DI BALIK BERDIRINYA IGI FAKFAK: MULAI DARI NOL RUPIAH DAN MINIM DUKUNGAN

2
1261

Mulai dari mana menjelaskan alasan berdirinya IGI di Kabupaten Fakfak mungkin sangat panjang. Tetapi mungkin sejak memasang niat untuk bersekolah di tanah Jawa sebagai guru dan kembali membangun tanah Papua mungkin benih itu sudah tertanam. Melihat dan merasakan secara langsung apa yang menjadi kebutuhan untuk memajukan SDM di tanah Papua adalah sebuah kegelisahan yang tidak dapat hilang bahkan semakin menguat seiring waktu.

Mengajar di sekolah dan di luar sekolah, sebelum dan sesudah menjadi pegawai negeri, menuliskan apa yang terjadi di kelas, metode apa yang diterapkan, metode apa yang terbaik, menjadi kumpulan catatan yang menggenapkan kegelisahan tadi. Ada yang harus diupayakan apapun itu untuk merubah keadaan yang masih kurang ini. Syukurnya, para siswa adalah tempat terbaik untuk menyampaikan apa yang harus dicapai menjadi manusia berguna bagi tanah Papuanya-versi saya. Biasanya data statistik, hasil-hasil penelitian, saya sampaikan kepada mereka. Hal itu bukan saja sindiran, tapi inginnya dapat membuat kami tersinggung agar mau berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.  Beberapa siswa yang tersentuh dan berubah hingga dapat membawa mereka bersekolah di perguruan terbaik di Indonesia atau bahkan di luar negeri adalah obat tersendiri bagi kegelisahan saya. Namun rasanya ini belum cukup karena hanya sebatas kelas. Berapa siswa setiap tahun yang sudah dapat aku sentuh kesadarannya? Bahkan melalui berbagai lomba menulis yang saya ikuti, berbagai kesempatan tingkat nasional yang saya ikuti untuk menuangkan kegelisahan saya atas kerinduan pendidikan yang lebih maju di tanah Papua ini namun tetap merasa belum cukup karena kegelisahan ini belum dimiliki oleh banyak teman-teman guru di sekeliling saya. Bagaimana perubahan besar dapat terjadi?

Hingga perjumpaan saya dengan teman-teman guru matematika di P4TK Matematika Yogyakarta tahun 2016 pada kegiatan PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan), terutama dengan Pak Khairuddin yang belakangan baru saya tahu adalah orang besar di balik berkembangnya IGI di Aceh Timur, ini saya rasa adalah titik awal perubahan itu. Diskusi yang cukup intens kemudian berlanjut ketika saya menjadi peserta Simposium 2016 di Sentul Jakarta. Suasana yang menegangkan antara PGRI dengan organisasi guru lain di dalam gedung SICC saat HGN 2016 membuat saya banyak bertanya kepada Pak Khairuddin karena teringat  beliau saat kegiatan PKB kerap memakai seragam IGI.  Logo IGI adalah salah satu dari sekian banyak logo organisasi guru yang menjadi backdrop HGN 2016.

Apa yang saksikan dan rasakan di Simposium 2016,  membawa saya untuk menelaah IGI melalui web IGI.  Sepertinya IGI merupakan wadah yang saya rindukan untuk membawa perubahan pendidikan di tanah Papua. Saya guru matematika, dan ketika saya membaca data statistik tentang Papua Barat saya sangat malu. Rasa malu ini yang membulatkan hati saya untuk berjanji…..Saya harus mendirikan IGI di Fakfak. Lalu pada tanggal 1 Desember 2016 saya mendaftar IGI secara online. Saya adalah orang pertama di Fakfak ternyata. Lalu kembali saya bertanya kepada rekan saya, Pak Khai, bagaimana caranya untuk mendirikan IGI di daerah? Ternyata hanya perlu 7 anggota. Lalu saya galang teman-teman di sekolah yang sejalan arah pikirnya. Kami sepakat, IGI Fakfak harus berdiri. Mungkin sepertinya sok atau sombong, masih anak bawang kok nekat, tapi saya berpikir jika bukan saya lalu siapa? Kalau bukan sekarang lalu kapan? Saya paling tidak tahan melihat kesempatan emas terbuang.

Lalu kami memutuskan Januari 2017 IGI Fakfak harus berdiri. Mengapa Januari? Karena masih awal semester baru. Jika menunda, kita akan disibukkan dengan tugas rutin di sekolah. Lalu dibuatlah surat permohonan untuk menerbitkan SK Pengurus Daerah di Fakfak. Niat ini saja ternyata menjadi pengalaman tersendiri karena surat harus ditujukan kepada Ketua IGI Wilayah Papua Barat. Pencarian kontak beliau memberi kesempatan saya untuk berdialog langsung via WA dengan Sekjen IGI, Pak Mampu, Waketum IGI Pak Dahli, bahkan Ketum IGI  Muhammad Ramli Rahim yang terjadi hanya satu hari. Saya, sebagai anak bawang merasa bingung…ini organisasi apa? Kok mudah sekali dalam berkomunikasi? Saya pun dituntun langkah-langkah selanjutnya oleh MRR. Tetapi saya berpikir masa Fakfak saja yang berdiri, di Papua Barat kan ada kabupaten lain. Menurut informasi: Sorong , Manokwari juga belum dilantik pengurusnya. Lalu saya usulkan, mengapa tidak disepaketkan? Pada waktu yang berdekatan agar narasumber dapat menghemat biaya transportasi karena biaya pesawat ke Papua sangatlah mahal. Ketum lalu menunjuk ibu Yully Rachmawaty (pendiri IGI juga pengurus IGI DKI) untuk membantu kami karena bu Yully akan pindah ke Manokwari Papua Barat. Bu Yully segera membentuk grup WA Igiers Papua Barat yang membernya adalah anggota Fakfak, Sorong dan Manokwari. Grup ini bertujuan untuk membahas secara lebih intens apa yang harus disiapkan pada Januari 2017 mendatang karena pelantikan pengurus IGI selalu akan dibarengi dengan pelaksanaan seminar atau workshop.

Pelantikan di Fakfak lalu ditetapkan awalnya tanggal 8 Februari 2017. Sayangnya persiapan terhambat dilakukan karena saya harus mengikuti training di P4TK Matematika Yogya yang disponsori oleh Casio. Modal kami yang nol dan harapan melalui surat permohonan dana ke sponsor menjadi tertunda. Terus terang saya pergi training dengan gelisah. Training berakhir tanggal 29 Januari sementara kami pelantikan tanggal 8 Februari 2017. Narasumber, Pak Satria dan Bu Yully sudah memegang tiket PP.  Kecemasan saya bertambah karena hubungan kami dengan PGRI Fakfak Papua Barat belum harmonis. Upaya-upaya persuasif sebelum saya berangkat ke Yogya belum membuahkan hasil. Komunikasi hanya bisa lewat sms, saya tidak pernah bisa mendapat kesempatan untuk bertemu langsung. Lalu saya mencari jalan, saya meminta dukungan Dewan Pendidikan Fakfak, saya jelaskan niat kami. Alhamdulillah mendapat respon positif. Usaha Dewan Pendidikan untuk mempertemukan IGI dengan PGRI tidak berhasil juga hingga saya berangkat ke Yogya. Di Yogya alhamdulillah pak Khai juga menjadi peserta, lalu hal ini kami diskusikan untuk mencari jalan ke luar terbaik.

Sepulang dari Yogya, tanggal 30 Januari 2017 saya pun bergerak, menyebarkan proposal mencari dana ke bank-bank, audensi dengan Kadisdikpora, dan Bupati. Alhamdulillah keduanya mendukung bahkan membolehkan kami IGI Fakfak menarik kontribusi pada para peserta. Hingga H-3 publikasi belum dapat dilakukan karena gedung belum fix walau bupati sudah memberi sinyal oke. Saat itu saya bilang ke Bupati Fakfak, Bapak Moha, Bapak saya mau Wintder Tuare. Wintder Tuare adalah gedung pertemuan Pemda yang berada di lingkungan Rumah Negara. Gedung pertemuan terbaik dengan fasilitas lengkap AC, sound system, dan kursi untuk 200 orang. Saya katakan, guru-guru SMA  dua bulan belum ada gaji  karena peralihan ke provinsi, mohon pinjamkan kami gedung Wintder. Dana juga masih nol. Persetujuan bupati ternyata belum cukup, karena Kabag umum belum fix. Namun dengan persetujuan bupati ini kami beranikan diri untuk mulai publikasi kegiatan. Semua berjalan tersaruk-saruk dalam ketidak jelasan. Hari pertama pendaftaran baru 2 pendaftar. Hari minggu saya membuat surat undangan peserta ke sekolah-sekolah di kampung-kampung terdekat. H-2 peserta bertambah sedikit demi sedikit tetapi gedung belum fix juga. H-1 siang baru kami mendapat kabar baik. Teman-teman panitia bergegas menyiapakan gedung. Spanduk baru dibuat sesaat setelah gedung fix. Keadaan mulai berangsur menggembirakan, Bank Papua memberi bantuan 3 juta pada H-1. Itu juga dengan sedikit tekanan. Saya sampaikan saya mau memesan spanduk saat ini juga, jika Bank Papua memang mau mendukung saya akan pasang logo Bank Papua, begitu juga BNI 46. Saya sampaikan bukan berapa yang akan diberikan tetapi kesediaan untuk mendukung. Entah mengapa  cara ini berhasil.

Pak Satria, Ibu Ika dan Bu Yully saya jemput tanggal 7 Februari 2017 pagi hari sekitar pukul 09. 00 WIT sendiri saja. Teman-teman semua tugas mengajar. Sebenarnya ingin upacara penjemputan seperti MRR dijemput di Padang, tetapi apa daya tangan tak sampai. Pak Satria beserta ibu saya antar ke hotel, sementara ibu Yully menginap di rumah saya. Saya baru mengenal istilah guru saudara. Saya hari itu resmi menjadi guru saudara ibu Yully. Usai mengantar para tamu beristirahat sejenak untuk kemudian bersiap mengisi Seminar di hari pertama sekaligus pelantikan, saya harus kembali ke gedung memastikan persiapan teman-teman. Dari semua persiapan yang paling saya khawatirkan adalah undangan untuk Ketua PGRI. Undangan masih di tangan saya karena sejak kemarin saya tidak berhasil menemukan rumah beliau, hingga H-3 jam. Saya khawatir ini akan jadi masalah. Lalu saya sms beliau alasan undangan belum sampai dan permohan kesediaan untuk hadir pada acara pelantikan yang akan berlangsung 3 jam lagi.

Satu persatu masalah kami teratasi. Tamu-tamu penting yang diundang hadir. Asisten I mewakili Bupati, Dewan Pendidikan, Kadisdikpora, bahkan Ketua PGRI akhirnya hadir.  Mars PGRI dilantunkan oleh paduan suara anak-anak kami SMAN 1 Fakfak yang baru dipelajari 2 hari lewat youtube. Peserta terus mengalir bahkan hingga saya harus memberi laporan di podium. Sebenarnya hanya Workshop saja pada tanggal 8 tetapi karena Pak Satria sudah tiba tanggal 7 maka saya usul kepada beliau untuk diadakan seminar setengah hari tentang Gerakan Literasi Sekolah. Bu Yully menyampaikan literasi digital dengan Tab Samsung A8, dan saya menyampaikan optimalisasi literasi matematika dengan kalkulator casio fx-991 ID PLUS. Samsung dan Casio adalah sponsor IGI, sementara saya punya kepentingan untuk mendiseminasikan hasil training tentang kalkulator di Yogya kemarin.

Animo peserta hingga hari kedua tetap tinggi. Total peserta adalah 210 orang dari target 200 orang. Untuk kegiatan pertama dan dengan waktu publikasi yang sempit bagi kami ini adalah hal sangat luar biasa. Kehadiran Pak Satria dan Ibu Yully telah membakar semangat guru-guru Fakfak untuk lebih maju dengan cara membaca dan menulis. Antusiasme para peserta tampak saat diberikan kesempatan bertanya atau menyampaikan pendapatnya. Beberapa guru menyampaikan rasa terima kasihnya kepada IGI yang memberikan mereka kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini yang sebelumnya belum pernah ada. Bahkan saat diberikan kesempatan berfoto bersama, para peserta lebih memilih berebut membeli buku Panduan Menulis yang dibawa Pak Satria. Sebagian mengeluh lupa bawa uang hingga rela meminjam demi sebuah buku yang tampaknya telah mereka anggap penting.

IGI sepertinya telah cukup merebut hati guru-guru Fakfak. Hingga penutupan usai, tercatat hampir 50 orang mendaftarkan diri menjadi anggota IGI Kabupaten Fakfak. Panitia memang telah mengantisipasi dengan menyiapkan formulir pendaftaran, dan koordinasi dengan Bendahara IGI untuk menerbitkan buku rekening IGI Kabupaten Fakfak. Semoga langkah pertama ini menjadi langkah harapan bagi kami guru-guru Fakfak untuk lebih maju. Terima kasih yang tidak terhingga untuk sahabat saya Pak Khairuddin yang selalu setia menjadi konsultan kami, Bu Yully, Pak Satria, MRR, Pak Mampu, Pak Dahli, IGIers Papua Barat, rekan-rekan pengurus IGI Fakfak, Pemda Fakfak, Bupati Fakfak, Kadisdikpora, Dewan Pendidikan Kabupaten Fakfak, Samsung, Casio, Bank Papua, Bank BNI, Standard, Telkomsel, dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, karena tanpa bantuannya IGI Fakfak tidak dapat berdiri. Saya tidak mengira dengan nol rupiah, dukungan yang minim, dan waktu yang singkat, semua niat baik dapat diwujudkan bersama.

 

Terima Kasih,

Chandra Sri Ubayanti

Ketua IGI Fakfak

Comments

comments

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here