ERA DIGITAL, DILARANG ATAU DIMANFAATKAN

0
1595

Rabu, 31 Agustus 2016 menjadi kehormatan tersendiri, saya diminta menjadi Keynote Speaker dalam SEMINAR NASIONAL “Mempersiapkan Sekolah Memasuki Era Pembelajaran Digital” yang dihelat Grasindo Kompas, Pesona Edu dan Grasindo di Bentara Budaya Jakarta, Kompas Gramedia, Jakarta.

Berbicara dihadapan Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah Se-DKI Jakarta, saya memaparkan betapa teknologi tak mungkin dilawan, semakin dilarang semakin berbahaya. Saya bercerita bahwa ketika saya memberikan materi di Barito Timur dihadapan 650 guru, Kepala Dinas Pendidikan dan Bupati Barito Timur, Bupati yang dikenal melarang membawa HP, Smart Phone dan Tablet ke Sekolah setelah saya peresentase justru berbalik 180 derajat dan meminta semua guru di Barito Timur bergabung dengan IGI, belajar teknologi dan memanfaatkannya dalam pembelajaran.

era digital-literasi produktif-igiSaya menyampaikan bahwa saat ini, Ikatan Guru Indonesia sedang mempersiapkan secara serius Guru Indonesia memasuki Era Digital sepenuh hati. IGI sedang mempersiapkan 150 guru pelatih yang akan diterjunkan ke seluruh Indonesia, kami akan mempersiapkan guru-guru pelatih dengan branding individual masing-masing. Guru-guru pelatih ini diharapkan mampu memperkaya “cara menyenangkan” memberikan pengajaran berbasis tablet sebagai bagian dari program SAGUSATAB (satu guru satu tablet) dalam mendukung GERAKAN NASIONAL SATU JUTA GURU TERLATIH LITERASI PRODUKTIF.

IGI akan membuat kabupaten-kabupaten yang menolak IGI meningkatkan kompetensi guru menjadi kabupaten dengan guru-guru tertinggal. IGI akan mengirimkan pelatih-pelatih ini ke 30-50 kabupaten/kota setiap minggunya untuk memberikan diklat “Pembelajaran Menarik Berbasis Tablet”. Guru-guru yang tak mau terlibat di IGI dalam meningkatkan kompetensinya akan semakin jauh tertinggal dan IGI akan memastikan setiap guru di Indonesia yang mau berubah minimal memilik 10 jenis kemampuan “pembelajaran menarik berbasis tablet” Jenis kemampuan itu diantaranya komik pembelajaran, game pembelajaran, satu guru satu inovasi (SAGUSANOV), satu guru satu aplikasi berbasis android (sagisandro), pembuatan buku digital, pembuatan video pembelajaran, pembuatan karya tulis ilmiah-buku-cerpen-novel berbasis tablet yang memungkinkan guru membuat karya tanpa kertas, tanpa pulpen/pensil cukup dengan berbicara didepan tabletnya maka jadilah tulisannya.

Teknologi semakin berkembang, bahkan dengan wolfram alfa, siswa bisa memastikan gurunya salah atau benar dalam memberikan jawaban dan salah atau benar dalam menentukan langkah-langkah penyelesaian soal. Jika siswanya bisa tapi gurunya tidak bisa apalagi memang tidak tahu, maka disanalah guru akan dilecehkan, guru akan dipandang sebeleh mata, disanalah guru tak berharga di mata siswa. Untuk itu, sebelum semua itu terjadi, guru harus belajar, guru harus paham teknologi, guru harus bisa memanfaatkan teknologi untuk belajar dan memberikan pembelajaran. Siswa dilarang di sekolah menggunakan teknologi tapi siapa yang bisa melarang dan memantau mereka diluar sana?
Sehingga teknologi ini bukan untuk dilarang tapi harus dimanfaatkan dan diarahkan kearah yang positif.

Guru memang tak mungkin digantikan oleh teknologi tapi guru-guru yang tak paham teknologi akan digusur oleh guru-guru yang paham dan menggunakan teknologi.

Dalam sesi Talkshow, Banu Afwan Pribadi dari Samsung, Ira dari Pesona Edu memaparkan teknologi yang baik buat pembelajaran, lalu Didiet dari SD Yos Sudarso Batam memaparkan bagaimana mereke menggunakan teknologi dalam pembelajaran di sekolahnya, talkshow dipandu oleh Harsono dari Grasindo.

1 Sepetember 2016

Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Pengurus Pusat
Ikatan Guru Indonesia

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here