AH… SEMOGA

0
143

Oleh: Mampuono
#menemubaling

Pagi tadi ketika membuka grup telegram “IGI Seluruh Indonesia” alis saya langsung mengkerut. Itu karena saya membaca sebuah postingan yang tidak selayaknya dilakukan oleh seorang guru yang mengaku sudah menjadi bagian dari komunitas IGI. Postingan tersebut saya kutip di sini dengan merahasiakan nama pemiliknya. Postingan tersebut saya berikan jawaban yang mungkin menohok perasaan beberapa guru yang tidak sepaham.

 

S*la**t H***m, [18.07.17 06:28]
Bantu Doa…..:
Bsok tgl 21, 22, 23 Juli 2017 ada Rakernas P*** di JEC Yogyakarta, direncanakan Presiden Jokowi akan hadir. Wacana penghapusan UKG masuk dlm agenda P*** yg akan dibahas bsok dg pihak pemerintah. P*** jg akan nagih perintah Presiden Jokowi pda HUT P*** di Sentul Bogor th kmaren. Presiden sdh memerintahkan pda Mendiknas agar guru JANGAN DIBEBANI ADMINISTRASI YG RUMIT DAN BERAT.
Teman2 smua ga usah takut dg proyek UKG. UKG bukan persyaratan utk dpet TPG ato tidak. Sperti tahun2 sebelumnya UKG tdk ada follow up nya. Ini proyek insidental di Direktorat GTK. TPG adalah amanat UU Guru bukan ditentukan okeh lulus tdk lulusnya seorang guru dri UKG. Kita sdh lulus uji kompetensi sbagai guru ketika belajar di LPTK dulu. Kita sdh punya SIM mengajar resmi, bukan hanya selembar sertifikat yg diperoleh dri UKG yg hanya 100 menit. Kita rapatkan barisan, bersama P*** pasti bisa. Insya Alloh.

R***i G***ri***ti, [18.07.17 06:35]
[In reply to S*la**t H***m]
Amin

Del**** M. T*l***b***a, [18.07.17 06:50]
[In reply to S*la**t H***m]
Yes P*** …!, Aminn

 

Mampuono The RUNNER, [18.07.17 07:28]
[In reply to S*la**t H***m]
Berarti yang dilakukan oleh para guru Singapura, Vietnam, Jepang, Korea Selatan, Cina, Finlan, dan lain-lain yang selalu belajar lagi untuk professional development itu sia-sia saja ya mas?! Berarti melonjaknya tingkat literasi anak-anak Vietnam ke level 10 besar dunia karena kerja keras guru, sekolah, dan ortu siswa itu tak berguna ya? Berarti terpuruknya tingkat literasi (baca: Kepandaian) anak-anak kita di tingkat dunia itu tidak apa-apa ya? Berarti peran guru yang berdasarkan penelitian 30%-nya menyebabkan murid berhasil satu justeru gagal itu tidak ada artinya apa-apa ya? Berarti guru-guru yang sudah mulai tergerak mindsetnya untuk memperbesar zona kenyamanan, bahwa kebahagiaan itu bukan saja keberhasilan pendidikan anak-anak dan keluarganya menjadi keberhasilan anak-anak, keluarga, dan seluruh anak didiknya itu mubazir ya? UKG tidak perlu karena itu projek dan pada saat di LPTK guru sudah digodog di kawah candra dimuka dan siap terjun dan terus menjadi pintar selamanya ya?

“Kita sdh lulus uji kompetensi sbagai guru ketika belajar di LPTK dulu.” Hmm… betapa luar biasanya racun pemikiran semacam ini. Seandainya sampeyan pernah mengalami apa yang saya alami. HARUSNYA Anda menangis dalam hati dan berontak terhadap keadaan saat ini. Bertemu dengan anak-anak kita di luar negeri yang menjadi, maaf, BABU dan JONGOS, di Singapura, Hongkong, Dubai, atau Arab Saudi, dan kita hanya bisa berdiam diri menyaksikan nasib yang mereka alami. Tingkah norak mereka karena kurang literate, unggah-ungguh yang tidak ada karena kompetensi sikap yang terkikis, enjoy saja terjebak dalam gaya hidup sex bebas, LGBT, narkoba, prostitusi, dan dengan mudah diakali sehingga kehidupannya terombang ambing kesana kemari… HATI INI MENJERIT, MENANGIS!!! BETAPA MEREKA YANG SEHARUSNYA BISA DUDUK SAMA RENDAH DAN BERDIRI SAMA TINGGI DENGAN GENERASI BANGSA LAIN, ternyata hanya menjadi pesuruh, bahkan hampir setara BUDAK, hanya karena LITERASI, kepandaian, atau kompetensi mereka yang rendah akibat TIDAK BANYAK GURU DAN ANAK BANGSA INI YANG PEDULI!!! BETAPA NAIFNYA ketika guru- guru negara maju yang generasinya sudah unggul saja masih terus belajar dan meningkatkan keprofesian secara berkelanjutan, sedangkan kita, mau diuji kesiapan dan kompetensinya dalam mengajar, justeru banyak sekali dalih yang keluar. Mau diajak lebih meningkat lagi profesionalitasnya dengan terus berhadapan dengan hal-hal yang baru dalam belajar, mereka menolak dengan alasan bikin repot saja karena merasa sudah pintar.

Mampuono The RUNNER, [18.07.17 07:31]
Ada lagi guru-guru yang menjadi bangga dan berpuas diri ketika anak-anak didiknya dikirim ke luar negeri dan “hanya” menjadi para PEKERJA PABRIK. Gaji mereka bisa tiga atau empat kali gaji gurunya. Mereka bisa menghajikan orang tuanya, menyekolahkan adik-adiknya, membeli lahan garapan dan sebagainya. Konon mereka menjadi orang sukses di luar negeri Karena pembandingnya adalah para buruh pabrik dan petani dengan penghasilan yang sangat minim di negeri ini. Namun, saya hanya membayangkan, jika mereka bisa dipengaruhi pikirannya agar JANGAN BERHENTI HANYA MENJADI BURUH PABRIK SAJA SEUMUR HIDUP, tetapi bangkit dan memperbaiki kualitas diri dan kompetensinya, baik dengan pendidikan formal maupun non formal, bergabung sebagai diaspora, dsb dan berbuat lebih untuk negeri yang melahirkannya, lalu mengembangkan tindakan dan pikiran-pikiran besarnya karena inspirasi dari para guru agungnya, betapa akan sempurnanya kebanggan dan kebahagiaan kita. Mereka mungkin akan memulai meniti karir sebagi karyawan, tetapi dengan peningkatan karir signifikan. Atau, mereka akan keluar dari zona itu, kembali ke Indonesia, dan berbuat lebih untuk negerinya dengan ilmu dan pengalaman yang sudah didapatnya di negara-negara maju di luar sana.

 

Mampuono The RUNNER, [18.07.17 07:42]
Wahai, semoga Tuhan mengaruniakan Indonesia dengan guru-guru yang senantiasa siap digugu dan ditiru. Semoga mereka memilih profesi guru tidak lain karena ingin membuat bangsa ini menjadi lebih maju. Mereka mau mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, biaya, dan harta benda untuk belajar lagi dan menguasai ilmu-ilmu serta teknologi baru yang mendukung keberhasilan pembelajaran mereka di kelas dan kelak akan membawa para muridnya menjadi generasi perkasa di tingkat dunia. Bukan mereka, para hedonis yang mencari untung dan menyebabkan generasi menjadi buntung. Bukan mereka yang tidak pernah merasa berdosa, padahal memiliki andil yang besar terhadap nasib buruk yang dialami oleh generasi bangsanya di kancah dunia akibat literasi atau kepandaian yang dimiliki anak-anak yang pernah di didiknya hanyalah berada pada level dibawah Ethiopia atau sama dengan Botswana, negara-negara kecil dan terbelakang di Afrika.

Semoga Tuhan mengkaruniakan kesadaran kepada mereka yang mengaku menjadi guru, yang mendapatkan gaji dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat, dan tambahan lagi gaji dari dana sosial yang semestinya diberikan dengan harapan agar kompetensi mereka jauh meningkat, namun bagi mereka itu adalah rezeki nomplok yang datang dari langit seperti durian runtuh, agar mau bertaubat dan memperbaiki niat untuk menjadi guru yang sesungguhnya. Guru yang menjadi agen perubahan bukan guru yang menjadi korban perubahan. Guru yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepada muridnya, yaitu belajar lagi hal-hal yang baru sebagaimana yang dilakukan oleh para murid yang diajarnya, bukan guru yang jarkoni yang hanya bisa berujar tetapi tidak mau ngelakoni.

Semoga atas kehendak Tuhan guru-guru kita menyadari bahwa menjadi guru yang baik, yaitu guru yang mengajar dan menjelaskan, itu saja tidak cukup. Apalagi guru yang biasa saja, yang terbatas kemampuannya. Yang hanya bisa menyampaikan tanpa mengerti bagaimana cara menjelaskan. Semoga para guru itu menyadari bahwa jika ingin bangsa ini unggul, maka para gurunya harus menjadi unggul. Guru unggul itu mendidik, mengajar, dan menjadi contoh tentang bagaimana menjadi pintar, berbudi, bermartabat, dan sejahtera. Dan sebisa mungkin para guru Indonesia harus terus belajar agar menjadi guru yang agung (great teacher), yaitu guru yang kapanpun dan dimanapun berada, pikiran-pikirannya, perkataaan-perklataannya, dan praktek-praktek terbaiknya selalu menjadi inspirasi.

Sebaik-baik telur adalah yang cangkangnya retak dari dalam, bukan dari luar. Jika cangkang retak dari dalam, itu berarti calon burung yang berada di dalamnya telah tumbuh sempurna dan siap melihat dunia luar dan terbang mengelilingi dunia. Tetapi jika cangkang retak dari luar boleh jadi bakal burung yang ada di dalamnya akan mati. Demikian juga dengan pikiran guru yang diberi berbagai batasan oleh diri mereka sendiri dengan mindset yang perlahan-lahan terbentuk selama bertahun-tahun. Jika mindset guru tidak pernah berubah, mungkin karena teracuni oleh lingkungannya, bahkan oleh kelompok yang selama ini menaunginya, maka sudah menjadi kewajiban mereka yang mengaku sebagai IGI-ers sejati untuk menyebarkan kesadaran dan mindset baru tentang bagaimana menjadi guru yang unggul dan guru yang agung. Guru-guru yang bisa mencapai kedua level tersebut pada akhirnya Agan menebarkan keunggulan dan keagungan Indonesia yang kita cintai bersama. Ah…semoga.

 

Semarang, 18072017 07.00 WIB. Ditulis dengan metode Menemu Baling (menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga). www.igi.or.id/download.

 

Comments

comments