IGI JABAR DORONG PERCEPATAN KUALITAS PENDIDIKAN MELALUI FGD PENGUATAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN DAN INTEGRASI STEM

0
136

STEM secara harfiah merupakan akronim dari Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Istilah ini digunakan sebagai slogan reformasi pendidikan, yang bermula di Amerika Serikat di abad 21 demi menghasilkan SDM (STEM Workforce) berkualitas bagi peningkatan daya saing bangsa, yang selanjutnya diadaptasi untuk diterapkan di bidang pendidikan Indonesia.

Bila disarikan, secara garis besar bahwa STEM yang meliputi Science/Sains adalah kajian tentang fenomena alam yang melibatkan observasi dan pengukuran. Technology/Teknologi adalah inovasi untuk memodifikasi alam agar memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Engineering/Enjinering adalah pengetahuan dan keterampilan untuk mendesain dan mengonstruksi mesin, peralatan, sistem, material, dan proses yang bermanfaat bagi manusia secara ekonomis dan ramah lingkungan. Sedangkan Mathematics/Matematika adalah ilmu tentang pola-pola dan hubungna-hubungan, penyediaan bahasa bagi teknologi, sains, dan enjinering.

Latar belakang pelaksanaan pendidikan model STEM mengacu pada landasan yuridis (UU Sisdiknas, Program Nawacita RPJM yang berisi tentang meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, melakukan revolusi karakter bangsa, meningkatkan produktivitas rakyat, dan daya saing di pasar internasional dan memperteguh kebhinekaan serta memperkuat restorasi sosial .Ini seiring dengan arah dan kebijakan pendidikan yang mengemban visi mewujudkan insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong melalui penguatan peran siswa, guru, tenaga pendidikan, orang tua, fdan aparatur institusi spendidikan, pemberdayaan pelaku budaya dalam melestarikan kebudayaan, peningkatan akses pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah,pendidikan masyarakat dan keluarga, serta pendidikan anak berkebutuhan khusus, peningkatan mutu dan relevansi pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter, peningkatan jati diri bangsa melalui pelestarian dan diplomasi kebuidayaan, serta pemakaian bahasa sebagai pengantar pendidikan dan peningkatan sistem tata kelola yang transparan dan akuntabel dengan melibatkan publik.

Mengapa STEM sebagai revolusi dalam kegiatan belajar mengajar dipandang penting dalam percepatan peningkatan kualitas pendidikan ? Untuk menganalis hal tersebut, IGI Jabar menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk Penguatan Perencanaan Pembelajaran dan Integrasi STEM. Kegiatan yang dimoderatori oleh Dian Rahmawati, S.Pd., M.Pd. diselenggarakan di aula SMPN 9 Bandung ini menghadirkan narasumber Cucu Sukmana (Ketua IGI Jawa Barat), Dr. Asep Hilman, M.Pd., Drs. Bambang Ariyanto, M.Pd. (Kepala Seksi Kuirikulum SMP Disdik Kota Bandung), dan Rahmat Hidayat, M.Pd. (Wakil Ketua Umum IGI Jawa Barat dan Narasumber Nasional Kurikulum 2013). Sebanyak 57 peserta mengikuti kegiatan ini yang terdiri dari para Ketua IGI Kab/Kota se-Jabar, anggota IGI, guru, dan pemerhati pendidikan.

Ketua IGI Jabar, Cucu Sukmana menyampaikan bahwa IGI Jabar berperan dalam mendorong percepatan kualitas pendidikan melalui revolusi kegiatan belajar mengajar dengan model STEM. Dengan STEM diharapkan akan mampu melakukan transformasi proses pendidikan, mampu meninhkatkan kemahiran saintifik, mengembangkan SDM dengan lebih cepat, yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan kesejahteraan . Selain itu, STEM merupakan kunci dalam peningkatan pembangunan dan inovasi untuk menghadapi kemajuan dan tantangan teknologi.

Menurut Asep Hilman, STEM melakukan pendekatan meliputi Sains, Teknologi, Enjiniring, Matematika yang terintegrasi dengan proses pendidikan yang berfokus pada pemecahan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam kehidupan profesional. Hal ini diperkuat dengan paparan dari Bambang Ariyanto yang memunculkan STEM Education akan menunjukkan kepada peserta didik bagaimana konsep, prinsip sains, teknologi, enjiniring, dan matematika ini diaplikasikan secara terintegrasi untuk mengembangkan produk, proses, da sistem yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sementara itu, sifat dari Pendidikan STEM, seperti yang diuraikan oleh Rahmat Hidayat mengintegrasikan sains, teknologi, teknik, dan matematika sebagai subjek baru antardisiplin di sewkolah-sekolah, menawarkan kesempatan bagi siswa untuk memahami dunia daripada hanya sekadar mempelajari fenomena secara terpotong-potong, dan berusaha menciptakan peluang pembelajaran abad 21.

Melalui forum diskusi yang hangat, menghasilkan beberapa rekomendasi bagi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat khususnya bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat di antaranya: 1. Memasukkan segala aspek pembelajaran dalam STEM , tidak hanya sains, teknologi, enjiniring, dan matematika, tetapi juga aspek sosial/ sosiologi kemasyarakatan; 2. Pengejawantahan STEM melalui unsur kearifan lokal, seperti budaya Sunda untuk memperkuat pendidikan karakter melalui permaian anak yang lazimnya dikenal di tatar Sunda; 3. Mengelaborasi STEM ke dalam Rencana Program Pembelajaran/RPP yang memiliki keterkaitan secara langsung dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah sebagai landasan penguatan pembelajaran; dan 4. Pendekatan STEM harus dimulai sejak pendidikan dini (PAUD), hal ini dengan pertimbangan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini merupakan pintu penggerak dan pembuka belajar bagi peserta didik.

IGI Jabar berharap, setelah melakukan proses pembelajaran dengan pendekatan STEM, peserta didik memahami literasi STEM, memiliki kompetensi abad 21, memiliki kesiapan bersaing di dunia kerja, memiliki minat dan keterlibatan dalam proses belajar sepanjang hayat, dan mampu membuat jejaring koneksi untuk memenangkan tantangan zaman. Peserta didik yang mampu melek STEM diharapkan memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mengidentifikasi pertanyaan dan masalah dalam kehidupannya, menjelaskan fenomena alam, mendesain, serta menarik kesimpilan berdasarkan bukti. Sementara bagi pendidik, diharapkan agar pendekatan STEM ini mampu meningkatkan pedagogical content knowledge. Muaranya adalah melalui pendekatan STEM akan membentuk lingkungan material, intelektual, kultural, dan keterlibatan dalam kajian isu-isu sebagai warga negara yang konstruktif, peduli /empati, serta reflektif.(Lili Priyani)

Comments

comments