MENGIKUTI TOT LITERASI PRODUKTIF, MENJALANKAN TUGAS NEGARA

0
347

Pelaksanaan Training Of Trainers (TOT) Literasi Produktif Berbasis IT yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia di LPMP Jawa Timur, menyimpan berbagai cerita, semangat dan idealisme diantara para peserta, mulai dari menuju, proses sampai pasca TOT Literasi.

Sebelum bertolak ke Surabaya, kami dari IGI Sul Sel melakukan pertemuan dengan Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan yang dikemas dalam “coffee morning”, intinya beliau apresiasif atas keberadaan IGI sebagai organisasi profesi. Beliau menyatakan bahwa “Pihak pemerintah ( Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan) mengakui semua yang diakui oleh negara, karena kalau kita tidak mengakui dan menerima yang diakui negara maka menghianati negara). Pernyataan Kadis Pendidikan tersebut memberikan energizer bagi pengurus IGI Sulawesi Selatan ditengah berbagai halangan dan tantangan yang semakin dinampakkan oleh berbagai pihak yang mungkin tidak senang dengan peningkatan kompetensi guru dan mutu pendidikan yang diusung oleh IGI.

Disatu sisi, detik-detik menuju Surabaya dari 44 calon peserta dari Sulawesi Selatan, terdapat 9 (sembilan) orang diterbangkan gratis dan 5 (lima) diantaranya akan diterbangkan menggunakan Garuda Miles yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Republik Indonesia.Namun disayangkan ada calon peserta yang membatalkan keberangkatannya karena alasan tidak dipanggil langsung oleh Kementerian dan di sekolah sedang berlangsung mid semester.

Dua hal yang menjadi pertanyaan besar dibenak saya, setelah mendapat energizer seakan mendapatkan suatu “penampar daya” . Mungkinkah peserta TOT literasi tidak menjalankan tugas negara ? Dalam perjalanan ke Surabaya, sepintas kubertanya, apa yang masuk dalam kategori tugas negara, kemudian saya mencoba menyimak UUD 1945 sebagai landasan konstitusional. Saya bukan berlatar belakang PKn tetapi saya berpikir bahwa tugas negara diantaranya terdapat dalam UUD 1945, yakni “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”.Kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa, inilah yang membuat saya tenang menuju lokasi dan terpatri dalam jiwa bahwa ini juga tugas negara. Selanjutnya sejauh mana mampu menjalankannya akan terlihat saat pelaksanaan dan pasca kegiatan.

TOT Literasi yang dilaksanakan oleh IGI, menghadirkan falisitator dari guru-guru hebat, yang sementara baru ini yang ditemukan oleh pengurus pusat. Diantaranya ada Pak Mampuono dan Pak Karim keduanya adalah peraih medali emas Microsoft Innovative Teacher Se Asia Pasifik namun dalam batch yang berbeda.Pak Slamet Riyanto penulis ratusan buku, pak Kholik, pak Elyas, pak Joko dan pak Sukari yang masing masing master dalam spesialisasinya masing-masing. Mereka memberikan ilmunya dalam memanfaatkan IT dalam mengembangkan media, sumber dan perangkat pembelajaran.

Mengusung tema Literasi produktif berbasis IT, IGI menghadirkan Samsung Indonesia untuk mengeksplorasi penggunaan tablet A 8 dalam membantu proses pembalajaran.

Sebagai penyemangat dalam menjalankan roda organisasi dan sebagai trainer, kemudian tampil motivator Bapak Satria Dharma, Ahmad Rizali dan Muhammad Ikhsan. Intinya Guru adalah penggerak pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bagsa.Oleh pak Ikhsan disingkap bahwa guru terbagi dalam 4 kategori, (1) guru pintar dan mau berbagi, (2) guru pintar tapi tidak mau berbagi, (3) Guru tidak pintar tapi mau belajar, dan (4) Guru Tidak pintar dan tidak mau belajar. Sehingga saat ini dapat diasumsikan bahwa angota IGI khususnya peserta TOT literasi adalah mereka yang berada dalam kategori guru pintar dan mau berbagi serta Guru tidak pintar tapi mau belajar, karena mereka yang berada dalam kategori guru pintar tapi tidak mau berbagi dan guru tidak pintar dan tidak mau belajar tidak sejalan dengan motto IGI “sharing and growing together”, namun tetap kita akan rangkul untuk diajak demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Fantastic …. ”, TOT ini memang fantastis … dari mengeksplorasi sebuah tablet untuk pembelajaran, mengelaborasi aplikasi untuk media, sumber dan perangkat pembelajaran sampai bagaimana menghadapi penghalang perjuangan peningkatan kompotensi guru dan mutu pendidikan. Cerita serunya belajar, enjoy penggunaan tablet sampai karena semangatnya belajar sampai tengah malam merupakan cerita tersendiri setiap peserta TOT literasi produktif berbasis IT.

Ditengah perjalanan pulang ke tempat peraduan, terpikir olehku sesuatu yang mungkin jawaban atas “mungkinkah TOT ini bukan tugas negara ?” Sebanyak 150 orang trainer yang berkumpul di Surabaya ini merupakan tugas negara yang dilakukan oleh Ikatan Guru Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan , Samsung Indonesia dalam upaya menciptakan agen perubahan pendidikan di daerahnya masing masing.Sementara mereka para trainer akan menjalankan tugas negara menjadi fasilitator peningkatan kompetensi di daerahnya, di sekolahnya, di MGMP nya, di KKG nya dan teman sejawatnya. Dari 150 trainer akan menjalankan tugas negara dengan membagi ilmunya ke jutaan guru di Indonesia dimana guru-guru ini akan mencerdaskan anak bangsa yang berjumlah 58 juta orang tersebar di seluruh Indoensia .
Wow fantastis.Afialisi mencerdaskan anak bangsa sebagai wujud tugas negara yang sangat mengagumkan bermula dari IGI – Kemdikbud – Samsung ke 150 trainer ke puluhan juta guru dan anak bangsa Indonesia.
Makassar, 11 Oktober 2016
Pasca TOT Literasi Produktif
H. Anshar Syukur
Sekretaris IGI Sul Sel
Peserta TOT Kanal 1

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here