SEMUA ANAK ITU CERDAS

0
84

AIYUB, S.Pd

Fungsionari IGI Kabupaten Aceh Timur

Guru SDN Buket Bata

Berangkat dari sebuah cerita Abu Nawas untuk menguji keaslian anaknya. Siapa yang tak kenal dengan Abu Nawas yang hidup di zaman Raja Harun al Rasyid di Negeri Seribu satu malam. Merasa curiga terhadap istrinya saat pergi beberapa tahun dan ketika pulang memiliki anak. Hal itu membuat pikiran Abu Nawas berputar bekerja mencari solusi, kalau ditanyakan akan membuat hati istrinya terluka, apalagi tuduhan yang maha berat. Itu menyangkut tentang kesetian seorang istri. Sebelum ditanyakan kepada istrinya Abu Nawas memiliki trik tersendiri untuk mengujinya. Dalam pikirannya terlintas “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Memancing ke laut itulah yang dilakukannya, Abu Nawas tidak lupa mengajak anaknya. Mereka membawa perlengkapan memancing tanpa membawa bekal untuk bisa dimakan selama memancing. Saat memancing Abu Nawas pun menyuruh anaknya untuk membeli makanan ditengah laut. Sang anak tidak menolak permintaan ayahnya segera menceburkan dirinya ke dalam laut. Tak berapa lama sang anak keluar dari dasar laut dan memberi tahu kepada ayahnya “Ayah, semua kios tutup, mereka semua pergi shalat Jum’at ” . Abu Nawas tersenyum dan semakin yakin bahwa itu 100% anaknya.

Kisah Abu Nawas tersebut menjadi contoh bagi kita. Bagaimana cara menyelesaikan sebuah masalah tanpa menimbulkan masalah yang baru. Apalagi bagi seorang guru saat menghadapi anak didiknya. Mereka berkumpul dalam sebuah ruangan. dari berbagai kalangan dan berbagai karakter yang diwariskan oleh orang tuanya. Ada yang rajin, ada yang malas. Ada yang cerdas dan ada yang tidak mau tahu apa-apa yang penting bagi mereka, dia bisa bersekolah. Pada dasarnya mereka semua cerdas tidak ada yang bodoh cuma mereka belum mendapatkan kesempatan dan media yang sesuai dengan usianya.

Kecerdasan anak itu berbeda-beda tergantung dari segi mana kita melihatnya. Ada sebuah durian yang jatuh, dilihat oleh beberapa orang anak. Anak yang pertama mencoba menganalisa berapa ketinggian jatuhnya dan berapa daya dorongnya. Anak yang kedua dia membayangkan bila dijual akan mendapatkan uang sekitar 30.000 Rupiah. Anak yang ketiga dia tidak mau mengambil durian karena durian itu bukan miliknya. Allah Maha melihat, mengambil Hak orang lain adalah dosa. Anak yang keempat, durian tersebut diberikan kepada orang yang sedang lapar. Dia tidak bisa melihat orang lain dalam kesusahan. Keempat anak ini cerdas. Anak yang pertama cerdas dalam bidang pengetahuan. Anak yang kedua cerdas dalam mengatasi masalah ekonomi. Anak yang ketiga cerdas dibidang agama dan anak yang keempat cerdas dan peka dibidang sosial. Oleh karena itu kita seorang guru harus mampu dan cerdas dalam melihat semua persoalan tentang anak didik kita. Apalagi dalam menghadapi anak-anak di abad 21.

Terlebih belakangan dengan informasi lebih mudah dan cepat didapatkan sehingga menjadikan mereka lebih kreatif. Hal ini, mengingatkan saya pada cerita anekdot seorang guru yang memberi pelajaran SBK pada materi seni lukis, guru menyuruh siswanya untuk menggambar bebas. Siswa yang malas tapi kreatif, jam pelajaran hampir berakhir tapi dia tidak menyelesaikan tugas. Ketika guru memberikan isyarat “siapa yang sudah selesai boleh pulang”. Sangking terburu-burunya, anak-anak hanya melakukan beberapa goresan langsung dikumpul.

Gurunya tersenyum dan mengembalikan buku gambarnya.,

“kenapa tidak diberi nilai pak?” Sang anak protes.

“Emang kamu gambar apa nak?” tanya guru meyakinkan siswanya

“Kuda makan rumput pak.” Lugas sang anak.

“Mana rumputnya ?” guru mulai bingung

“Dimakan kuda Pak.” Jawab sang anak tegas

“Kudanya mana?” tanya guru

“Sudah lari pak, ini tinggal talinya” sang anak mencoba meyakinkan gurunya

“Ooo, pantesan apa yang bapak nilai tadi, tidak ada lagi rupanya sudah dibawa lari kuda.” Jawab guru tak mau kalah

Kita dapat menyimpulkan bahwa semua anak itu cerdas tergantung dari bagaimana didikan guru dan orang tuanya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Comments

comments