MENULISLAH AGAR MENJADI KREATIF

0
144

Oleh: Mampuono
#menemubaling

Salah satu pesan di dalam implementasi kurikulum 2013 adalah menjadikan para siswa memiliki keterampilan berpikir tinggi pada level mencipta atau creating (C6) dalam taksonomi Bloom-Anderson. Harapannya jika siswa terbiasa untuk mencipta, maka dengan sendirinya daya kreasi mereka akan terus-menerus tumbuh. Keadaan ini pada akhirnya akan membawa mereka menjadi siswa-siswa yang berbudaya kreatif. Namun, untuk melakukan semua itu bukanlah sebuah perkara yang mudah. Rahasianya, bahwa kreativitas adalah sesuatu yang menular. Jika di dalam sebuah komunitas ada bibit kreativitas yang muncul, maka dengan pengkondisian yang baik, bibit itu akan tumbuh subur dan menulari seluruh anggota komunitas. Sebaliknya jika tidak pandai merawatnya, bibit itu justeru akan pupus, gugur sejak dini.

Cara yang paling efektif untuk membangun budaya kreatif pada siswa adalah melalui pemberian contoh. Sebaik-baik contoh adalah yang muncul dari gurunya. Sebab hubungan guru siswa dalam budaya Indonesia itu unik. Bagi para siswa, guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, sosok yang bisa mereka percaya (reliabel) dan dijadikan panutan. Seorang siswa bisa jadi tidak patuh ketika sebuah nasehat yang memberikan adalah orang tua mereka, sebaliknya mereka akan cepat-cepat mematuhinya ketika nasehat yang sama yang memberikan adalah gurunya. Jadi, sebelum menjadikan seorang siswa kreatif, guru terlebih dahulu haruslah menjadi kreatif. Salah satu cara bagi guru untuk menjadi kreatif adalah dengan menulis. Karena menulis adalah proses menciptakan (creating) gagasan-gagasan baru. Semakin banyak menulis berarti guru semakin banyak mencipta gagasan-gagasan baru. Semakin banyak mencipta gagasan-gagasan baru, semakin seorang guru menjadi kreatif. Demikian salah satu topik yang penulis singgung dalam sesi motivasi terhadap peserta program SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku) IGI ( Ikatan Guru Indonesia ) Wonogiri pada hari ini, Minggu, 17 juli 2017 di kabupaten Wonogiri.

Penulis khusus diundang oleh pengurus IGI Wonogiri untuk mengisi materi “Integrasi Pembelajaran Abad 21 dalam Implementasi Kurikulum 2013” untuk kawan-kawan guru di sana. Mereka mendapatkan pelatihan menulis dalam program SAGUSAKU di sebuah rumah makan di salah satu kecamatan di Wonogiri. Pelatihan ini berlangsung selama 3 hari, mulai dari hari Jumat pagi sampai hari Minggu sore tanggal 15-17 Juli 2017. Jumlah peserta ada 140 orang yang berasal dari berbagai kecamatan yang menentang dari ujung barat laut sampai tenggara kabupaten Wonogiri.

Peserta terdiri dari para guru SD dan guru TK. Mayoritas mereka adalah kaum hawa. Mereka mengikuti kegiatan ini karena ingin mendapatkan ilmu-ilmu baru tentang bagaimana menulis sehingga menghasilkan buku baru. Narasumber yang melatih mereka adalah Iqbal dari Pati dan Nurbadria dari Bogor serta penulis sendiri dari Semarang. Meskipun dalam dua minggu ini penulis harus bergerak di wilayah yang rentangannya lumayan jauh, mulai dari Gandrung Mangu sampai Majenang Cilacap (9 jam dari Semarang), Gabus dan Winong jauh di Selatan Pati, lalu di Bandungan kabupaten Semarang dan juga di Kudus, bahkan kemarin malam penulis juga barusan landing dari Jakarta dan pagi-pagi sekali harus berangkat menuju Wonogiri (5 jam dari Semarang), tetapi bagi penulis, berhadapan dengan mobilitas yang luar biasa seperti itu justeru memberi semangat tersendiri, karena ruhnya adalah berbagi. Sementara menulis sendiri adalah seseorang yang sangat mengimani bahwa kebahagiaan itu adalah berbagi. Selain itu penulis juga menganut sebuah paham bahwa apabila seseorang melakukan pekerjaan yang merupakan kegemaran atau hobinya, maka baginya bekerja itu tidak seperti bekerja, tetapi lebih seperti menjadi hiburan semata.

Bagi penulis bisa pergi ke Wonogiri dan bersalam-salaman dalam suasana yang masih dekat dengan hari lebaran dengan kawan-kawan yang sudah berbulan-bulan tidak berjumpa, ini adalah karunia. Saya tidak mungkin sampai ke Wonogiri dan berhalal-bihalal dengan teman-teman IGI disini apabila tidak ada acara ini. Jadi walaupun jauh dan kesibukan penulis sangat tinggi, peristiwa ini justeru memberi rasa bahagia tersendiri.

Apalagi di dalam kegiatan ini penulis melihat, sampai sore hari tidak ada satupun peserta yang meninggalkan tempat. Mereka juga dengan suka hati mengikuti sesi baikan atau sumpah janji sambil mengangkat tangan kanan untuk menyisakan waktu minimal satu jam setiap malam untuk belajar lagi hal-hal yang baru, agar minimal bisa mencapai level guru yang unggul menurut Arthur Ward. Superior teachers tell, explain, and demonstrate (Guru yang unggul menyampaikan, menjelaskan, dan mencontohkan). Dengan usaha yang sungguh-sungguh pada akhirnya mereka harus mencapai level guru yang agung (Great Teachers), yaitu guru yang setiap pikiran, perkataan, dan tindakan yang selalu menjadi inspirasi. Baik bagi siswanya, rekan sejawat nya, bahkan bangsanya.

Pelatihan seharusnya ditutup pada jam 15.00 WIB, tetapi sampai jam 16.00 WIB lebih mereka masih tetap bergeming di tempat duduknya masing-masing. Mereka dengan tekun mengikuti sesi penulis dan menunggu instruksi selanjutnya dari panitia.

Pelatihan SAGUSAKU ini berlangsung berjalan lancar dan semua peserta akan mendapat pembimbing sampai produk akhir mereka berupa buku bisa dicetak dan dipublikasikan. Salah seorang peserta, Maria, salah satu guru SD bahkan mengatakan dalam sesi refleksi bahwa pelatihan ini 200% lebih hebat dari yang dia duga. Peserta berharap teman-teman mereka yang lain bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk masuk program SAGUSAKU sebagaimana yang mereka dapatkan.

Selamat untuk IGI Wonogiri. Tetaplah sharing and growing together bersama para IGI-ers di seluruhn Indonesia. Agar kembali marwah guru bangsa ini. Agar siapapun yang menekuni profesi guru adalah guru yang pintar, berbudi, bermartabat, dan sejahtera. Para guru yang kelak akan membawa generasi bangsa ini, minimal duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan generasi bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Salam Pergerakan Pendidikan!

Sekjen IGI

Boyolali, 17072017.
Ditulis sambil berdiri di Bis Safari jurusan Solo Semarang, diedit di Sampangan.

Comments

comments