TOC MAKASSAR; DIGITALISASI PEMBELAJARAN

0
452

ASGAR

Anggota IGI Kabupaten Maros, Sulsel

Sebagai rangkaian training nasional yang dilaksanakan IGI Pusat, IGI Sulawesi Selatan melaksanakan Training Of Coach (TOC) Literasi Produktif berbasis IT Angkatan Ke-2 selama 2 hari mulai tanggal 17-18 Desember 2016 yang bertempat di SMP Islam Atirah Jl. Kajoalalido Makassar. Kegiatan ini, merupakan respon cepat, terencana, dan sistematis yang dilakukan oleh IGI menyikapi lemahnya kompetensi guru-guru Indonesia, termasuk lemahnya penguasaan IT dan pemanfaatannya dalam pembelajaran.

Hal ini tidak sejalan dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat dan tidak bisa dielakkan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah merasuk ke berbagai dimensi kehidupan, termasuk pendidikan. Kemajuan teknologi tersebut, terutama internet dan perangkat yang mendukungnya seperti gadget, tablet, dan smartphone menjanjikan banyak hal positif dalam dunia pendidikan jika pemanfaatannya dioptimalkan.

Melalui IGI, guru-guru saat ini semakin sadar akan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Memang,

“teachers will not be replaced by technology, but teachers who do not use technology will be replaced by those who do.” Betul, teknologi tidak bisa menggantikan manusia secanggih apapun teknologinya. Tetapi guru yang tidak menggunakan teknologi dalam pembelajaran akan tergantikan oleh guru yang menggunakannya. Banyak alasan yang dikemukakan oleh para ahli, mengapa dinosaurus punah. Tetapi salah satu social reason-nya adalah karena ia tidak mau berubah.

Dengan teknologi guru dapat memanfaatkan multimedia (tentu jauh lebih baik dari singlemedia), sumber pembelajaran yang kaya, individualized teaching, pembelajaran transformasional dan menginspirasi.  Kata George Couros “technology will not replaced great teachers but technology in the hands of great teachers can be transformational”.

Transformasi adalah sebuah proses perubahan yang mendasar pada diri manusia. Pembelajaran transformatif adalah pembelajaran yang menghasilkan perubahan mendasar pada diri peserta didik, perubahan yang substansial bukan artifisial. Perubahan itu bisa dalam bentuk, penampilan atau struktur; bisa perubahan kondisi, hakikat atau karakteristik; juga bisa perubahan sustantif. Perubahan transformatif tidak hanya merubah kognisi dan psikomotorik peserta didik, tetapi juga merubah afeksinya. Nah, teknologi bisa memantik terjadinya pembelajaran transformasional, pembelajaran yang menginspirasi dan mengubah.

Sayangnya, saat ini masih banyak sekolah-sekolah yang melarang peserta didiknya menggunakan HP atau smartphone dalam pembelajaran. Memang teknologi itu bermata dua. Di satu sisi teknologi memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan di dalam pembelajaran. Teknologi bisa menjadi sumber yang sangat kaya  dalam pembelajaran.  Tetapi di sisi lain teknologi mengandung hal-hal negatif yang bisa mempengaruhi perkembangan peserta didik misalnya pornografi yang dapat diakses secara bebas melalui smartphone masing-masing. Kenyataannya, dilarang atau tidak peserta didik tetap menggunakan smartphone dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jika mereka tidak menggunakan di sekolah, mereka akan menggunakannya di rumah.

Solusinya adalah mengarahkan peserta didik lebih banyak menggunakan smartphone untuk pembelajaran. Teorinya adalah semakin banyak kita menggunakan waktu dalam hal-hal positif maka waktu waktu melakukan hal-hal negatif semakin berkurang.

Dari sudut pandang inilah, Training of Coach yang dilaksanakan oleh IGI  Sulawesi Selatan, memiliki peran yang sangat penting dalam membantu guru-guru untuk semakin melek teknologi sekaligus dapat memanfaatkannya secara maksimal dalam pembelajaran, mewujudkan pembelajaran transformatif.

Pada hari pertama, peserta ToC IGI Sulawesi Selatan mendengarkan pemaparan dari trainer PT.Samsung Electronics Jakarta, mas Hendrik tentang pemanfaatan tablet Samsung A8 dengan berbagai fitur yang memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Sebagai contoh penggunaan virtual board atau papan tulis virtual yang memungkinkan guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan mobilisasi yang tinggi. Guru tidak perlu maju-mundur hanya untuk menulis sesuatu di papan tulis. Dengan fasilitas virtual board tablet Samsung A8, guru dapat menulis dari area mana saja di dalam kelas ketika memimpin diskusi kelas atau menjelaskan materi pembelajaran.

Pada siang hari materi dilanjutkan dengan pembuatan media pembelajaran berbasis komik menggunakan aplikasi comic strip pro dan animasi. Materi ini dibawakan oleh salah satu trainer nasional, Dewi Wahyuni.  Sedangkan materi animasi dibawakan oleh Pak Imran Rosyadi dari IGI Maros,  sekaligus juga trainer nasional, alumni ToT Surabaya.

Pembuatan media pembelajaran berbasis komik dan animasi ini sangat menarik karena biasanya komik dan animasi disukai oleh anak-anak remaja. Di samping itu media ini dapat digunakan oleh peserta didik untuk membuat ringkasan pelajaran mereka. Dengan itu, ada dua hal yang mereka dapatkan pertama mereka dapat meringkas materi pembelajaran yang kedua media tersebut dapat merangsang kreativitas anak untuk membuat sesuatu materi pembelajaran yang mungkin sulit menjadi mudah dan interaktif.

Pada hari kedua materi ToC IGI Sulawesi Selatan dilanjutkan dengan membagi 2 kanal besar. Kanal yang pertama terdiri dari materi sagusanov (satu guru satu inovasi) yang dibawakan oleh Muntasir Hak dan sagusampi (satu guru satu media pembelajaran interaktif) dibawakan oleh Arfani Babay. Satu kanal lainnya menerima materi  sagusablog (satu guru satu blog) yang dibawakan oleh Basri Lahmuddin dan Digital Class yang disampaikan oleh Imran Rosyadi.

Sebagaimana amanah dari ketua umum pusat Muhammad Ramli Rahim pembagian 2 kanal tersebut dimaksudkan agar materi pelatihan yang diterima oleh guru sesuai dengan pilihan dan kemampuan masing-masing guru. Jadi training of Coach lebih bersifat personal dibandingkan ToT.

Setelah berlangsung 2 hari materi ditutup oleh ketua IGI Sulawesi Selatan Edi sutarto M. Pd. Selanjutnya penyelesaian tugas  masing-masing kanal dilanjutkan sesudah berakhirnya pelaksanaan Training of Coach.

Menurut hemat penulis apa yang dilakukan oleh Ikatan Guru Indonesia merupakan suatu hal yang spektakuler sebuah terobosan yang besar, sebuah lompatan dalam penguasaan multiliterasi produktif dalam meningkatkan kemampuan kompetensi guru baik kompetensi profesional maupun kompetensi pedagogik. Bersama IGI ada harapan besar akan peningkatan kualitas guru-guru Indonesia di masa depan. Guru-guru Indonesia tidak lagi ketinggalan dari negara-negara tetangga yang telah lebih dulu menggunakan teknologi dalam pembelajaran.

Jayalah IGI, jayalah guru Indonesia

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here