DIDIKLAH DENGAN ANAK DENGAN ZAMAN BERBEDA

0
789

Irwandi Zakaria

Pendidikan berlaku universal dalam kehidupan manusia. Setiap kebudayaan manapun memiliki dasar-dasar pendidikan telah digariskan oleh para pemikir utama di kalangannya. Islam dari sisi kebudayaan, harus diakui telah memberi kontribusi besar pada pembentukan wajah pendidikan dunia hari ini.

Umar Bin Khattab, seorang sahabat Nabi pernah berpesan, “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup padazaman yang berbeda dengan zamanmu,” Kini kita berada satu zaman yang paling dinamis dalam fase sejarah dunia. Perubahan berjalan dengan begitu cepat karena efek teknologi dan informasi. Peserta didik disajikan beragam informasi yang cepat tentang kehidupan dan alam sekitarnya.

Mereka hidup di zaman yang sangat berbeda dengan pendidik atau orangtuanya. Tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks, mulai dari masalah pemilihan sekolah yang baik, lingkungan sosial, dan persiapan dunia kerja.

Melihat pada pilar pendidikan UNESCO ada 4 pilar-pilar pendidikan universal yang dirumuskan oleh UNESCO (Geremeck, 1986) yaitu, belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan (learning to do), belajar menjadi (learning to be), belajar dengan berkerjasama (learning to live together).

Belajar untuk mengetahui (learning to know). Banyak hal yang relevan dan bisa diterapkan dengan pemahaman Islam. Dimulai dari belajar untuk mengetahui atau lebih tepatnya menguasai. Membaca doktrin Islam penguasaan suatu bahan dalam proses pembelajaran sangatlah penting. Sehingga pemahaman yang benar terhadap suatu persoalan menjadi utuh. Misalnya pemahaman terhadap beragama yang hari ini semakin dipertanyakan fungsionalitanya dalam menyelesaikan problema kemanusiaan. Apakah agama hadir untuk menghakimi manusia, atau dia menjadi pemberi solusi yang organik bagi kemanusiaan.

Manusia modern yang kian hari semakin mekanis, menjadi robot bagi dirinya sendiri. Kejenuhan dengan beragam persoalan sudah pada titik tanpa jalan keluar. Hadirnya kemampuan untuk merasionalisasikan pemahaman agama dengan berbasis pada pehamaman yang lebih universal akan memberi ruang tafsir yang lebih dinamis bagi penyelesaian masalah-masalah pendidikan dunia saat ini.

Anak-anak harus sejak dini diperkenalkan pada kemampuan menyerap pengetahuan yang maksimal. Mereka harus dididik dengan lingkungan yang lebih menyenangkan. Menghadirkan rasa nyata akan kebutuhan untuk penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih baik.

Belajar untuk melakukan (learning to do), anak-anak sebagai makhluk organik selalu tumbuh dan berkembang. Mereka mengalami dinamika perkembangan dalam setiap tahapnya. Belajar untuk melakukan adalah sesuatu hal yang sederhana dalam proses pendidikan tradisional, sebelum dikenal adanya sekolah seperti zaman sekarang. Anak-anak hidup dalam keluarga atau masyarakat dan melakukan apa yang menjadi kebiasaan mereka untuk mempertahankan hidup.  Jadi proses pendidikan berlangsung lebih alamiah.

Sejak manusia mengenal pendidikan modern dengan ruang sekolah, kurikulum, media pendidikan dan guru. Pendidikan massal kadang menjadi sesuatu yang asing bagi anak-anak. Mereka diberikan sejumlah teori dan ditagih pada saat yang lain. Proses yang sifatnya artificial ini kadang menghilangkan kemampuan anak-anak untuk melakukan yang semestiya dilakukan oleh mereka. Jadi learning to do sangat penting bagi siswa, mereka mengalami pengalaman yang riil tentang apa yang menjadi harapan kurikulum yang telah digariskan.

Belajar menjadi (learning to be), menjadi diri sendiri sesuatu yang kadang meyakitkan. Pemahaman bagi anak yang sedang tumbuh berkembang terkadang bahwa menjadi diri sendiri dengan adanya perlawanan terhadap orang dewasa. Maka mereka melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang menjadi keyakinan masyarakat sekitar.

Siswa harus diarahkan pada suatu keyakinan bahwa menjadi diri sendiri adalah menjadi diri yang unik, berbeda yang lain tanpa harus menyimpang secara moral dan aturan sosial. Adanya kemampuan yang dimiliki sebagai suatu kemampuan untuk menjadi diri sendiri.

Belajar dengan berkerjasama (learning to live together) adalah sesuatu yang unik dalam doktrin Islam. Sejak lama dia menjadi satu kunci kesuksesan Islam dalam membangun peradaban. Kemampuan Rasulullah SAW menjadi mediator antara Bani Kharaj dan Aus di Madinah serta lahirnya piagam Madinah yang melindung semua kelompok adalah contoh nyata keluhuran Islam yang perlu dibangkitkan kembali.

Pendidikan Islam yang lebih menyejukkan dan membumi pada rasionalitas kebudayaan harus mampu wujudkan bukan sekedar doktrin yang kaku. Inilah yang diharapakan pada live together. Hari ini manusia berinteraksi dengan kebudayaan yang sangat heterogen. Pertarungan budaya yang diramalkan oleh Hutington (futurolog Amerika) sebaiknya harus dihindari. Proses pendidikan yang menyerap ide kebersamaan bisa memberi ruang untuk peserta didik tumbuh lalu membangun kebudayaan yang lebih harmoni.

Terakhir semua kita harus menyadari bahwa proses pendidikan adalah kegiatan mewajarkan kehidupan di alam nyata. Pendidikan bukan kegiatan mekanis yang bisa dipaksakan, dimana guru sebagai perkakas yang memompa ilmu kepada siswa. Namun pendidikan harus diarahkan betul-betul pada mewajarkan kehidupan yang organik, sehingga “ketidakberadaban” di dunia semakin berkurang.

irwandi-sigli

Irwandi Zakaria, Peminat masalah agama, filsafat, psikologi dan dunia penulisan. Buku terbaru berjudul “Titik” diterbitkan oleh Era Intermedia di Kota Solo.Penulis berkhidmat di SMA N 1 Mutiara Pidie sebagai Guru Pembimbing

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here