI Kalimantan Barat, yang memperkenalkan organisasi IGI dan segala kiprah yang telah dilakukannya. Dalam kegiatan tersebut, para peserta yang sebagian besar merupakan tenaga pendidik dari berbagai tingkatan di Kalimantan Barat disuguhi berbagai macam materi pelatihan yang benar-benar berbeda dari pelatihan yang selama ini penulis kenal. Ada pelatihan pembuatan komik pembelajaran, ada penggunaan program PowerPoint VBA yang dapat dipergunakan dalam pelaksanaan evaluasi dalam proses pembelajaran, ada pembuatan blog. Pelatihan yang tidak hanya bersifat pasif, tetapi pelatihan yang bersifat aktif. Peserta didorong untuk ikut terlibat aktif dalam setiap sesi yang disampaikan. Tidak ada waktu bagi peserta untuk melamun mendengar penjelasan nara sumber.

Apalagi pada saat Bapak Abdul Karim, Ketua Bidang Peningkatan Mutu Guru IGI Pusat yang mendapat julukan Master Komik di IGI menyampaikan materi. Penjelasan beliau mengenai pembuatan komik pembelajaran yang diselingi dengan kegiatannya memotret peserta, membuat peserta bersemangat. Apalagi saat beliau menjelaskan penggunaan aplikasi Lectora Inspire, kontan membuat beberapa peserta mencoba untuk membuat komik menurut skenario mereka masing-masing.

Peserta tentu tidak merasa menyesal telah mengikuti kegiatan tersebut, walaupun mereka datang dari daerah-daerah yang jauh. Artinya pengorbanan mereka terbayar setelah mengikuti kegiatan tersebut. Namun demikian, harus diakui bahwa pelatihan dalam waktu singkat seperti ini belum bisa diharapkan memberikan hasil yang maksimal pada peserta (termasuk penulis, tentunya). Perlu waktu yang cukup lama untuk dapat memahami dan mampu menerapkannya dalam keseharian peserta sebagai tenaga pendidik di sekolah masing-masing. Namun demikian, setidaknya, secuil pengetahuan tersebut dapat memantik motivasi peserta didik untuk berkarya lebih baik.

Demikian pula beberapa kanal yang diharapkan dilaksanakan, namun tidak terlaksana karena berbagai hambatan. Tentu saja diharapkan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di waktu yang akan datang akan lebih “joss” lagi, sehingga dapat memicu semangat para guru di Kalimantan Barat untuk lebih meningkatkan profesionalisme mereka.

Sebagai seorang yang memiliki ketertarikan dalam bidang peningkatan mutu pendidikan, tentu saja penulis berharap banyak pada organisasi seperti IGI ini. Penulis berharap suatu saat nanti, melalui pelatihan-pelatihan produktif berbasis IT, setidaknya sebagian besar guru yang ada di Kalimantan Barat memiliki sejumlah keterampilan yang menunjukkan bahwa mereka memang layak disebut sebagai tenaga ‘profesional’. Memang hal ini bukan perkara mudah. Namun selama kita masih berpegang pada motto “Sharing and Growing Together”, misi kita dalam memajukan pendidikan nasional dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui kerjasama dengan semua pihak bukanlah mustahil untuk diwujudkan. Bravo, IGI!

 

 

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here