Artikel
18 Apr 2012 | 1
Ketidakmampuan Guru Memilih Bacaan Tepat bagi Siswa
Oleh Setiawan Agung Wibowo

KOMPAS.com - Kasus cerita rakyat 'Bang Maman dari Kali Pasir' dan 'Si Angkri' yang baru-baru ini menghebohkan dunia pendidikan kita memang bisa dibahas dari segi budaya dan pesan moral yang dinilai tidak sesuai bagi anak-anak usia 6-8 tahun. Pada kasus tersebut, sebenarnya ada masalah lain yang penting dalam dunia pendidikan kita, yaitu ketidakmampuan guru memilih bacaan tepat bagi siswa.

Berdasarkan komentar para guru yang terlibat dalam kasus itu, kedua LKS tersebut sekedar bacaan biasa dari cerita rakyat di lingkungan Jakarta. Pendapat tersebut menunjukkan, betapa minimnya pengetahuan guru terhadap bacaan bermutu dan sesuai untuk untuk anak-anak kelas 1-2 SD atau usia 6-8 tahun, apapun latar belakang budayanya.

Pada usia tersebut, kemampuan membaca anak-anak baru dalam taraf 'pembaca pemula' menuju ke awal 'pembaca menengah'. Artinya, anak-anak tersebut baru lepas dari mempelajari suara dari sistem bahasa dan mengartikan simbol-simbol teks menuju ke arah otomatisasi dalam mengartikan simbol teks tersebut. Jadi, anak-anak tersebut baru mengerti kalimat per-kalimat yang dibacanya secara susah payah. Singkatnya, baru lepas dari mengeja menuju membaca dengan lancar.

Dengan kemampuan tersebut, maka pemahaman siswa terhadap bacaan masih sepotong-sepotong, belum utuh layaknya pembaca mahir yang mampu memahami bacaan secara baik. Belum lagi masalah kosa kata yang ada dalam cerita tersebut, yang tentu saja bukan untuk konsumsi anak-anak.

Dengan demikian, mengharapkan siswa untuk bisa memahami pesan moral dari "cerita dewasa" pada isi LKS tersebut adalah hal yang amat mustahil. Yang mungkin bisa terjadi adalah, anak menghafal beberapa kata dan istilah di dalam cerita tersebut dan memahaminya dengan caranya sendiri, yang mungkin output-nya tidak kita harapkan.

Istilah "istri simpanan", "harta warisan", dan "bercerai" yang ada dalam cerita 'Bang Maman dari Kali Pasir' merupakan kosa kata dewasa yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Itu bukan kosa kata untuk anak-anak.

Tampaknya, ada kebutuhan mendesak untuk memberikan pelatihan ulang kepada para guru sekolah dasar dalam hal pengetahuan tentang buku yang sesuai dengan taraf perkembangan anak dan proses membaca untuk pemahaman menuju literasi bahasa. Dengan begitu, para guru ini tidak hanya menjadi konsumen akhir yang tidak mengerti apa-apa mengenai buku atau bacaan untuk para siswanya.

Saat ini, yang dibutuhkan adalah kemampuan dan kapasitas guru dalam bidang literasi bahasa. Ini menjadi penting, karena karena para gurulah yang bersinggungan langsung dengan buku dan siswa. Dengan demikian, guru memilih dan menentukan bacaan mana yang menunjang serta mendukung perkembangan literasi siswa sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitif dan psikologis siswa.

(Penulis adalah Ketua Bidang Peningkatan Mutu Pendidikan di Ikatan Guru Indonesia/IGI Pusat) 
Kompas.com, 17 April 2012
Komentar Siti Nur Hasanah | 25 Apr 2012 01:32 pm
Setuju Pak Agung...smile
Name:
E-mail: (optional)
Smile: smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

Telkom Indonesia
Tabloid KGI
21 Jan 2011 | dibaca 2

igimedia-1.zip 6.3Mb Jumlah download: 1751
GALERI
01 Apr 2014 | dibaca 0

Rabu, 26 Maret IGI Cabang Aceh Timur resmi di lantik. Acara yang dibarengkan dengan seminar tentang "Best Practise Guru" ini berlangsung meriah. Bertempat di aula SMKN 1 Peureulak, Aceh Timur.
DAFTAR MAILING LIST
Subscribe to ikatanguruindonesia

Powered by us.groups.yahoo.com