AKU TIDAK INGIN MENJADI GURU

0
437

USWATUN NISWI

Kalimantan Barat

Aku tidak ingin menjadi guru. Sosok yang berdiri di depan kelas dengan papan, kapur atau spidolnya. Alasannya, mudah saja. Profesi itu sungguh tidak keren. Apalagi sekarang urusan administrasi yang harus dipenuhi oleh guru sungguh rumit. Kurikulum pun terus berganti. Membuat kepala para guru-guru sekarang semakin pusing.

Selain itu, entah kenapa, menenangkan siswa yang ribut sungguh sulit. Aku berharap mereka mendengarkan dengan seksama tanpa menyela. Aku harap mereka suka dengan penjelasanku dan mengajukan pertanyaan yang berbobot. Nyatanya, mewujudkan hal demikian tidaklah mudah.

Sementara, itu saja alasan yang kuketahui. Alasan yang membuatku tidak memilih profesi guru saat pasca kampus nanti. Ironinya, aku sudah terjebak ke dalam jurusan pendidikan biologi FKIP  Universitas Tanjungpura. Sebuah kampus yang diharapkan menghasilkan lulusan guru berkompeten. Bahkan, aku tidak yakin menjadi lulusan dengan kualifikasi demikian. Apa sebabnya? Alasannya pun mudah saja. Aku tidak suka biologi. Otomatis, tidak akan pernah kulabuhkan cinta pada ilmu yang satu itu.

Menjelang semester akhir, aku mulai memutuskan untuk bekerja serius. Bekerja mengelola bisnis kepenulisan. Berawal dari memasuki komunitas IT dan passion, sebuah komunitas yang memiliki perencanaan karir bagi tiap anggota sesuai minat-bakatnya. Mataku berbinar senang. Impianku berkorelasi dengan komunitas ini.

Aku mulai fokus di sana bahkan tugas akhirku sampai terbengkalai. Tapi, tidak masalah. Selalu ada resiko di balik keinginan, kan? Hatiku pun meyakininya. Pilihan ini sudah benar. Berusaha serius adalah kuncinya.

Tidak lama setelah itu, aku dihubungkan ke IGI (Ikatan Guru Indonesia) lewat program TOC (Training of Coach) yang diselenggarakan pada 20-21 Desember 2016 di Pontianak. Bagaimana bisa mengikuti agenda khusus guru dan calon guru itu sedangkan aku sangat alergi dengan hal-hal yang demikian? Alasannya, saat itu aku hanya ingin mengasah kemampuan menjadi seorang pelatih. Lagipula, cukup bergengsi jika bisa mendapatkan sertifikat dari sebuah lembaga yang memiliki legalitas dan konsen pada pengembangan kompetensi. Sungguh, aku manusia normal. Wajar saja ada udang di balik batu.

Bagian mana yang sungguh berkesan di hari itu? Mungkin peserta yang lain merasa senang di sesi pelatihan pembuatan komik. Tapi aku tidak demikian. Hal yang sangat melekat di pikiranku sampai sekarang adalah sesi perkenalan dan sepak terjang IGI yang disampaikan oleh pak Mahrani.

Segala hal yang beliau jelaskan tentang IGI membawaku pada sebuah kesimpulan. Spirit kami (Aku dan IGI) kurang lebih sama. Aku sangat mendukung siapapun yang giat mengembangkan diri sesuai minatnya. Begitu juga dengan IGI dan TOC yang geliatnya sangat kuat memfasilitasi guru-guru meningkatkan kapasitas diri sesuai kompetensinya masing-masing. Sepintas, di saat perkenalan, IGI memiliki kanal-kanal pengembangan diri yang dapat dimasuki oleh para guru sesuai kapasitasnya.

Sangat tidak memaksa namun mendidik dengan bijak. Barangkali, kalimat itu yang sesuai untuk mewakili eksistensi IGI hingga sekarang.  Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi selain bertemu sebuah forum atau komunitas yang memiliki jiwa dan spirit yang sama.

Harapanku, IGI tetap eksis hingga nanti. Mampu mengubah wajah pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Tidak ada pelajar yang bosan belajar. Tidak ada pemaksaan jurusan bagi siswa. Justru keberadaan mereka di kelas adalah refleksi pilihan sadar dan kapasitas yang sudah ada dan tinggal diasah. Impian jangka panjangnya, mereka menjadi generasi mumpuni di bidang masing-masing saat di dunia kerja tanpa mengabaikan wawasan yang penting untuk menopang karirnya.

Impian dan harapan setinggi itu, membuatku berubah pikiran. Aku tidak ingin menjadi guru. Tapi aku ingin menjadi lebih dari ekspektasi yang pernah kuungkapkan tentang guru. Sosok yang hanya berdiri dengan papan tulis, kapur dan spidolnya.

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here