Coretan Dinding

0
246

Sismanto HS

Masa kanak-kanak merupakan masa yang menyenangkan, masa yang membahagiakan, dan merupakan masa-masa “golden age”, masa di mana usia anak mudah belajar, mudah menerima pembelajaran, dan mudah untuk menirukan. Disamping itu pada usia ini, anak juga tertarik dengan hal-hal yang baru, melakukan aktivitas-aktivitas yang baru, dan juga melakukan kegiatan yang kadang-kadang tidak sesuai dengan keinginan orang tua.

Peran yang dibutuhkan anak dari orang tua adalah mengarahkan bagaimana anak-anak itu bisa melakukan proses pembelajarannya dengan baik. Orang tua tidak perlu memaksakan kehendaknya agar anak menuruti apa yang orang tua kehendaki. Orang tua cukup mengarahkan apa yang menjadi keinginan anak, agar anak tidak melenceng dari keinginan yang seharusnya orang tua inginkan.

Contoh sederhana anak-anak suka mencoret-coret dinding rumah, padahal dinding rumah yang diinginkan orang tua dalam kondisi bersih, rapi, dan tidak ada coretan atau goresan apapun. Namun demikian, karena anak juga suka dengan hal-hal yang baru, terkadang tidak mengetahui bahwa dinding itu harus bersih sesuai dengan keinginan orang tua.

Hari ini apa yang dilakukan anak saya yang berusia lima tahun merupakan contoh sederhana. Anak saya suka sekali mencorat-coret dinding yang ada di rumah, padahal bundanya sudah menyiapkan papan tulis yang besar seukuran playwood, namun anak saya tetap saja menuliskan di tembok. Asumsi sederhana saya, apa yang dilakukan anak saya merupakan keinginan terindah baginya, apa yang dilakukan itu membekas, bila dituliskan di papan tulis, tulisan itu akan mudah dihapus dan tidak dapat dilihat lagi oleh anak saya.

Saya paham apa yang dilakukan anak saya, meskipun sebagai orang tua sebenarnya saya tidak rela bila dinding rumah dicoret-coret. Bagaimana tidak rela, dinding rumah sudah saya pilihkan warna dan merek cat dengan harga yang lumayan mahal, belum lagi biaya tukangnya dan secara tiba-tiba di corat-coret oleh anak, sebuah perasaan yang dongkol dan kesel. Namun sekali lagi saya sadar bahwa usia anak saya memang masuk dalam “golden age”, sehingga anak selalu ingin melakukan sesuatu yang baru, lebih-lebih bila anak pernah tahu kejadian tersebut dan kemudian meniru nya.

Tinggal kita orang tuanya meyakinkan dan memberi pemahaman kepada anak, bahwa apa yang dilakukan anak itu kurang benar. Sebagai orang tua, kita tidak perlu berfikir warna dan merek, berapa harga cat dan berapa biaya tukang yang kita keluarkan. Bagi saya, yang terpenting adalah memberikan pembelajaran kepada anak sebagai goresan tinta emas, tulisan-tulisan anak yang tidak mudah dihapuskan, sebagai lukisan abadi dan tulisan yang tetap dikenang nya. Mudah-mudahan anak saya paham dengan pembelajaran yang dilakukannya “anak diibaratkan seperti kertas putih bersih dari goresan tinta, ajarkan dan tuliskan tinta kebaikan bagi anak “.

Sangatta, 7 Februari 2017

Comments

comments

BAGIKAN
Artikulli paraprakGuru dan Murid Juara
Artikulli tjetërIGI Gorontalo Akan Jaya Dalam Tantangan
Guru di Kalimantan Selatan, saat ini menjabat sebagai Wakil Sekjen Bidang Literasi dan Publikasi Karya Guru

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here