Semangat Luar Biasa Guru di Aceh Besar

0
90

Kegiatan Spectaculer SAGUSAKU IGI di 23 Kabupaten/ Kota Wilayah Provinsi Nangroe Aceh Darusalam berlangsung pada tanggal 6 s.d. 30 September 2018. Kegiatan roadshow dalam bentuk workshop menulis buku hingga terbit dijalankan secara estapet dimulai dari Kota Banda Aceh dan berakhir di Kabupaten Simeulue. Pada Kegiatan roadshow spektakuler SAGUSAKU IGI para peserta wajib menghasilkan tulisan dan buku antologi, serta ditargetkan minimal 50% dari peserta menghasilkan karya buku secara individu.

Kegiatan SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku), gerakan menulis buku hingga terbit merupakan kanal andalan Ikatan Guru Indoensia (IGI) dalam menggerakkan literasi secara masif dengan sasaran utamanya adalah guru. Sudah banyak karya buku yang dihasilkan sejak tahun 2017 bergerak ke seluruh penjuru negeri. Pada bulan September ini pihak Pengurus IGI Wilayah Aceh bekerjasama dengan dua puluh tiga Pemerintahan Kabupaten dan Kota untuk mewujudkan Aceh menjadi provinsi yang produktif dalam kegiatan literasi terutama di dunia pendidikan dengan menggerakkan guru untuk menulis buku.
Workshop Spektakuler Roadshow SAGUSAKU dilaksanakan di Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 8 dan 9 September 2018 tepatnya di Aula SDN Unggul Lampenerut. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Besar menerbitkan Surat Perintah Tugas untuk 51 Guru SD. Karena antusias guru lainnya tinggi untuk bisa menerbitkan buku, peserta dari guru SMP pun ikut hadir sebagai peserta sebanyak 14 guru. Total peserta pada kegiatan ini adalah 65 guru SD dan SMP yang berada di Kabupaten Aceh Besar.

Tema kegiatan “Menuju Pendidikan Aceh Besar yang Bermartabat dalam Bingkai Syariat Islam”, Dr. Silahuddin, M.Ag selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan dalam sambutannya sangat mengapresiasi kegiatan Workshop dari IGI yang mengarahkan pesertanya menghasilkan produk nyata dalam meningkatkan kompetensinya sebagai guru. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar akan memprogramkan kegiatan-kegiatan lanjutan yang serupa sebagai bentuk dukungan nyata terhadap IGI untuk membangun dunia pendidikan sesuai perkembangan zaman. Bapak Silahuddin juga menjanjikan akan memberikan penghargaan dan apresiasi bagi guru yang berhasil menerbitkan buku pasca kegiatan ini, dan memotivasi peserta untuk bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas yang sudah disusun oleh Tim Pelatih Nasional SAGUSAKU IGI.

Setelah kegiatan pembukaan, dilakukan sesi penyerahan buku dari guru hasil kegiatan SAGUSAKU tahun 2017. Buku yang telah ditangan Kadindikbud dijanjikan sebagai bahan kegiatan lanjutan workshop SAGUSAKU hari ini, dengan melakukan kegiatan bedah buku yang akan dihadiri oleh semua peserta yang hadir pada kegiatan SAGUSAKU 2018. Sungguh suatu sambutan yang luar biasa dari pejabat yang amanah.

Pada kegiatan di Aceh Besar turut hadir Kabid Pembinaan Ketenagaan, Agus Jumaidi, S.Pd., M.Pd untuk memberikan semangat kepada peserta dan berkoordinasi dengan semua Kepala Sekolah untuk mengutus peserta workshop dan memastikan kegiatan ini tidak membebani peserta untuk membayar kontribusi kegiatan. Peserta tetap diberi konsumsi berupa snack dan makan siang, walaupun tidak ada kontribusi yang dibayarkan peserta secara pribadi. Kegiatan ini disponsori oleh pihak Erlangga dan SAMSUNG.

Pelatih Nasional IGI yang dihadirkan pada kegiatan ini adalah Teddy Handika, S.Pd., M.T dari Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera selatan. Untuk mendatangkan pelatih disponsori oleh SAMSUNG dan Pengurus Pusat IGI dalam pengadaan Tiket Pesawat dengan nominal tiket pulang pergi Palembang – Aceh sebesar Rp. 3.776.202,00. Nominal angka rupiah yang tidak sedikit bagi seorang pelatih, dan ini menjadi tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan untuk mendorong guru menghasilkan produk dari hasil kegiatan.

Setelah kegiatan pembukaan yang dilakukan secara resmi oleh Kadindikbud Kabupaten Aceh Besar, peserta langsung diarahkan untuk mengikat ide dalam menulis. Dalam kegiatan mengikat ide ini, peserta bersentuhan langsung dengan IT dengan menggunakan handphonenya untuk menulis. Hasil tulisan yang dihasilkan harus diunggah ke blog.igi.or.id, antusias peserta langsung terlihat untuk menyelesaikan tugas dan merupakan tantangan baru baginya. Untuk mengunggah tulisan ke web bukanlah hal yang mudah, karena sebelum mengunggah peserta diwajibkan mendaftar diri sebagai penulis di blog IGI. Perjuangan inilah yang dirasakan peserta karena harus memasimalkan kinerja handphone untuk dapat menerbitkan tulisannya di blog.igi.or.id.

Di sela waktu makan siang, beberapa peserta masih penasaran dengan eror yang ditampilkan di layar web ponselnya, terus mencoba sampai berhasil menerbitkan tulisan di blog IGI. Bahkan setelah selepas istirahat makan siang, masih banyak peserta berkerumun dengan Pelatih untuk menuntaskan tugasnya yang sempat membuat Pelatih kewalahan. Beruntung ada beberapa peserta yang berinisiatif membantu peserta lain yang masih kesulitan dalam mengunggah tulisan di blog IGI.

Sesi kedua pelatih mengajak peserta ke tingkat menulis lanjutan, yaitu menulis cerpen dalam waktu singkat. Cerpen yang dihasilkan harus selesai esok hari untuk dijadikan Buku Antologi Peserta. Peserta wajib meluangkan waktu untuk menulis, jikalau tantangan membuat cerpen berhasil dilaksanakan ada jaminan buku karyanya dapat diselesaikan dalam waktu yang tidak akan lama.

Kegiatan sesi dua dalam menulis ini, membuat pelatih terharu karena ada peserta yang menyampaikan bahwa sangat beruntung dapat mengikuti workshop SAGUSAKU IGI, karena selama ini ada keinginannya untuk menulis tapi bingung harus mulai dari mana. Setelah mendapatkan bimbingan langkah per langkah membuat peserta paham ternyata menulis itu mudah.

Antusias peserta berlanjut di sesi ini, terlihat dari semangatnya untuk mempresentasikan draf cerpen yang baru ditulisannya satu jam yang lalu yang benar-benar dari NOL. Hasilnya sangat menggembirakan, binar mata senang terpancar bagi seorang penulis pemula dapat memunculkan semua ide dan mampu dituliskan sesuai alur cerpen yang disampaikan pelatih. Para peserta telah mampu menggolongkan bagian perkenalan, konflik, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian. Menulis itu mudah, semudah kita berbicara, semudah seperti kita berceloteh dengan teman di keseharian, karena syarat utama menulis adalah MAU.

Ditulis Oleh:
Teddy Handika, S.Pd., M.T.
Guru SMAN 1 Gunung Megang, Kab. Muara Enim SUMSEL
Pelatih Nasional SAGUSAKU IGI

Comments

comments