Berbagi Itu Indah, Saling Menolong Itu Memudahkan

0
76

Ketika mengumkan kebijakan Pelatihan IGI oleh Pelatih Nasional IGI yang dibiaya oleh Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia, ragam reaksipun muncul. Ada yang langsung kecewa dan pesimis karena dipikirnya semuanya akan diaturkan oleh PP IGI dan yang bersangkutan cukup terbang enak melatih di daerah yang dipilih lalu jika ada waktu berwisata di daerah tersebut. Ada pula yang cukup optimis, selama ini dia memang sudah punya jaringan, kawannya banyak dimana-mana, sekali kontak OK sajalah. Ada pula yang bingung, sangat ingin melatih pada salah satu daerah yanh dituju tapi bingung harus bikin apa, mulai dari mana dan kapan memulainya. Dan masih banyak lagi ragam reaksi ketika pengumuman itu baca oleh para pelatih.

Lalu muncul pertanyaan, mengapa PP IGI mengambil keputusan seperti itu??

Sejak lahir, apa yang dilakukan penggerak IGI memang tidak mudah, berbagai tantangan, hambatan dan masalah menjadi bumbu perjuangan. Jika penggerakan IGI berjalan mudah, mungkin saya sendiri tak akan pernah menjadi ketua umum IGI dan kawan-kawan pimpinan IGI sekarang juga mungkin tak akan berada pada posisi mereka. Posisi itu mungkin menjadi milik mereka-mereka yang senang menikmati jabatan karena begitu banyak kemudahan dan nikmat yang diperolehnya.

Masih ada lebih dari 300 kabupaten/kota di Indonesia yang belum menikmati keberadaan IGI. Mereka masih jauh tertinggal karena belum memiliki atmosfer peningkatan kompetensi guru seperti daerah-daerah lain yang anggota IGI dan Penggeraknya sudah banyak. Memang anggota IGI sudah tersebar pada hampir 478 kabupaten/kota tetapi pada lebih dari 300 kabupaten/kota dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia belum menikmati berbagai pelatihan peningkatan kompetensi guru oleh IGI. Tentu saja kita prihatin karena jika dibiarkan, daerah-daerah tersebut akan semakin tertinggal. Kita tidak ingin menyalahkan organisasi lain yang menghambat peningkatan kompetensi guru, kita pun tak ingin menyalahkan pejabat pemerintah daerah yang masih bersikukuh mempertahan diri dalam keterpurukan demi membela sesuatu, kita pun tidak ingin menyalahkan kawan-kawan guru yang belum terpanggil meningkatkan kompetensinya, yang kita inginkan adalah IGI hadir dan bermanfaat untuk peningkatan kompetensi guru di seluruh Indonesia.

Ketika bertemu dan berbincang dengan Mendikbud Muhadjir Effendi, beliau ingin MGMP, KKG, MKKS dan kelompok-kelompok mata pelajaran itu bergerak. Suatu ketika Indra Djati Sidi, Ketua Dewan Pembina IGI yang pertama menghubungi saya, beliau katanya baru saja berbincang dengan mendikbud dan mendikbud menitipkan agara IGI mendorong kerjasama dengan MGMP, KKG, MKKS agar kelompok-kelompok mata pelajaran ini hidup, Mendikbud bahkan akan menyiapkan anggaran bagi MGMP, KKG dan MKKS ini jika mereka menunjukkan keinginan besar untuk meningkatkan kompetensi guru. Lalu mengapa para pelatih IGI harus mengeluh, saatnya sekarang menghubungi kawan-kawan kita pada 320 kabupaten/kota yang menjadi sasaran prioritas pelatihan-pelatihan IGI. Dengan berbagi di daerah-

daerah tersebut, kawan-kawan pelatih IGI telah mendorong semakin luasnya daerah jangkauan pelatihan IGI sehingga cita-cita guru berkualitas dan merata dapat diwujudkan.

Hal lain yang menjadi peluang adalah keberadaan pelatih IGI yang berasal dari hampir seluruh provinsi di Indonesi, jalinan tenun kebangsaan yang mungkin tanpa sengaja kita ciptakan, mulailah komunikasi dengan mereka sehingga dapat menebus daerah prioritas tersebut, lakukan pertukaran dan yakinlah bahwa IGI akan menerbangkan kawan-kawan pelatih ke tempat-tempat baru yang tak pernah anda bayangkan sebelumnya.

Jadi tak ada yang sulit sesungguhnya jika kita ingin bergerak, bukankah IGI memang sudah lahir dari berbagai hal-hal sulit yang kita sudah jalani bersama?

Ditulis dalam Penerbangan Surabaya Ke Kupang untuk melantik dan memotivasi Pengurus IGI Wilayah Nusa Tenggara Timur

12 Maret 2018

Muhammad Ramli Rahim

Ketua Umum Pengurus Pusat

Ikatan Guru Indonesia

Comments

comments