GAIRAH BERLITERASI

0
206

NURAINI, S.Pd

Bendahara IGI Kabupaten Aceh Timur

Tiap hari saya hadir ke sekolah lebih awal. Ya, hanya semangat baru yang ingin kuterapkan. Gerakan literasi sekolah atau yang sering disebut GLS. Semangat itu kudapatkan dari bapak literasi nasional, Satria Dharma saat Rakorwil Aceh. Walau bukan kali pertama saya berjumpa dengan beliau, namun kali ini seolah beliau memberikan spirit baru, seperti baterai HP yang baru di charge.

Tahun 2016, bersama tim IGI Aceh Timur, kami berkunjung ke kota literasi Surabaya untuk berjumpa Pak Satria Dharma, dilanjutkan ke Jakarta untuk berjumpa dengan pak Anies Baswedan, pada saat itu beliau masih menjabat sebagai Mendikbud untuk mendengar langsung program Kementerian Pendidikan dalam hal literasi. Spirit dan pesan pak Satria masih sama, dulu dan sekarang, beliau menjelaskan tentang bagimana cara menumbuhkan minat baca bagi siswa. Arahannya begitu memikat hatiku, wow, aku ingin menerapkannya.

Pagi ini, saya ingin melihat apa benar siswa saya memiliki minat baca yang tinggi atau tidak. Apakah kami guru yang salah yang terus mengeluh, sementara siswa tidak mau, dan malas membaca buku. Saya membawa beberapa buku bacaan. Kebetulan sekolah kami mendapat bantuan buku dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Timur, sebanyak 25 kardus buku. Kemudian buku tersebut saya susun dengan rapi di sudut ruang kelas. Saya melihat mereka, sudah tak sabar ingin membacanya. lalu saya arahkan siswa untuk memilih buku yang diinginkannya. Kelihatan dari raut wajahnya, begitu antusias siswa membacanya. Ada yang berlari berebutan memlilih buku yang disukainya. Tanpa disadarinya, bermacam tingkah lakunya saya videokan. Mereka asyik membaca. Tak terasa waktu terus berlalu, 15 menit sudah mereka membaca.

Hal ini sesuai dengan Permendikbud sebelum pelajaran dimulai siswa diwajibkan membaca buku. Akhirnya saya meminta siswa untuk menyimpan bukunya dan bisa mereka lanjutkan lagi saat jam istirahat. Saya izinkan mereka untuk membaca buku di luar ruang kelas, boleh dibawah pohon atau nongkrong di depan kelas sambil menikmati snack. Anak-anak senang sekali. Betul apa kata pak Aiyub salah satu tim literasi Aceh, bahwa apa yg kita hadirkan di depan siswa. itu yang akan dipegangnya. Ternyata benar, minat siswa untuk membaca sangat tinggi. Tinggal bagaimana kita guru mendorong siswa untuk terus membaca. Kita cukup menyediakan sarana untuk siswa . Jangan jadikan buku sebagai bahan pajangan koleksi dan terus kita simpan di perpustakaan. Sedangkan anak-anak tidak didorong untuk hadir di perpustakaan. Guru cerdas adalah guru yang mampu dan siap menjadi pelopor perubahan. Guru datang menawarkan solusi. Keberhasilan atau kegagalan yang diterima siswa adalah tanggung jawab kita guru.

Comments

comments