DARI BUMIJAWA: GENERASI EMAS SEINDAH MAWAR MEREKAH, MUNGKINKAH?

0
29

Oleh: Mampuono
#menemubaling

Perjalanan sejak subuh tadi dari Semarang hingga ke lembah yang indah ini membutuhkan waktu 4 jam setengah. Aku hanya sempat beristirahat sebentar untuk mencari sarapan di Bumijawa. Sebuah kota kecamatan yang berada di ujung baratdaya kabupaten Tegal. Seperti seorang tamu agung, kepala sekolah, kepala UPTD, para pengawas, dan para guru dengan khidmat menyambutku. Secepatnya aku selesaikan tugasku di SD kedua di Desa Cempaka itu. Melakukan Monitoring dan Evaluasi Bantah ( bantuan pemerintah) Kurikulum 2013.

Kebetulan, pada saat yang sama sedang ada pelatihan penilaian Kurikulum 2013. Pesertanya adalah guru-guru di kecamatan itu. Rupanya kedatanganku dianggap tidak boleh disia-siakan. Seperti biasa, sebagaimana di tempat-tempat yang lain, mereka meminta waktuku untuk berbagi dan memotivasi.

Kuajak guru-guru untuk lebih bersemangat lagi, terus belajar hal-hal yang baru agar tercipta generasi emas negeri ini. Generasi yang jika diibaratkan sebagai bunga mawar adalah bunga mawar yang sedang sempurna merah merekah. Yang keindahannya akan mengagumkan siapa saja yang melihatnya. Yang harumnya membuat siapa saja yang menghirup aromanya terpana selamanya. Tetapi tajam durinya akan menghunjam siapa saja yang mencoba mengganggunya.

Bagaimana kita akan bisa menciptakan generasi emas? Untuk itu setiap guru harus memiliki bekal untuk menguasai 4 sehat 5 sempurna dalam implementasi Kurikulum 2013. Pendekatan saintifik, literasi, pembelajaran abad 21, dan pengembangan pendidikan karakter yang disempurnakan dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Guru harus menjadi model. Maka gurulah yang harus mempraktekkan 4 sehat 5 sempurna tersebut, sebelum menginginkan muridnya bisa mempraktekkannya

Tidak lupa Menemu Baling pun harus mereka kuasai. Aplikasi yang diciptakan oleh Ikatan Guru Indonesia tersebut akan sangat membantu mereka dalam berliterasi. Menemu baling adalah menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga. Aneh tapi nyata, tetapi mereka setuju untuk mencarinya di Google Playstore dan mengimplementasikannya.

Sungguh aku senantiasa merasa khawatir. Waktuku sangat terbatas. Ketika memberikan mereka motivasi, berkali-kali aku harus menengok ke arah alroji. Meskipun mereka berharap, bahkan setengah merengek, meminta tambahan waktu lagi, namun sejujurnya aku katakan bahwa keberadaanku di situ akan segera berakhir sesaat lagi. Mungkin akan ada kesempatan berjumpa lagi, tetapi bukan hari ini, barangkali esok hari.

Tepat pukul 10.30 secepatnya aku mengajak Pak Sumbadani, pengawas baik hati yang tadi pagi menjemputku, untuk beranjak pergi. Aku khawatir, waktu satu setengah jam bisa saja tidak cukup untuk sampai kembali ke stasiun Slawi. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika ketinggalan kereta api dan menunggu waktu sampai habis maghrib nanti. aku yakin akan bisa memanfaatkannya dengan menemu baling. Tetapi, ah betapa menjemukannya.

Hujan mulai turun ketika kami menaiki bukit, meninggalkan lembah desa Cempaka itu. Pegunungan di sisi kiri kanan bukit dan lembah berlatar depan petak terasering sawah yang hijau kekuningan. Pemandangannya memberikan nuansa tersendiri. Halimun yang mulai turun dan hawa dingin yang mulai menyelimuti menambah harunya suasana hati. Jauh di lubuk hati aku bersyukur telah dilahirkan di negeri ini. Negeri yang sempurna yang digambarkan sebagai surga di dalam kitab suci.

Dingin masih menyerangku ketika aku tiba kembali di Bumijawa. Kumasukkan jari-jemari ke dalam jasku. Rinai yang terus tercurah dari langit seakan tiada pernah berhenti, menambah himpitan gundah di hati. Sesaat dalam perjalanan Pak Sumbadani berterus terang bahwa ternyata dia tidak kuasa jika harus mengantarku lagi. Beliau merasa sudah tua sementara kecepatan kendaraan yang dia kemudikan harus berkejaran dengan waktu. Sebagai solusinya, dia mengandalkan putranya untuk mengantarkan sahabat yang baru saja dikenalnya. Aku hanya mengangguk menyetujui usulnya.

Segera dihentikannya mobil Toyota itu. Di depan Sebuah rumah yang cukup megah dia turun. Rumah bercat putih di pinggir jalan di kota kecamatan Bumijawa itu bukanlah rumah siapa siapa. Penghuninya Adalah putra Pak Sumbadani yang nomor satu. Maka begitu melihat pintu rumah terbuka dia langsung memasukinya.

Sesaat aku menunggu. Sambil melihat suasana, kuperhatikan sekeliling. Rumah megah itu berdiri menghadap lembah. Di sekelilingnya terdapat pohon pohon tua milik perhutani. Ada pinus cengkeh dan tanaman keras lainnya. Karena letaknya yang berada di ketinggian, kabut dan hawa dingin setiap saat menyelimuti rumah itu. Tiba-tiba pandanganku terpaku. Kuperhatikan ada sesuatu yang sangat menarik di beranda rumah itu. Sambil menanti keluarnya yang empunya rumah bersama ayahnya, aku pun turun dari mobil itu. Aku mendekat ingin tahu.

Ah, ini sungguh sangat luar biasa. pemandangan yang jarang sekali ada. Pertama kali melihatnya, pandanganku terpesona, hatiku tertawan, jiwaku terpana, sukmaku bergelora. Serasa seribu ulat bulu merambat di sekujur tubuhku. Merinding aku menyaksikan keajaiban itu. Sungguh Maha Suci Allah, Tuhan Yang Maha Besar.

Betapa indahnya! Sungguh menawan hati. Tiga jumlahnya, semuanya merah darah merekah, menawarkan sumringah, meski rinai dan halimun tipis menyelimuti. Hmm, bukankah ini seperti yang aku ceritakan ketika menggambarkan generasi emas negeri ini tadi. Betapa luar biasanya.

Perlahan-lahan aku dekati kuntum mawar itu. Kupandangi indahnya. Aku hirup aroma wanginya. Kurasakan semangat kemudaan dan kecemerlangan dalam merahnya. Kuresapi kejelitaan dalam rekahan setiap kelopaknya. Aku kagumi titik-titik air rinai yang kini telah berhenti, sebagai mutiara yang menyelimuti bunga, daun, dan tiga cabangnya yang berduri. Tiada puas puasnya aku mengagumi ciptaan Tuhan, Sang Maha Indah, yang terpampang di depan mata ini.

Tidak terasa diri ini membayangkan betapa suatu ketika generasi emas yang bagaikan mawar merah merekah dari Bumijawa ini akan kita miliki. Generasi yang akan mempesonakan siapapun warga dunia karena kecemerlangannya. Generasi yang pintar, berbudi, bermartabat, dan sejahtera bahkan memimpin dunia. Generasi yang dihormati yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan generasi dari negara manapun di dunia ini. Generasi yang memiliki tingkat literasi bukan 10 besar dari belakang tetapi 10 besar dari depan.

Kita tentu menginginkan generasi seperti itu. Generasi yang tumbuh menjadi hebat karena peran besar dari kehebatan para gurunya. Semuanya bukanlah isapan jempol asalkan semua komponen bangsa ini rela berkorban. Syaratnya sederhana, setiap anak bangsa, ini tidak peduli guru atau profesi lainnya, harus merubah mindsetnya. Kembali kepada semangat mementingkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Dari semangat meminta minta atau tangan di bawah menjadi semangat memberi atau tangan di atas. Dari meminta dilayani menjadi pelayan setia negeri ini. Dari meminta diajari menjadi pembelajar mandiri yang justru mengajari, lalu berbagi untuk tumbuh bersama.

Terakhir mari kita senantiasa menanamkan quotes yang dipopulerkan oleh John F. Kennedy ini, “Jangan tanya apa yang kau dapat dari negerimu, tetapi tanyakan apa yang bisa kau berikan untuk negerimu.” Selamat merubah mindset dan semoga impian besar untuk menghasilkan generasi emas negeri ini suatu ketika benar-benar terjadi. Bahkan tidak lama lagi!

 

09112017 – 15.10 WIB. Stasiun Poncol Semarang. Ditulis dengan metode menemu baling, menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga.

Comments

comments