IGI WONOGIRI YANG ISTIMEWA: SEBUAH CATATAN PELAKSANAAN SAGUSAKU

0
136

Oleh: Mampuono
#menemubaling

Beberapa waktu yang lalu saya dihubungi oleh Mas Eko Siswanto, sekretaris Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Wonogiri. Mereka bermaksud untuk menyelenggarakan program Sagusaku atau Satu Guru Satu Buku secara mandiri di Kabupaten mereka. Mereka ingin mengundang saya untuk menjadi salah satu pembicara, tetapi mereka kebingungan dengan dana. Maka saya katakan bahwa kalau memang waktunya tepat dan saya tidak sedang berhalangan, jangan segan-segan untuk mengundang saya. Saya berharap mereka juga tidak perlu terlalu ribut memikirkan biaya. Toh saya sendiri ada kendaraan yang bisa membawa saya ke mana-mana.

Akhirnya, sesuai kesepakatan, mereka mengundang saya untuk bisa memberikan motivasi kepada para guru yang menjadi peserta kegiatan tersebut pada sesi paling akhir di hari yang juga paling akhir. Saya hanya diberi waktu untuk berbicara dari pukul 13.30 sampai 15.00 di hari Minggu itu. Walaupun begitu, dalam realitanya ternyata peserta tetap dengan tekun mengikuti motivasi yang saya berikan sampai pukul 16.00 sore. Isi motivasi tersebut berkisar tentang integrasi pembelajaran abad 21 di dalam implementasi Kurikulum 2013 dan bagaimana membuat kelas dalam suasana HOTS (Higher Order Thinking Skills).

Maka jadilah, pada hari Minggu, 16 Juli 2017, saya berangkat ke Wonogiri dengan menumpang kendaraan umum karena untuk mengendarai kendaraan sendiri rasanya saya tidak sanggup. Perjalanan ke berbagai tempat di penjuru tanah air dalam dua minggu kemarin membuat saya merasa cukup penat. Sesekali saya ingin merasakan nikmatnya duduk di dalam bis dan melakukan perjalanan sambil santai dan sesekali terkantuk-kantuk.

Kegiatan Sagusaku di Wonogiri ini boleh dibilang sukses besar. Ini merupakan kegiatan penulisan buku IGI dengan peserta paling banyak dan paling tertib di seluruh Indonesia. Jika di Semarang, IGI Jawa Tengah sebelumnya pernah menyelenggarakan kegiatan yang sama dengan peserta kurang lebih hanya 30 orang, demikian juga di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia, peserta Sagusaku paling banyak kurang dari 80 orang, maka di Wonogiri ini jumlah peserta membludak sampai 140 orang. Itupun panitia sudah menolak banyak sekali peserta yang bersedia membayar lebih yang mau mendaftar dan datang.

Jika kegiatan Sagusaku di daerah yang lain dilaksanakan dalam waktu 2 hari, kegiatan Sasusaku di Wonogiri ini berlangsung selama 3 hari. Jika kegiatan Sagusaku di daerah lain setelah pelaksanaan diteruskan dengan kegiatan pelatihan dan pembimbingan secara online, kegiatan di Wonogiri ini selain dilakukan pembimbingan secara online, para trainer dari IGI setempat akan mendatangi kecamatan-kecamatan untuk menemui para peserta yang masih mengalami kesulitan dan melakukan pembimbingan secara offline.

Tanpa mengesampingkan yang lain, bagi saya IGI Wonogiri adalah istimewa di hati. Tampaknya tempat yang paling jauh dan paling ujung sebelah tenggara dari ibukota provinsi Jawa Tengah tidak menjadikan para pengurus IGI Wonogiri semangatnya menjadi patah . Di bawah kepemimpinan Mas Andi Harly yang di kawal dengan ketat oleh para punggawanya, seperti mas Eko, mas Joko, Mbak Ike, Mbak Zulaiha, dan kawan-kawan lainnya, IGI Wonogiri meluncur deras bagaikan anak panah. Ia membidik sasaran tepat di jantungnya. Dalam senyap mereka terus bergerak. Tidak terasa mereka menyumbang jumlah anggota paling banyak di Jawa Tengah. Tercatat kas mereka dari anggota yang masuk mencapai 23 juta rupiah lebih. Dan mereka serius memperlakukan anggota IGI yang masuk sebagai para guru istimewa. Artinya para guru yang menjadi anggota IGI Wonogiri haruslah memiliki kompetensi lebih dari mereka yang berada diluaran sana. Oleh karenanya, para pengurus ini terus aktif melakukan mobilisasi diri secara cepat dari satu kecamatan ke kecamatan lain untuk melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat peningkatan kompetensi. Di antaranya adalah pelatihan Sagusablog ( satu guru satu blog), pelatihan multimedia pembelajaran interaktif, baik bekerjasama dengan SEAMOLEC-SEAMEO maupun Pustekkom, ada juga pelatihan Office 365 bekerjasama dengan Microsoft, pelatihan pembelajaran online dengan MSC, dan lain sebagainya.

Saya melihat betapa pengurus IGI wonogiri adalah para tokoh pergerakan dengan jiwa perjuangan yang istimewa. Dalam mempersiapkan kegiatan Sagusaku tersebut, tidak tanggung-tanggung, mereka sudah bekerja demikian keras selama berpuluh hari sebelum pelaksanaan kegiatan di hari H. Mereka gigih melakukan sosialisasi dan rekrutmen peserta. Dengan semangat 45 dan kesadaran untuk berbagi dan tumbuh bersama, mereka menyebarkan informasi tentang kegiatan tersebut kepada komunitas-komunitas guru tiada henti-hentinya.

Tampaknya yang banyak tertarik dan bergabung dalam kegiatan Sagusaku itu justru para guru TK PAUD dan guru SD. Sampai akhirnya, pada saat pelaksanaan kegiatan yang oleh dinas pendidikan setempat diminta untuk dilakukan selama tiga hari tersebut, aula rumah makan yang bisa menampung 200 orang itu berisi 140 “daging segar” yang siap diolah menjadi para penulis buku yang handal.

Teruslah menjadi besar dan kepakkan sayap kokohmu untuk terbang lebih tinggi dan membawa kejayaan ibu pertiwi wahai IGI Wonogiri.

Salam pergerakan pendidikan!

MAMPUONO
Sekjen IGI

Sampangan, 18 juli 2017 19.30 WIB
Menulislah lima menit setiap hari dengan metode Menemu Baling (menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga).  www.igi.or.id/download

Comments

comments