DO DAN DON’T DALAM BERORGANISASI, DIMANA POSISI KITA?

0
63

#menemubaling

Saya berterima kasih kepada mas Tikno yang telah membagikan video yang sangat inspiratif ini ke grup Telegram kita (PP-KSB se-Indonesia). Video tersebut beralamat di https://youtu.be/XHFYyDP-iic. Agar kebermanfaatannya lebih banya, saya mencoba untuk menguraikan isi video yang bagi saya, dan saya yakin bagi teman-teman organisatoris  yang lain, penuh dengan pembelajaran ini.

Video tersebut menerangkan tentang tipe-tipe bekerja di dalam sebuah perusahaan Tetapi saya lebih suka memotretnya dari sisi organisasi. Ada dua hal yang dipaparkan di dalam tayangan video animasi tersebut. Yang pertama adalah hal yang sebaiknya dilakukan (Do) dan yang kedua adalah hal yang sebaiknya dihindari (Don’t) sebagai organisatoris.

Berikut ini adalah hal-hal yang sebaiknya dilakukan (Do). Jika ingin organisasi yang kita ikuti maju dan menjadi semakin besar maka berusahalah untuk menjadi organisatoris yang tipenya tercantum di bawah ini:

1. Organisatoris pekerja. Ciri khasnya adalah dia mengerti kemana untuk pergi dan tujuannya apa. Dia mengambil tanggung jawab penuh atas bagian pekerjaan yang diperolehnya dan berusaha menyelesaikan dengan sebaik-baiknya. Jika minimal sebuah organisasi memiliki mayoritas organisatoris tipe ini maka program-program yang sudah direncanakan akan berjalan dengan efektif dan target-target yang sudah disusun di masa depan akan tercapai dengan lebih efisien.

2. Organisatoris ekerja sangat efektif (PSE). Ciri khasnya, dia memiliki kemauan besar untuk bekerja, belajar, dan meningkatkan kompetensi. Dengan bimbingan dan pelatihan yang benar dia akan menjadi performer hebat di masa depan bagi organisasinya. Semakin banyak sebuah organisasi memiliki tipe organisatoris pekerja sangat efektif ini maka akan semakin powerful  dalam menjalankan program-programnya dan mencapai target-target besar yang sudah ditetapkannya sebelumnya.

Sedangkan berikut ini adalah hal-hal yang sebaiknya dihindari (Don’t). Jika ingin organisasi yang kita ikuti maju dan menjadi semakin besar maka hindarilah menjadi organisatoris yang tipenya tercantum di bawah ini:

1. Organisatoris KE (kurang efektif). Tipe organisatoris ini ciri khasnya adalah pada saat yang sama dia mendukung jalannya organisasi, tetapi pada saat itu pula dia juga membebaninya dengan berbagai kepentingan untuk dirinya sendiri. Seolah-olah dia membuat organisasi menjadi besar, tetapi sebenarnya lebih karena dia ingin membesarkan dirinya sendiri.

2. Organisatoris PTS (potensi sumber masalah). Dia naik turun dan bergantian antara mendukung dan menghancurkan organisasi. Pengaruhnya menjadikan pekerjaan menjadi lebih sulit dan unpredictable bagi orang-orang lain yang bekerja di dalam memajukan organisasi tersebut.

3. Organisatoris PS (pribadi supresif). Tipe seperti ini cenderung menghalangi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh organisasi dengan cara sembunyi-sembunyi. Dia secara aktif berusaha menggagalkan seluruh pekerjaan yang sudah direncanakan masak-masak agar urung diimplementasikan. Untuk membuat kamuflase terhadap operasi yang dijalankan, dia sering menggunakan kedok topeng sosial untuk menyembunyikan sabotase-sabotase tidak terpujinya tersebut. Maka jika tipe ini tidak terdeteksi sejak dini akan sangat membahayakan bagi jalannya organisasi.

Sebagai para organisatoris IGI, maka dari lima tipe di atas, kita bisa mencoba untuk merefleksi diri, sesungguhnya kita berada di tipe yang mana. Setelah itu marilah kita bersama-sama berusaha menempatkan posisi dalam tipe Do nomor dua, yaitu sebagai organisatoris pekerja sangat efektif (PSE). Dan semua itu  dilakukan dengan sedapat mungkin menghindari pertengkaran, apalagi perkelahian yan g tidak perlu. Dengan begitu kita akan bisa bekerja keras, belajar, dan terus meningkatkan kompetensi dalam rangka memajukan dan membesarkan organisasi. Dengan semangat Sharing and Growing Together kita harus terus saling berbagi dan tumbuh bersama-sama, menjadikan guru-guru IGI sebagai guru-guru hebat untuk menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang hebat.

Jika sudah sepakat bekerja di dalam IGI, tentu kita harus menjadikan kepentingan tertinggi adalah kepentingan organisasi, tentu setelah kepentingan bangsa dan negara. Bukan justeru kita mengedepankan kepentingan- kepentingan di luar IGI, mengalahkan kepentingan untuk memajukan dan membesarkan IGI.

 

Salam pergerakan pendidikan!

Mampuono

Sekjen IGI

Comments

comments