DENYUT NADI YANG TAK LAGI TERASING

0
466

Oleh : Betty, M.Pd.

Saya mendengar namanya sejak sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu saya tidak mengetahui apa-apa tentang dia. Anehnya, meskipun dia masih menjadi sosok yang asing, saya begitu saja menyerahkan diri untuk menjagi bagian dari dirinya, untuk menjadi salah satu denyut nadinya, untuk menjadi anggota keluarganya. Ya, dia adalah Ikatan Guru Indonesia (IGI). Pertama mendengar namanya, saya langsung saja mendaftarkan diri menjadi anggota.

Terus terang, meskipun sudah menjadi anggota IGI saya masih tetap belum mengenalnya. Saya tidak tahu persis siapa dirinya, tidak tahu di mana kepala dan badannya, tidak tahu siapa saja anggota keluarganya, tidak tahu apa aktivitasnya. Sekian lama berselang, saya menjadi nadi yang terasing hingga suatu hari saya kembali mendapat  kabar tentangnya, tentang IGI. Dari sebuah grup whatsapp, saya mendapatkan link tentang kegiatan Sagusaku. Tanpa pikir panjang saya pun langsung saja mendaftarkan diri dalam kegiatan Sagusaku Bandung.

Beberapa waktu berselang saya terhubung dengan grup whatsapp Sagusaku Bandung. Sejak saat itu, saya mulai melihat sosok itu. Ya, meskipun masih remang, saya merasa sudah mulai bisa melihat sosoknya, sosok IGI yang selama ini masih entah bagi saya. Dari grup whatsapp tersebut saya mulai mengenal dan masuk grup-grup IGI lainnya dalam aplikasi telegram. Grup-grup sebagai rumah-rumah kecil IGI yang berisi guru-guru hebat!

Hari yang dijadwalkan untuk kegiatan Sagusaku Bandung pun akhirnya tiba. Selain sebagai seorang guru di sekolah, saya pun seorang guru dari tiga anak shaleh-shalehah. Ya, saya seorang ibu. Si bungsu masih berusia 6 bulan. Memberikan ASI adalah salah satu cara saya meng-ASI-hinya. Oleh karena itu, saya memboyongnya juga ke lokasi pelatihan beserta dengan kedua kakaknya. Untuk membantu menjaga mereka, ibu saya pun menyengajakan diri datang dari Sumedang untuk ikut serta. Satu lagi, tentu saja saya pun diantar oleh sang pujaan hati, Pak Suami. Ah ya…, dari para peserta Sagusaku Bandung itu, saya mungkin peserta yang paling berisik dengan keriuhan satu anak dan dua balita. Huhuhu, maafkan…!

Di hari pertama, dari Wisma Tut Wuri Handayani saya diantar oleh si Sulung menuju lokasi pelatihan. Kami berkeliling mencari lokasi tersebut. Sebelumnya, kami juga sempat bertandang ke kamar-kamar menemui keluarga IGI, menemui guru-guru hebat. Sungguh, rasanya beruntung sekali saya bisa berada dalam kegiatan ini. Berjumpa dengan Bu Nurbadriyah yang semangatnya cetar membahana, Bu Firna yang cantik, serta Bu Neli yang asyik. (Prok, prok, prok, yeee…!) Bersua dengan Pak Ali yang dalam segala kehebatannya masih saja bersahaja, juga Pak Adang yang pembahasannya renyah, serenyah keripik buah. Bertemu dengan Bu Hj. Eni yang lemah lembut serta penuh pesona, Uwa Toto yang supel dan penuh canda, dan yang lainnya. Dalam Sagusaku Bandung ini saya menjumpai guru-guru hebat yang penuh semangat, menemui keluarga IGI yang penuh inspirasi dan inovasi.

Selain berharap untuk mendapat banyak ilmu dari mereka, saya juga berharap akan ketularan semangat mereka yang luar biasa! Banyak dari mereka yang sudah menerbitkan berpuluh judul buku. Sejauh ini saya baru menerbitkan buku-buku keroyokan dengan teman-teman yang lain. Setelah pelatihan ini saya pun harus menerbitkan buku saya sendiri! Saya yakin, dengan ilmu dan semangat yang saya dapat dari Sagusaku, insyaallaah saya bisa!

Melalui Sagusaku Bandung, akhirnya saya mengakhiri keterasingan saya pada IGI. Saya bertemu dengan anggota keluarga yang lain, mendapatkan denyut nadi yang lain menuju jantung dan diri IGI yang menyeluruh.

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here