PEMBELAJARAN ABAD 21, LITERASI DAN HOTS

0
141

PEMBELAJARAN ABAD 21, LITERASI, DAN HOTS
Prof. Dr. Baidhowi
Hasil #menemubaling (74 paragraf dalam 45 menit)

CITA-CITA SEKOLAH LAGI

Saya ingin bercerita sedikit. Tahun 80 saya mendapat beasiswa dari Japan Foundation untuk kuliah di Australia. Semula dijinkan. Tetapi pada saat mau berangkat pimpinan tahu-tahu menolak. Saya harus bantu-bantu pimpinan. Oleh pimpina dikatakan bahwa saya itu sudah doktor walaupun doktor andus. Jadi mau cari apa lagi. Saya mengalah dan terpaksa menyimpan cita-cita saya untuk sekolah lagi.

Tahun ’90 saya ijin kuliah tertulis. Ini karena pengalaman ijin lisan biasanya tahu-tahu ditolak. Saya sudah diterima kuliah dan mulai perkuliahan. Karena jabatan saya sebagai Kabag Perencanaan sangat vital, ketika sudah berangkat kuliah dan tidak ada di kantor, saya ternyata dicari Pak Mentri. Akhirnya pak Mentri marah dan sekali lagi saya gagal melanjutkan sekolah.

Tahun ’96 saya dipercayakan untuk mengelola tugas belajar. “Kamu saya jadikan sekretaris Dirjen. Ini perintah,” kata pak Dirjen. Karena perintah, saya sebenarnya tidak enak karena dikira saya yang meminta jabatan.
Direkturnya dulu Pak Budiono. Semua pejabat hampir semuanya S2 dan S3. Maksud saya master dan doktor, sementara saya masih S1 sendiri. Saya tetap tidak kehilangan semangat untuk melanjutkan sekolah.

Saat itu saya benar-benar berhasil kuliah S2. Saya mengambil jurusan Administrasi Publik. Alhamdulillah dua tahun kelar. Akhirnya suatu ketika harus gladi bersih, terus hari Minggunya itu wisudanya. Saat persiapan wisuda saya juga sedang mendampingi Bank Dunia yang ada di Indonesia. Programnya lesson study yang digagas oleh orang-orang Jepang dan dipraktekkan di Manado.

Kami Makan ikan sebanyak-banyaknya selama 2 hari di sana. Pada saat itu kami pulang dengan pesawat yang tidak terlalu besar. Saat pesawat mau mendarat kurang lima belas menit, diumumkan Roda tidak bisa keluar sehingga pesawat harus muter-muter di atas laut untuk menghabiskan bahan bakar. Itu berlangsung sampai hampit dua jam.

Semua orang ketakutan. Semua orang berdoa. Satu pesawat yang tidak menangis sedih bisa dihitung dengan jari. Jarinya orang banyak karena penumpangnya juga banyak 😂. Saya mulai berpikir, apa gara-gara kebanyakan makan ikan di Manado kita akan gantian dimakan ikan?

Akhirnya pilot dan teknisi turun ke bagian roda pesawat dan berusaha memperbaiki. Alhamdulillah ternyata bisa. Tetapi waktu wisudanya kan sudah lewat Karena tidak jadi ikut wisuda akhirnya staf saya yang diwisuda. Ia mewakili saya. Saya jadi olok-olok teman Itu tahun 98.

Tahun 99 menterinya pak Yuwono. Beliau satu-satunya Menteri yang kasih materi di Lemhanas. Saya diminta menjawab semua pertanyaan beliau. Semua peserta 50% lebih dari kepolisian dan militer. Mereka memperolok-olok saya karena saya yang ditanya-tanya.

Selanjutnya saya pernah diajak Sesdirjen ke Belanda, Inggris, dan Mesir. Karena sudah sampai di Mesir, kami disarankan Umrah Abidin. Umrah yang dilakukan orang dalam sebuah perjalanan. Kami setuju.

Staf Kedubes Mesir memang kreatif. Persyaratan umrah seperti visa dan lain-lain segera diurus. Syaratnya nama jamaah umroh harus tiga kata. Akhirnya dicari cara kreatif. Nama saya kan Baidhowi. Hanya satu kata. Jadi harus dijadikan tiga kata. Nama saya menjadi menjadi Doktor Andus Baidhowi.

Teman saya Drs. Nasihin, SH gelarnya dipisah. Di Visa tertulis Nasihin Sarjana Hukum. Saat di kantor imigrasi teman saya dipanggil saudara Sarjana Hukum. Dia bingung, namanya berubah sama sekali. Demikian juga nama saya akhirnya dipanggil saudara Andus. Semua jadi lucu-lucuan.

 

*KLASIFIKASI LITERASI*

Kemudian masalah literasi. Tadi kan kita bicara literasi. Itu bukan literasi bahasa saja, tetapi juga termasuk literasi yang lainnya. Sehingga kalau kita bicara literasi di sini ini secara umum pengertiannya selalu seperti ini.

Kemudian klasifikasi literasi. Apa itu klasifikasi dari literasi? Itu termasuk literasi bahasa, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, kemudian literasi budaya dan kewarganegaraan. Jadi inilah literasi literasi yang perlu kita pahami bersama, bukan hanya bahasa saja.

Literasi bahasa di Indonesia sudah sangat bagus. Jadi orang kita itu minat bacanya tinggi. Pak Anies pernah mengatakan, minat baca di Indonesia tinggi sekali tetapi daya bahasanya adalah bahasa yang kurang. Kita memiliki minat tinggi dalam membaca WA contohnya. Jadi kalau sudah membaca WA minat orang kita tinggi sekali tapi kalau baca buku itu ngantuk dan tidak sempat. Nah inilah yang harus kita rubah. Itu masalah juga gitu loh. Bagaimana kita itu bisa punya cara untuk meningkatkan literasi.

*PENGALAMAN BERLITERASI*

Nah, saya punya pengalaman juga tentang berliterasi. Terutama yang berhubungan dengan membaca. Bagi saya masalah yang berhubungan dengan membaca buku itu bukan hanya me lngantuk, membaca buku itu waktunya juga nggak cukup. Pengalaman ini saya ambil dari kejadian saat saya kuliah S1 dan S2 saya. Saat itu saya juga baru belajar jadi sekretaris Dirjen. Tetapi pada saat yang sama saya harus kuliah. Kuliah saya itu sore hari, sedangkan kuliahnya itu di Salemba. Jarak kantor dari Jl Salemba Raya itu cukup jauh. Bisa dimaklumi bawah tidak cukup 1 jam kalau saya ke sana dan saya masih harus belajar.

Sebagai sekretaris banyak pekerjaan yang harus mendadak-mendadak saya selesaikan. Tapi saya teruskan aja. Saya banyak mencuri waktu, jadi saya bukan pegawai yang baik karena mencuri waktu. Tapi ya Alhamdulillah kan, begitu ada izinnya mencuri waktu untuk belajar lagi.

Tetapi walaupun bisa kuliah, saya waktu kuliah setiap harinya datangnya paling lambat. Saya datang paling akhir yang di situ. Ya udah capek sekali. Jadi waktu kuliah saya lebih banyak tidur saja. Ketika ujian saya merasa materi-materi kemarin yang di bagikan itu ada di mana saya tak tahu. Saya enggak pernah dikasih materi jadi ya begitulah.

Maaf aja, di antara temen-temen saya mungkin gak ada yang seperti saya. Sudah orang tua, datangnya paling belakang dan duduknya di belakang. Selama kuliah saya juga ngantuk melulu. Begitu ujian ya memang dikerjain, setelah dikerjain saya tidak bisa terlalu berharap dengan hasilnya.

Dulu kan belum ada laptop. Kuliah tahun 96 gitu ya masih banyak manualnya. Yang namanya dosen, persentasi itu pakai OHP. Foto kopi presentasinya selalu dibagi oleh dosen secara unik. Karena yang ikut kuliah itu 20, dia membagi fotokopian setiap hari itu hanya 15. Jadi 5 mahasiswa yang datang terakhir pasti tidak dapat.

Kalau sudah begitu itu saya pasti nggak dapat. Ya saya juga merasa nggak papa. Saya nggak ada pikiran yang macem-macem. Yang penting saya belajar buku yang banyak. Materi kuliah yang dari kemarin ada kok, tapi kan nggak punya duit, nggak bisa apa-apa gitu.

Itu yang berlangsung selama semester 1. Begitu ujian semesteran, dari 6 mata kuliah itu, saya tidak ada yang lulus satupun. Saya ditanya, Pak gimana Pak? Saya jawab, siap Pak. Alhamdulillah. Alhamdulillah Nggak lulus 😂.

Menyikapi kondisi itu saya mencari solusi. Saya harus lulus tes semester kedua. Saya izin pak Deden.

“Pak, kantor saya jangan di situ. Saya mbok dikasih tempat di Senayan,” kata saya. Akhirnya saya bikin di Senayan. Itu saya buat ruangan kecil dan di situ saya kumpulkan teman-teman saya.

“Yuk kita belajar kelompok,” kata saya. Belajar kelompok itu banyak manfaatnya. Jadi ya gak cuma tempat saja yang kita perlukan. Masih ada yang harus cari modal sedikit lah untuk beli buku-buku. Temen-temen yang terutama dosen-dosen dari luar Jawa biasa kumpul-kumpul di ruangan saya dan dengan begitu saya bisa belajar sambil kerja.

Ini bisa dimaklumi karena waktu itu kan belum belum otonomi. Setiap hari itu banyak PAK yang harus saya tanda tangan. Minimal sehari saya menanda tangani berkas tertinggi setengah meter. Berkas-berkas itu harus saya tanda tangani tiap hari. Bahkan di mobil saya juga harus tanda tangani karena terbatasnya waktu. Nggak tahu bener atau tidak, kalau sudah diparaf oleh Kabag-kabag saya berkas itu ya saya teken.😁

Nah di situ dengan cara kerja kelompok dan belajar kelompok alhamdulillah hasil semester kedua nggak ada yang nilainya C. Jadi adanya kerja kelompok membantu memecahkan masalah kita. Di situ kita bersama harus mencari solusi bagaimana supaya masalah ini itu bisa diselesaikan. Dan alhamdulillah, walaupun sambil kerja, sambil ini itu, saya bisa selesai kuliah time, tepat waktu, walaupun hampir tidak wisuda.

*PENGALAMAN LITERASI BACA*

Kembali tentang saat kuliah dulu dan tentang pengalaman literasi baca pada saat itu. Ketika kita tidak sempat membaca, apa dan bagaimana yang kita bisa lakukan? Ya kebetulan caranya kita belajar kelompok. Belajar kelompok ada kita siapkan dengan apa tuh white board electric. Dengan white board elektrik itu apa yang ditulis di situ sangat membantu sekali. Dan belajar itu tidak semua buku dibaca oleh setiap orang. Semua itu adalah satu strategi untuk menguasai kompetensi substansi.

Yang kedua, semua literatur dalam bahasa Inggris. Mungkin kita yang bahasa Inggrisnya bagus tidak masalah, tapi bagi saya isi buku itu nggak jelas semua. Akhirnya apa, dengan kerja kelompok itu beban menjadi lebih ringan. Untuk menguasai satu buku, satu orang wajib membaca 1 bab. Tetapi dari masing-masing setelah paham harus persentasi.

Bahkan babnya itu kemudian dibukukan dan malah bisa jadi buku bagus. Dan itu ternyata sangat membantu sekali. Karena ketika di bangku kuliah di UI, jawaban untuk soal dari Profesor itu harus ada tiga macam, yaitu secara teori, kemudian empirisnya dan analisanya.

Jadi bagaimana menjawab satu soal itu ada teorinya, bagaimana empirisnya, bagaimana analisisnya. Bagaimana kalau kita tidak punya literatur yang kuat? Tentu akan repot. Kita harus nyari apa lagi penilaian yang dilakukan oleh dosen kita cari akhirnya kita ketemu Oh jawaban itu adalah empiris dan analisis.

Jadi jawaban yang diberikan merupakan hasil dari ketajaman penguasaan teori, pemilikan pengalaman empiris, dan kemampuan menganalisis permasalahan. Ternyata itu adalah yang kemudian disebut cara berpikir kritis abad 21.

Di sini kemudian sampai pada apa yang dimaksud dengan literasi numerasi, literasi sains, dan sebagainya. Saya kira ini punya suatu kekhususan sendiri-sendiri di dalam sini. Ini masalah bahasa kemudian bagaimana itu penguasaannya indikator-indikator yang di miliki itu apa saja.

Kemudian ini masalah literasi numerasi (melihat presentasi). Literasi numerasi itu apa saja? Kemudian literasi sains yang ini merupakan suatu keputusan kebutuhan yang sangat mendasar. pekan ini disama penguatan terhadap kompetensi mereka juga. Kemudian ada literasi digital yang sangat mendukung terhadap program-program yang ada sekarang.

*LITERASI DIGITAL DAN EDUMU*

Nah, tentang literasi digital. Kebetulan saya dipercaya menjadi ketua Majelis Pendidikan Dasar Dan Menengah di PP Muhammadiyah. Saya sedang mengembangkan literasi digital sehingga saya membuat suatu program EDUMU (Edukasi Digital Muhammadiyah) di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Saya kemarin jalan-jalan ke Indramayu, ke Cirebon, ke beberapa kabupaten, untuk kita memperkenalkan digitalisasi. Saat ini di dalam suatu pembelajaran itu kita menggunakan teknologi digital yang sudah banyak dipakai oleh
Muhammadiyah dan bisa dipakai untuk memajukan pendidikan pada.

Dengan piranti teknologi saat ini kita bisa memantau masalah karakter. Pendidikan karakter bisa dipantau dari digitalisasi. Misalkan saja anak itu datang ke sekolah, kemudian orang tua bisa memantau lokasi anaknya itu sudah ada di sekolah. Itu karena di sekolah sudah dipasang alatnya. Begitu anak itu datang, Ibunya sudah bisa melihat posisi anaknya kalau buka HP. Oh anak saya sudah sampai di sekolah. Kemudian kalau anaknya itu sedang posisinya dimana, bisa dibantu dari HP ibunya. Jadi ini yang penting dengan desentralisasi pendidikan ini.

Kita disini orang kan banyak belajar tentang pendidikan, misalnya kita ke negara yang maju di Finlandia. Di Finlandia itu kan maju karena mberdayakan peran Tri pusat pendidikan atau apa lah di sini. Dalam pembelajaran IPA mereka memadukan antara orang tua, guru, dan murid yang bisa dibantu dengan digitalisasi. ini ini yang yang sedang dikembangkan di sini dan mudah-mudahan ini udah jalan sekarang.

Teknologi ini sudah ada sekolah-sekolah Muhammadiyah. Yang sudah masuk itu sekitar hampir 100 sekolah. Ada yang SMA dan SMK, ada yang piloting dari murid yang dan lain-lain. Memang saya tidak akan memaksa dan tapi yang begini ini bukan untuk kita ketahui saja, tapi bagaimana kita itu mempraktekkannya. Jadi Bapak Ibu juga bisa suatu saat itu melakukan suatu digitalisasi dalam kegiatan pelatihan-pelatihan yang ada.

Sekarang ini banyak saya ikuti kebijakan dari Kementerian pun juga mengarahnya kepada digitalisasi sehingga perannya bisa memanfaatkan di sana sini untuk peningkatan mutu pembelajaran. Lalu ada yang namanya literasi financial. Ini tentang masalah keuangan yang harus dijadikan indikatornya. Lalu ada literasi budaya dan kewargaan.

*HOTS DAN DIGITALISASI*

Oke, yang berikutnya itu adalah masalah kompetensi. Kaitanya USBN yang HOTS. Kalau kita ikuti TV yang isinya siaran pak Menteri dan apa yang dilakukan di televisi, muncul beberapa kritik terhadap pendidikan. Sebagai contoh, kemarin itu juga ada kritik dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kritik bahwa sertifikasi guru itu tidak punya dampak terhadap mutu pendidikan. Sudah menghabiskan uang puluhan triliun setiap tahun tapi mutu pendidikan tidak berubah juga. Di wilayah kerjanya memang orang keuangan itu harus punya apa perhitungan yang seperti itu. Perubahan itu mang tidak seperti orang membalik tangan saja. Ini adalah tantangan untuk kita semua. Bagaimana dengan sertifikasi itu bisa meningkatkan potensi ekonomi yang menjadi tantangan kita semua.

Jadi perlu dicari solusi. Di sisi lain juga ada kritik-kritik yang diajukan menteri kaitanya dengan pelaksanaan UN. Bahwa UN banyak kelemahan sehingga harus ditiadakan. Itu tuntutan dari dulu dan sekarang UN itu tinggal namanya. Ini karena UN yang semula untuk menentukan kelulusan sekarang tidak berpengaruh untuk kelulusan. Tapi masih dengan nama UN itu. Orang ada yang tidak suka juga gitu, padahal ya lo tidak menentukan lulus itu. Sebenarnya juga itu untuk mempertahan saja tapi yang berkaitan dengan lulusan adalah ujian-ujian sekolah karena mata pelajaran tidak semuanya UN.

Bahwa dengan UN itu seolah-olah ada yang menjadi mata pelajaran favorit yang lainnya tidak favorit. Maka untuk menyeimbangkan itu yang menentukan kelulusan adalah ujian USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional). Itulah ujian ujian standar.

Jadi harus ada pada lupa jadi ini yang yang banyak diisi oleh yang di media-media itu tahu siapa Menteri makan di sini dengan USBN untuk menyeimbangkan antara UN dan non UN . Dan USBN itu masih banyak kekurangan. Bahwa sekarang diperbaiki dengan bantuan Ujian Nasional berbasis komputer untuk mengurangi kecurangan kecurangan yang ada. Itulah yang harus dilakukan.

Apa sebabnya tujuan-tujuannya itu pendidikan membantu kelahiran membantu untuk meningkatkan kompetensinya tapi ya banyak sekali kendala-kendala yang dihadapi yang harus diberi nilai 5 salah penilaian pendidikan sejarah masalah penilaian pendidikan dalam K13 itu sudah banyak solusi

Ya, sudah banyak cara untuk melakukan penyederhanaan pekerjaan, sehingga dengan penilaian ini, apalagi kalau penilaian ini nanti dengan digitalisasi, itu akan lebih mempermudah juga. Karena yang saya lihat di beberapa sekolah kalau sudah menggunakan digitalisasi biasa tidak tahu sistemnya yang mereka bisa membangun sistem untuk melakukan penilaian digital sehingga bisa mempermudah.

Saya ketika melakukan penilaian mahasiswa juga menggunakan penilaian itu tidak hanya hasil ujian saja. Saya melakukan penilaian mahasiswa yaitu melalui empat nilai yang saya pakai. Pertama adalah masalah disiplin. Disiplin kehadiran mahasiswa kalau saya tidak bisa terpisah dari penilaian karakter mereka. Disiplin sebagai acuan baik buruknya nilai akhir mereka.

Kemudian yang kedua, yang saya lakukan untuk para mahasiswa itu adalah di dalam mengikuti kuliah-kuliah itu saya berikan bonus kalau mereka itu banyak berdiskusi. Jadi, mahasiswa saya minta persentasi dan kita langsung berdiskusi. Maka saya tidak selalu mengajar dan menjelaskan secara teoritis.

Secara keseluruhan saya hanya memberikan kunci-kunci tertentu. Mahasiswa saya minta untuk presentasi presentasi terus diskusi-diskusi. Di situ saya melakukan penilaian. Saya mempunyai tabel manual khusus untuk penilaian. Sesampai di rumah saya tinggal memasukkan isinya ke dalam tabel di laptop.

Yang ketiga, mahasiswa itu saya suruh bikin ringkasan mata kuliah (RMK). Jadi mereka sebelum datang itu harus mengumpulkan RMK. Bentuknya tidak dalam hardcopy tapi softcopy yang hasilnya di upload ke web yang saya bikin, sehingga RMK mereka itu saya baca dari situ.

Dan di situ banyak yang lucu. Jika mahasiswa itu copy paste dari temennya akan langsung terdeteksi. Alatnya sekarang ada namanya Turnitin. Dari situ akan ketahuan ada similaritas yang bisa diduga merupakan hasil copy paste. Ya udah, kita lihat aja hasilnya dengan di serahkan pada mesin yang memang dibuat untuk mendeteksi plagiarisme itu.

Dan yang keempat adalah penilaian dari hasil ujian. Bagian keempat ini tentu memegang peranan penting dari keempat sumber penilaian yang saya gunakan. Tapi ini bukan berdiri sendiri karena ada tiga yang lain sebagai pelengkap.

*TENTANG UJI KEMIRIPAN*

Dalam masalah penilaian yang kaitannya dengan tulisan-tulisan sebagaimana dengan RMK, dalam berbagai kesempatan, tetutama ketika ada lomba tingkat nasional, yang perlu diketahui adalah tentang uji kemiripan karya tulis. Ini berhubungan erat dengan plagiasi.
Hal seperti ini sering terjadi dalam lomba di kementerian Dikbud.

Saya masih ingat temen-temen yang dilibatkan, dilihat dari beberapa kegiatan yang sering kita ketemu. Bahwa di dalam penilaian itu selalu dilindungi oleh juri dulu baru diuji kemiripannya. Pernah yang baru diuji ternyata presentasinya bagus, tapi kok hasilnya jelek. Jadi kemiripannya itu tinggi. Itulah itu penyebabnya sehingga akhirnya dia gugur.

Dari situ disepakati bahwa pemenang 1 itu similaritasnya maksimal 20%. Kalau juara 2, 3 itu bisa sampai 40%. Itu dua tahun yang lalu. Tahun ini maksimalnya 30% untuk menjadi juara. Oleh karena itu saya punya pengalaman juga dari bapak-bapak peserta. Nilai pada bidang tertentu bagus-bagus, tapi tidak bisa jadi juara. Tulisannya bagus, persentasi bagus, diskusinya bagus, tapi linearitasnya tinggi.

Itu terjadi di suatu kota. Setelah saya tanya, saya minta untuk kita telusuri, kok bisa begitu. Ternyata karena kehati-hatian untuk peserta lomba itu, sebelum dikirim ke pusat di dia cekkan dulu keasliannya itu ke suatu lembaga. Dia bawa karyanya itu ke ke perguruan tinggi. Ketika itu hasil tulisannya lolos tes tetapi bekasnya tidak dihapus secara online. Tulisannya masih terpampang di situs itu. Begitu ikut lomba dan tulisannya dibawa ke Jakarta, lalu dicek ternyata duplikasinya tinggi

Maka Bapak Ibu, perlu disampaikan pada temen-temen guru dan kepala sekolah, kalau mau ikut lomba saat mengecek kemiripan dengan suatu alat, datanya jangan disimpan dalam bentuk artikel yang diupload di web secara online. Walaupun nilai kemiripannya rendah tapi jangan disimpan di situ. Bahasa teknologinya nggak tahu ya. Jangan disimpan di situ, sehingga tidak terdeteksi dalam similaritas yang akan datang.

Bila sekali tidak terdeteksi lalu di simpan online, nanti akan muncul similaritas itu. Dan itu tidak ada perikemanusiaan. Mesin dalam sistem ini kan tidak ada peri kemanusiaan, yaitu bahwa walaupun ibu aku sendiri di situ udah langsung menunjukkan adanya jelek. Jadi mengecek itu bagus, tetapi supaya tidak disimpan online dalam tempat kerja itu. Itu adalah masalah penilaian yang terkait dengan ini.

Kemudian standar kompetensi lulusan ini sudah banyak. Hal ini masalah UN, USBN, US dan UN, Ujian sekolah dan sebagainya (melihat slide presentasi).

Kemudian tentang penyusunan soal. Penyusunan soal itu yang penting dalam penyusunan soal itu harus mempertimbangkan tingkat kesulitannya. Soalnya itu ada tidak semuanya? Yang sederajat, sulit, ada tingkat rendah, ada sedang dan ada yang sulit. Berapa persen guru kena masalah ini masalah penilaian gajiannya dengan tulisan tulisan dalam berbagai kesempatan terpisah ada lomba tingkat nasional itu kan perlu diketahui.

 

*PEMBELAJARAN HOTS *

Taksonomi Bloom itu dari tahun berapa 70-an, lalu tahun 80-an dan 90-an itu sudah mulai diperkenalkan, adanya perubahan perubahan paradigma dalam pembelajaran. Dan sekarang yang sedang meningkat adalah berpikir tingkat tinggi. Ini dilihat dari berbagai perubahan paradigma yang ada. Nah ini, dari Taksonomi Bloom, ini yang menjadi acuan tentang HOTS itu higher order thinking skills.

Kemudian tentang perubahan paradigma yang selama ini ada. Kalau kita berpikir tinggi itu, kalau kita menanya pada siswa akan menjadi apa, kalau lulus akan menjadi apa, itu hanya pikiran yang pasti bisa jatuh bekerja. Tapi yang harus kita meminta terdepan begitu lulus itu mereja akan bikin apa. Nah, inilah pertanyaan-pertanyaan yang bisa mendorong untuk itu.

Kemudian urutan-urutan dalam berpikir tingkat tinggi, tapi kalau kita lihat dalam ringkasan dari ini semua mengerjakan taksonomi ini saya lewati aja (Lihat slide). Nanti bisa dipelajari urutan dari pola pikir ini. Jadi strategi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir tinggi dari yang sederhana sampai yang paling tinggi.

Di sini dalam berpikir sederhana yaitu sejak membuat peta konsep. Membuat peta konsepnya dulu, setelah itu membuat tugasnya. Mengajukan pertanyaan, kemudian menyusun itu buku harian atau jurnal pembelajaran. Kemudian pembelajaran kolaboratif berbasis web menggunakan analisis, kemudian eksperimen berbasis ini. Ada menggunakan metode proyek latihan-latihan dan pemecahan masalah.

Jadi berpikir tingkat tinggi itu dari merumuskan konsep itu sampai pada pemecahan masalah. Itu yang yang perlu kita biasakan kepada kita. Semua peta konsep, yaitu dan contoh membuat peta konsep dari yang lainnya itu dari satu di macem-macem akhirnya ada induknya. Di sana dari peta konsep yang ada itu kalau secara teori ada penilaian-penilaiannya. Penilaian tentang peta konsep itu dari ini kalau kita melakukan penelitian.

Penelitian juga seperti itu. Bahwa semua instrumen yang kita bikin itu dari instrumen yang mudah sampai instrumen yang sulit. Ini adalah contoh saja tentang penilaian kualitatif yang bisa dibuat untuk melatih bagaimana kita berpikir kritis.

Ketika kita bicara masalah berpikir tingkat tinggi, dari yang sederhana sampai yang tinggi itu levelnya, dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan. Itulah yang kita sudah banyak dilakukan, tetapi karena ini ngetren, sekarang lain lah.

Yang perlu kita ketahui, ketika kita belajar tidak hanya untuk mengingat, tapi belajar itu sampai memaham, pasti bisa menerapkan, bisa menganalisis, mengevaluasi dan bisa menciptakan apa yang dipelajari itu. Itulah tahapan-tahapan Taksonomi Bloom dalam pengambilan suatu keputusan dalam berbagai kegiatan.

Sejak mengingat, belajar itu dari mengingat. Kemudian yang kedua memahami. Dengan memahami, apa yang dipahami mereka itu adalah ilmu-ilmu yang ada. Kemudian yang ketiga yaitu menerapkan apa yang harus diterapkan di dalam pembelajaran.

Misalnya mengetrapkan dalam hal uang yang diterima untuk untuk apa. Uang itu digunakan untuk yang prioritas atau tidak, itu dalam menerapkan hasil itu kemudian menganalisis. Penggunaan uang itu bisa dianalisis. Bagaimana uang itu pemanfaatannya. Pembelanjaan itu akan dipakai untuk barang yang betul-betul bermanfaat atau sekedar untuk menghabiskan uang saja. Ini dalam menganalisisnya.

Kemudian mengevaluasi. Ini mengevaluasi dari hasil yang dikerjakan pada pemanfaatan dari hasil itu karena apa saja. Inilah evaluasi yang harus dilakukan. Sampai yang terakhir, mereka itu bisa membuat atau creating sehingga ada produknya.

Anak belajar itu bukan untuk menjadi apa, tapi anak belajar itu akan membuat apa hasilnya, sehingga dia betul-betul lebih produktif. Itulah yang sekarang ini sedang banyak di diskusikan. Tentang waktu itu yang perlu kita perkenalkan dan perlu kita perhatikan dalam kehidupan sehari hari ini.

 

*KECAKAPAN ABAD 21*

Demikian pula sama-sama tentang keterampilan, tingkatan-tingkatan pelaksanaan keterampilan dalam pembelajaran sebagai poin dari tercapainya kecakapan abad 21 itu apabila sekolah itu mampu meningkatkan mutu layanan dan memberikan tips. Memberikan tips karena sekolah bisa diberi kepercayaan. Bahwa dengan pendidikan yang dilakukan di sekolah itu masyarakat percaya kepada sekolah sehingga dia dan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah itu.

Semakin banyak sekolah itu punya integritas, punya kemampuan, artinya anak yang disekolahkan betul-betul mereka itu punya kompetensi yang baik, kompetensi yang tinggi, dia bisa membangun kepribadian yang baik sehingga sekolah itu bisa menghasilkan anak-anak yang berkepribadian baik. Karena dengan pendidikan karakter yang efektif, peningkatan kompetensi sikap yang dilakukan sekolah maka akan dihasilkan siswa dengan berkepribadian yang baik. Jadi dengan menyekolahkan anak di sekolah itu akan dapat banyak memberikan solusi. Tidak justru membangun masalah baru lagi. Itulah yang dilakukan sekolah.

Demikian Terima kasih atas waktunya. Sudah lebih dari 1 jam.

Terakhir, assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

 

========================[
Jakarta, 11 07 2018 pukul 09.00 WIB hotel Ambhara blok M. Ditulis dengan metode Menemu Baling, menulis dengan mulut dan membaca dengan Telinga.

Comments

comments